Pages

Monday, October 29, 2012

A Teaspoon of Happiness #2



Aku dan papa sedang duduk di sebuah pujasera di sebuah mall. Kami perlu bertemu dengan seseorang dari manajemen mall ini terkait sebuah pekerjaan. Jam menunjukkan jam makan siang telah usai, namun orang yang kami cari sedang keluar ruangan dan belum tiba di kantor dikarenakan ada urusan mendadak lainnya yang harus diselesaikan. Itu sebabnya papa dan aku memutuskan untuk menunggu di pujasera sambil membeli sedikit jajanan.
Tampak seorang pemuda berpakaian kemeja putih, celana hitam kain, sepatu pantofel hitam, berambut cepak, dan mengenakan tas ransel. Ia memilih meja kosong yang pas bersebelahan dengan mejaku. Terdapat empat kursi kosong yang duduk berhadapan. Ia duduk di kursi yang posisinya serong denganku, dan meletakkan tas ranselnya di kursi kosong di sebelahnya.
Dari caranya menghempaskan diri ke kursi, dan raut wajahnya, tampak ia sangat lapar dan kelelahan. Tidak berapa lama, ia tampak berusaha mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya. Ia mengeluarkan dua kantong plastik berwarna hitam dan biru bening. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam kantong plastik hitam, namun dalam palstik biru bening tampak jelas sebuah kotak makan yang penuh terisi.
Kukira ia akan segera menyantap bekal yang ia bawa. Ternyata hal yang ia lakukan adalah meletakkan plastik-plastik itu di hadapannya, lalu ia memejamkan matanya dan melipat tangannya. Ia ternyata berdoa sebelum makan, setelah itu ia segera menyantap bekalnya.
“hayo gitu kira-kira yang masak, terus bawain bekalnya siapa ya? Mamanya? Atau mungkin udah punya istri?” ujar papa padaku dengan usil, sebab kelihatan kalau bekalnya sangat lengkap isinya, dan terbungkus rapi. Susah membayangkan seorang pria menyiapkan segala itu semua sendiri. Dilihat dari usia, ia tampak sangat muda. Mungkin baru satu atau dua tahun lulus kuliah, dan tampaknya seperti pemuda lajang yang masih merintis karir.
“wah.. nggak tau ya pa” jawabku sambil ketawa kecil. Tapi satu hal yang aku tahu pasti: mungkin makanan yang ia bawa bukanlah makanan dari restoran mahal, dengan rasa seperti masakan koki terkenal,  namun tampak bahwa bekal dari rumah itu bermakna sebuah perhatian dan kehangatan sebuah keluarga. Itu yang membuatnya lebih nikmat dan terasa mahal. 

No comments: