Pages

Wednesday, December 21, 2011

Teacher = Public Relations.

Huwaaa.. apparently my last post was on 1st August. It's been a while since my last writing. yeah, I'm not a good blogger i guess.. XD. Many things happened in my life, but not all of it updated in my blog. Here just the (almost) most recent thing about me....
****

"Miss..miss..help me", "What is this Miss?", "I can't do it Miss, please help me".
Setiap panggilan "Miss" itu dialamatkan padaku. Teriakan dan seruan itu yang sekarang tiap hari kudengar. Suara-suara riuh dan celotehan khas anak kecil membuat hariku semakin meriah. Anak-anak berusia dibawah enam tahun pun saat ini menjadi "klien" ku. Yap, setelah melalui berbagai cerita sebelum dan sesudah lulus kuliah, beberapa pengalaman berkarya dijalani, saat ini aku menyandang status sebagai guru taman kanak-kanak di sebuah sekolah Kristiani berlabel nasional plus. "Pahlawan tanpa tanda jasa" dan "pengabdian" mungkin itu beberapa kata yang terlintas di benak beberapa orang saat mendengar profesi guru.

Kalo ada yang tanya, "Gimana ceritanya jadi guru?", mungkin kita perlu mundur kebelakang lagi.. menuju bertahun-tahun silam saat aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak hingga Sekolah Dasar.
***

Dulu waktu tiba pertanyaan favorit guru-guru (dan umumnya dipakai di iklan-iklan yang memasang sosok guru), yaitu "nanti kalo sudah besar mau jadi apa?". tidak pernah terlintas di pikiranku untuk menyebut "dokter", "presiden", "arsitek". entah mungkin sejak kecil aku sadar bahwa menggambar bukan bidangku, dan hal-hal yang berbau obat-obatan juga bukan favoritku, aku memilih menyebut "Guru". Bahkan memikirkan pekerjaan yang khas perempuan, yaitu pramugari, pun tidak.
kenapa guru? entahlah. Sejauh yang aku bisa ingat, mungkin dulu aku melihat sosok guru sebagai orang yang sangat pintar. Ia tahu serta mengerti berbagai hal, dan berkuasa hahahhahaha.. berkuasa? iya, sekalipun ia bukan orang tua kami para murid, tapi ia boleh marah-marah dan mengatur kami. Apalagi kalo dia udah pakai bolpoin merahnya. Maka sosok guru seperti Harry Potter bersama tongkat ajaibnya. Bolpoin nmerahnya menari indah di atas setiap kertas pekerjaan yang susah payah dikerjakan oleh murid-muridnya, dicoret-coret dan Taaraaa.. muncullah nilai-nilai kami. hihihihihi.. dan yang paling mengasyikkan: terus berkumpul bersama anak-anak kecil! yah demikianlah di mataku, sebagai anak kecil. Impian menjadi guru ternyata bertahan hingga aku memasuki usia SMP mungkin, dan sejak dahulu aku juga memikirkan kalaupun ternyata aku menjadi guru, aku ingin menjadi guru TK aja. Kenapa? alasannya: "Soalnya pelajaran SD susah, lebih gampang pelajaran TK. kalo ngajarin pelajaran SD, SMP, atau SMP harus susah-susah belajar lagi"

Memasuki pertengahan SMP hingga SMA, aku mulai tahu ada satu profesi yang mengasyikkan : Public Relations. kenapa menarik? because in simple way, i see that vocation is dynamic, and allows me to meet, build and maintain relations with new people. Pemikiran-pemikiran ini yang akhirnya sukses mengantarkanku untuk memilih Jurusan Ilmu Komunikasi di bangku perkuliahan.
Banyak dan susahnya ilmu yang kudapat tentang Public Relations (PR) tidak menyurutkan bayanganku untuk menjadi seorang wanita karir yang berprofesi sebagai PR. Apalagi kalo lihat penampilan & aktifitas para praktisi PR, which is soooo professional, attractive, smart, dynamic. WHoooaaa!!

Each of us, has our own dreams and passions. Dream: comes from our idealistic mind. Passion: comes from our deepest heart. Now, here comes what we call as dilemma . It is when our dreams and passions have their own ways, and we have to decide which one will we go for.

As i graduated, and as i stated above that many things happened, there was a time when I read job offer as a teacher in a school. at that time, i chose to go along with my heart. My passion is "i can do something valuable for children, work with them, and prepare them for brighter future". So what can i do to accomplish my passion? being a teacher is one of the solutions ;)

maybe some people said , "hey, what the used of what you learned at college with what you do now?", "being PR and teacher are very much different from each other, how do you deal with that?".
now I'm saying say : PR and teacher, there are not much differences between them. why? here are some reasons:

1. Knowledge based. How we can say and teach things if we don't know a single thing =)

2. All about image and reputation. as what i've been taught in college, PR is about Image and Reputation. Image: what we show forward, reputation: what people see about us. As a teacher sure i have to watch carefully at my attitude. What i say, what i do, what i watch and see. in short term: be a good example for my students and their parents. =)

3. Know who the publics are. as i learned, PR should recognize who his/her publics are. The primary one, secondary, and so on, because it determined how we treat them. yeah, i thought my primary public was my students, but then i realized that before students, i have to deal with the parents first. Yeah, as the law in PR said: Influence The Decision Maker. In this case, sure the parents are the decision makers. Win their hearts first. How to do it? by giving our best to the children with our heart. ^^

4. Build and maintain relationship between company and public, become the communication technician. it's clear that teacher as one of "front-liners" for the school. Meet the parents, listen to their inputs, embrace their critics, and also stand as behalf of the school.

5. Event Management. Event is one of PR's tools for promoting and campaigning. So, it's important to manage the event from the very beginning until the very last. From planning, until the evaluation. As teachers, sure we deal with so many events for the children, for instance Independence Day, Christmas, etc. In planning, we should think : For whom? What's the objective? and all the preparation.

well, those were just few similarities of PR and Teacher that crossed my mind this time. So in my opinion, now can choose both my dreams and passion =) Once, my best friend said to me, "among us, only you who can finally fulfill your childhood's dream-job. you said you wanted be a kindergarten teacher, now you are!".

if you ask me "how long will you be a teacher?" my answer would be: "I don't know". who can tell what tomorrow brings, but all i know i will always want to do many things for the children thru many ways.

Monday, August 8, 2011

"Papa pasti dateng kok.."

Suatu malam di hari Minggu, karena kebutuhan yang mendesak dan tiba-tiba, akhirnya aku harus segera pergi ke toko buku rohani. Kepalaku langsung tertuju ke toko buku rohani yang ada di gereja tidak jauh dari rumahku. Kulihat jam di rumah, sudah menunjukkan pukul 8 malam.
“Masih buka nggak ya?” pikirku.
Seingatku, ibadah terakhir di gereja tersebut sudah selesai sekitar satu jam yang lalu, jangan-jangan toko buku pun tutup seiring dengan selesainya ibadah di sana. Dengan terburu-buru aku pergi ke gereja tersebut, dan sekitar lima menit kemudian aku sudah memasuki pintu gerbang gereja. Lampu – lampu di dalamnya tampak sudah mulai padam, hanya beberapa bagian yang masih menyala. Suasana juga tampak sangat lengang, mengingat ibadah terakhir sudah selesai cukup lama.
Aku segera bergegas menuju ke toko buku di dalamnya,
“Lampu di dalem toko buku masih nyala sih, tapi jangan pegai di dalem udah siap-siap pulang”, kataku dalam hati.
Saat aku memasuki toko buku, aku pun harus menelan rasa kecewa, karena ternyata toko bukunya sudah tutup. Pegawai di dalam sedang bersiap-siap untuk pulang. Akhirnya aku pun menuju mobilku yang terparkir di depan toko buku. Di sebelah mobil, ada bocah laki-laki. Dilihat dari postur tubuhnya, aku menebak ia masih dalam usia Sekolah Dasar. Dengan membawa Alkitab, dia berdiri sendirian di tempat parkir yang mulai gelap. Suasana di tempat parkir juga mulai beranjak sepi, hanya tampak beberapa pegawai yang memasukkan barang-barang ke dalam mobil, berkemas untuk segera pulang.
“Dik, pulang sama siapa?” tanyaku pada bocah tersebut dari dalam mobil.
“sama papa”, jawabnya sopan.
“sudah telepon?”
“belom”.
Pikirku dalam hati “lhaaa.. terus gimana kalo nggak ditelepon?”
Tak lama bocah itu menambahkan, “tapi biasanya papa jemput kok,”
“rumahnya di mana, Dik?” tanyaku, yang kemudian dijawab bocah tersebut dengan menyebutkan daerah yang tidak jauh dari gereja.
“adik tau nomer HP nya papa?” pikirku, siapa tau aku bisa menghubungi ayah anak itu untuk bertanya keberadaannya, atau aku mengantarkan anak itu ke rumahnya jadi sang ayah tidak perlu menjemputnya.
“Nggak tau, nggak hafal” jawabnya.
“kalo telepon rumah, hafal?” tanyaku lagi.
“enggak ada. Adanya Cuma HP, tapi juga nggak hafal,” jawabnya polos.
Akhirnya karena aku diburu waktu, dan aku tidak tahu kemana harus menghubungi keluarga bocah tersebut, aku pun beranjak pergi. Aku berpikir di sana masih ada beberapa orang, dan satpam juga masih ada. Lalu akupun pergi.
***

Sesaat aku berpikir, mungkin demikianlah arti dari iman dan pengharapan. Di saat situasi semakin sulit, kita semakin sadar bahwa kita sendirian, namun kita berani berkata bahwa “Tuhan pasti tolong kita kok”. Kita tetap percaya bahwa sekalipun tampaknya kita sendirian, tapi bukan berarti Ia meninggalkan kita. Bahkan dari cerita bocah lelaki tersebut, ia sangat percaya pada ayahnya bahwa ayahnya sedang dalam persiapan atau sedang dalam perjalanan untuk menjemput dia, padahal ia tidak dapat menghubungi orangtuanya. Bukankah kita 24 jam terhubung dengan Bapa kita? =)



Monday, March 14, 2011

“Pemimpin” atau Pemimpin


Saat di eskalator, di sebelah saya berdiri seorang ayah menggendong seorang anak laki-lakinya. Menurut prediksi saya, usia anak lelaki tersebut tidak lebih dari lima tahun. Ia menangis dan sesekali meronta dalam gendongan ayahnya. Beberapa kali ibunya, yang berdiri di belakang ayahnya, berusaha mendiamkan anak itu, namun tidak berhasil. Akhirnya sampailah di ujung eskalator. Selepas dari eskalator, sang ayah menurunkan anaknya dari gendongan dan anak itu merajuk minta diizinkan terus bermain. Ternyata itu sebabnya.

Ini mengingatkan kembali pada masa kecil saya, yang mungkin tidak jauh berbeda dari anak kecil lainnya. Resep jitu agar keinginan dapat tercapai adalah dengan tangisan dan rengekan, niscaya orangtua akan berusaha memenuhi keinginan saya. Rasa puas karena merasa menang pun memenuhi hati.

Saya berhasil mempengaruhi orangtua saya agar menuruti saya, tetapi apakah itu menandakan saya adalah pemimpin mereka? Tidak. Mereka hanya menuruti sementara keinginan saya, daripada saya terus mengeluh dan menuntut. Mereka hanya menunggu saat yang tepat untuk memberi saya pemahaman tentang apa dan mengapa sesuatu dikatakan boleh atau tidak untuk dilakukan.

Merekalah pemimpin saya. Bagi saya, mereka memiliki dua kata kunci dari pemimpin, yaitu pengaruh dan berfungsi. Dari waktu ke waktu, mereka menjalankan fungsi mereka sebagai orang tua untuk memberikan pemahaman, pengetahuan, pengarahan, hingga akhirnya semuanya itu memengaruhi kehidupan saya. Ya, kepemimpinan bukan mengenai siapa kita, apa jabatan kita sehingga harus dituruti oleh orang, atau usia kita, tetapi pengaruh apa yang bisa kita berikan bagi kehidupan orang lain serta bagaimana kita berfungsi.

Bangkitnya pemimpin, inilah yang menjadi visi Saints Movement Community Church (SMCC) pada tahun 2011. Ada tindakan dan usaha yang diperlukan untuk bangkit. Sekalipun bukan hal mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Be Ready Guys (*)

Salam,

Natasha Benita

*dimuat di Progress News
edisi Maret 2011

Sunday, February 20, 2011

Untukku, Untukmu Juga =)


Piala Best Worker untuk departemen warta bisa jadi dialamatkan untuk aku, namun penghargaan seutuhnya ku persembahkan bagi rekan-rekan Progress News. Semua kerja keras, semua pengetahuan yang dibagi, seluruh pembelajaran yang baru, itu semua yang membuat piala ini boleh ada saat ini. Terima Kasih Tuhan Yesus atas tim yang luar biasa. Terima kasih kepada penatua dan seluruh jajaran kepemimpinan SMCC. Terima kasih untuk Jefri Theresna, atas bimbingannya selama ini, untuk masukan yang sangat berarti dalam setiap tulisan yang aku buat. Terima Kasih untuk semua kontributor yang sudah “menghidupkan” Progress News.
Terima kasih untuk Sicilia Liangkey sebagai Pimpinan Redaksi, dan rekan-rekan lain yaitu Fransiska, Licke, Elizabeth Devi, Eddy, Sienny, Indawati, Andi Wibowo untuk semua bantuan dan kepercayaan yang diberikan untuk aku boleh jadi Chief Editor. Kerja keras temen-temen, setelah pulang kerja kadang harus begadang sampai tengah malam untuk mengerjakan warta, sungguh luar biasa. Terima kasih atas kepercayaan dan dorongan buat aku untuk terus menulis, walaupun dengan topik yang kadang membuat ingin “joget” =p. Untuk membuat satu tulisan, kadang harus ngelamun dulu berhari-hari. Overall, it’s all worth fighting for.. keep on moving, keep on rocking!

Sunday, January 30, 2011

Cerita di Balik Kursi Berkaki Empat


Tulisan ini dipersembahkan untuk Saints Movement Community Church (SMCC) yang berulang tahun yang keempat pada akhir November 2010. Tulisan ini dimuat di warta SMCC yang terbit pada bulan Desember, di halaman Editorial. Enjoy...


***

Di suatu siang, saya dan ayah makan siang bersama. Saat itu papa, demikian saya memanggilnya, menyempatkan diri untuk pulang ke rumah di sela-sela pekerjaannya untuk makan siang bersama saya. Sesampainya papa di rumah, saya pun bergegas menuju meja makan, mengambilkan papa nasi, setelah itu baru mengisi piring saya dengan nasi. Sambil makan siang, kami berbincang mengenai gadget MP3. Ya, kami berdua memang sama – sama penggemar barang – barang elektronik seperti MP3, handphone, dan gadget lainnya. Keakraban, saling melayani, dan berbagi, semuanya terjadi saat kami duduk di kursi makan sambil menyantap hidangan kami.
Kursi makan saya bukanlah kursi yang mewah. Hanya sebuah kursi sederhana berkaki empat dan tidak ada yang istimewa dari modelnya. Dilihat dari usianya, kursi dan meja makan itu telah menemani keluarga saya lebih dari 10 tahun. Namun di sanalah biasanya kami duduk, berbincang, tertawa bersama menghabiskan makanan kami sambil merayakan natal, ulang tahun, dan berbagai perayaan lainnya. Kursi sederhana yang menyatukan keluarga besar saya.
Jumlah kaki kursi sederhana saya, sama dengan usia Saints Movement Community Church (SMCC) saat ini. SMCC dapat berdiri hingga kaki (atau usia) yang keempat tentu bukan hanya karena satu orang, namun karena adanya kerjasama. Kita semua sebagai bagian dari keempat “kaki” SMCC harus bertumbuh, dan menjadi kuat bersama. Tidak mungkin sebuah kursi dapat berdiri tegak bila salah satu kakinya lebih pendek, atau tidak sekuat kaki yang lainnya. Tidak peduli berapapun jumlah kaki pada kursi tersebut, tetap ia tidak akan berdiri tegak dan berfungsi maksimal, begitu pula dengan SMCC. Berapapun usia SMCC, tetap kurang dapat maksimal berkarya bila kita tidak saling menguatkan satu sama lain untuk bertumbuh bersama.
Semoga di usia yang keempat, SMCC dapat tetap berdiri dan menjadi saluran berkat bagi lingkungan sekitarnya, dan menerapkan arti dari kasih, melayani, dan berbagi, sama seperti saat kita saling berbagi dan melayani pada saat makan. Happy Birthday SMCC! God Bless You

Warm Regards,
Natasha Benita

Monday, December 13, 2010

Yes, i'm still here! fiuuh...

last Saturday, Dec 11th 2010.

i was sitting alone on a bench, in my ex-college. i was helping to be an exam-guard (i couldn't find any better term, any suggestion?)
i was alone, like really-really alone, while some students with their friends discussing about the last or the upcoming test.

the weather wasn't nice at all. The sky was completely dark and soooo windy. My bench, was in front of wooden-covered-with-glass announcement boards. the wind blowed so hard, until the glasses, which covered the announcement boards, were shaken by the wind. well, the bench where i was sitting on, was on semi-outdoor spot. that explain how the wind could hit those announcement boards directly. These announcement-boards was about 1 meter height and 2 meters length, i guess. Hung on a big wall.

i didn't know what was in my mind. One thing that popped-up in my head was "i want to move to another place, looking for some friends who i might find while waiting for the next exam-time". Then i stood, and walked by.

not until a half minute after i left my bench, suddenly i heard "praaang.."
the sound came from the place where i previously sat on. i made a quick walk back to that place, and i saw little pieces of glass scattered around the bench.

One of the glasses-which covered the announcement-boards- fell of the board and hitted the bench where was sat by me. it shattered.
WHAAT.. what if i didn't move at all? what if was still on that bench few seconds ago?

that glass might hit me directly (as in Final Destination Movie), or maybe those little pieces of glass hitted me then i got a few stitches?
i didn't know and, i guess, i didn't need to figure that out. All i know, HIS hands always save me, and YES, I'M STILL HERE!

Tuesday, November 23, 2010

Senang-Senang Panjat pinang



Agustus dataang..mari sama-sama kita bilang “Dirgahayu Indonesia” yang ke-65. Ritual tiap tahun, biasanya ada acara Agustus-an, baik di kantor-kantor, sekolah, sampai di perumahan. Daftar lomba tiap tahun juga hampir bisa ditebak. Biasanya ada lomba makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, pindah kelereng pake sendok, terus ‘nggak lupa lomba panjat pinang.

Umumnya kita memahami lomba Agustus-an mengingatkan kita tentang gotong royong, kerja sama, tapi yang kita perlu ingat juga kalo ada arti saling melayani. Kita ambil contoh panjat pinang. Satu tim lebih dari lima orang, tu pinang dikasi’ minyak supaya susah dipanjat, terus ‘nggak tau gimana caranya mereka saling menginjak satu sama lain buat angkat temennya supaya bisa sampai atas. Dari badan yang dipanjat, bahu yang diinjak, sampai akhirnya muka temen satu tim juga nggak luput dari telapak kaki yang lain. Padahal kalo’ dilihat, hadiah di atas juga bukan hadiah yang mahal dan ga’ mungkin dibagi orang banyak. Misal, sepeda. ‘Gimana caranya satu sepeda dibagi orang satu tim? Mungkin mereka buat jadwal untuk gantian pake’ kali ya.

Bayangin aja, muka yang biasa dijaga luar biasa, dari panas, terus juga kita rawat baik-baik, kalo udah di lomba panjat pinang, dengan rela hati diinjak-injak temen supaya menang. Kotor, panas, bau, udah ga’ pengaruh lagi..maju teruuss. Coba bayangkan, apa yang bisa kita hasilkan kalo’ prinsip kaya’ gini kita pake’ di kehidupan sehari-hari? Bukan kita yang utama, tapi bagaimana kita bekerja sama dengan sekeliling kita, untuk menjadikan segala sesuatu lebih baik. Bukan hanya mengkritisi banyak hal tentang negara kita dengan kata-kata yang pedas, tapi mulai dari hal-hal kecil. Jalankan peran yang dipercayakan pada kita, mulai tugas sebagai anak, murid, mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga, kepala rumah tangga tanpa berpusat pada diri sendiri, namun karena memiliki tekad untuk memberikan yang terbaik dari yang kita bisa lakukan.
To serve is a whole life learning process. So as long as we live, there are no words “too late” to learn and… Don’t wait until it’s too late

Sweet Regards,
Natasha Benita

*dimuat di :
Progress News, Warta Saints Movement Community Church
Halaman Editorial, September 2010