Pages

Monday, August 8, 2011

"Papa pasti dateng kok.."

Suatu malam di hari Minggu, karena kebutuhan yang mendesak dan tiba-tiba, akhirnya aku harus segera pergi ke toko buku rohani. Kepalaku langsung tertuju ke toko buku rohani yang ada di gereja tidak jauh dari rumahku. Kulihat jam di rumah, sudah menunjukkan pukul 8 malam.
“Masih buka nggak ya?” pikirku.
Seingatku, ibadah terakhir di gereja tersebut sudah selesai sekitar satu jam yang lalu, jangan-jangan toko buku pun tutup seiring dengan selesainya ibadah di sana. Dengan terburu-buru aku pergi ke gereja tersebut, dan sekitar lima menit kemudian aku sudah memasuki pintu gerbang gereja. Lampu – lampu di dalamnya tampak sudah mulai padam, hanya beberapa bagian yang masih menyala. Suasana juga tampak sangat lengang, mengingat ibadah terakhir sudah selesai cukup lama.
Aku segera bergegas menuju ke toko buku di dalamnya,
“Lampu di dalem toko buku masih nyala sih, tapi jangan pegai di dalem udah siap-siap pulang”, kataku dalam hati.
Saat aku memasuki toko buku, aku pun harus menelan rasa kecewa, karena ternyata toko bukunya sudah tutup. Pegawai di dalam sedang bersiap-siap untuk pulang. Akhirnya aku pun menuju mobilku yang terparkir di depan toko buku. Di sebelah mobil, ada bocah laki-laki. Dilihat dari postur tubuhnya, aku menebak ia masih dalam usia Sekolah Dasar. Dengan membawa Alkitab, dia berdiri sendirian di tempat parkir yang mulai gelap. Suasana di tempat parkir juga mulai beranjak sepi, hanya tampak beberapa pegawai yang memasukkan barang-barang ke dalam mobil, berkemas untuk segera pulang.
“Dik, pulang sama siapa?” tanyaku pada bocah tersebut dari dalam mobil.
“sama papa”, jawabnya sopan.
“sudah telepon?”
“belom”.
Pikirku dalam hati “lhaaa.. terus gimana kalo nggak ditelepon?”
Tak lama bocah itu menambahkan, “tapi biasanya papa jemput kok,”
“rumahnya di mana, Dik?” tanyaku, yang kemudian dijawab bocah tersebut dengan menyebutkan daerah yang tidak jauh dari gereja.
“adik tau nomer HP nya papa?” pikirku, siapa tau aku bisa menghubungi ayah anak itu untuk bertanya keberadaannya, atau aku mengantarkan anak itu ke rumahnya jadi sang ayah tidak perlu menjemputnya.
“Nggak tau, nggak hafal” jawabnya.
“kalo telepon rumah, hafal?” tanyaku lagi.
“enggak ada. Adanya Cuma HP, tapi juga nggak hafal,” jawabnya polos.
Akhirnya karena aku diburu waktu, dan aku tidak tahu kemana harus menghubungi keluarga bocah tersebut, aku pun beranjak pergi. Aku berpikir di sana masih ada beberapa orang, dan satpam juga masih ada. Lalu akupun pergi.
***

Sesaat aku berpikir, mungkin demikianlah arti dari iman dan pengharapan. Di saat situasi semakin sulit, kita semakin sadar bahwa kita sendirian, namun kita berani berkata bahwa “Tuhan pasti tolong kita kok”. Kita tetap percaya bahwa sekalipun tampaknya kita sendirian, tapi bukan berarti Ia meninggalkan kita. Bahkan dari cerita bocah lelaki tersebut, ia sangat percaya pada ayahnya bahwa ayahnya sedang dalam persiapan atau sedang dalam perjalanan untuk menjemput dia, padahal ia tidak dapat menghubungi orangtuanya. Bukankah kita 24 jam terhubung dengan Bapa kita? =)



Monday, March 14, 2011

“Pemimpin” atau Pemimpin


Saat di eskalator, di sebelah saya berdiri seorang ayah menggendong seorang anak laki-lakinya. Menurut prediksi saya, usia anak lelaki tersebut tidak lebih dari lima tahun. Ia menangis dan sesekali meronta dalam gendongan ayahnya. Beberapa kali ibunya, yang berdiri di belakang ayahnya, berusaha mendiamkan anak itu, namun tidak berhasil. Akhirnya sampailah di ujung eskalator. Selepas dari eskalator, sang ayah menurunkan anaknya dari gendongan dan anak itu merajuk minta diizinkan terus bermain. Ternyata itu sebabnya.

Ini mengingatkan kembali pada masa kecil saya, yang mungkin tidak jauh berbeda dari anak kecil lainnya. Resep jitu agar keinginan dapat tercapai adalah dengan tangisan dan rengekan, niscaya orangtua akan berusaha memenuhi keinginan saya. Rasa puas karena merasa menang pun memenuhi hati.

Saya berhasil mempengaruhi orangtua saya agar menuruti saya, tetapi apakah itu menandakan saya adalah pemimpin mereka? Tidak. Mereka hanya menuruti sementara keinginan saya, daripada saya terus mengeluh dan menuntut. Mereka hanya menunggu saat yang tepat untuk memberi saya pemahaman tentang apa dan mengapa sesuatu dikatakan boleh atau tidak untuk dilakukan.

Merekalah pemimpin saya. Bagi saya, mereka memiliki dua kata kunci dari pemimpin, yaitu pengaruh dan berfungsi. Dari waktu ke waktu, mereka menjalankan fungsi mereka sebagai orang tua untuk memberikan pemahaman, pengetahuan, pengarahan, hingga akhirnya semuanya itu memengaruhi kehidupan saya. Ya, kepemimpinan bukan mengenai siapa kita, apa jabatan kita sehingga harus dituruti oleh orang, atau usia kita, tetapi pengaruh apa yang bisa kita berikan bagi kehidupan orang lain serta bagaimana kita berfungsi.

Bangkitnya pemimpin, inilah yang menjadi visi Saints Movement Community Church (SMCC) pada tahun 2011. Ada tindakan dan usaha yang diperlukan untuk bangkit. Sekalipun bukan hal mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Be Ready Guys (*)

Salam,

Natasha Benita

*dimuat di Progress News
edisi Maret 2011

Sunday, February 20, 2011

Untukku, Untukmu Juga =)


Piala Best Worker untuk departemen warta bisa jadi dialamatkan untuk aku, namun penghargaan seutuhnya ku persembahkan bagi rekan-rekan Progress News. Semua kerja keras, semua pengetahuan yang dibagi, seluruh pembelajaran yang baru, itu semua yang membuat piala ini boleh ada saat ini. Terima Kasih Tuhan Yesus atas tim yang luar biasa. Terima kasih kepada penatua dan seluruh jajaran kepemimpinan SMCC. Terima kasih untuk Jefri Theresna, atas bimbingannya selama ini, untuk masukan yang sangat berarti dalam setiap tulisan yang aku buat. Terima Kasih untuk semua kontributor yang sudah “menghidupkan” Progress News.
Terima kasih untuk Sicilia Liangkey sebagai Pimpinan Redaksi, dan rekan-rekan lain yaitu Fransiska, Licke, Elizabeth Devi, Eddy, Sienny, Indawati, Andi Wibowo untuk semua bantuan dan kepercayaan yang diberikan untuk aku boleh jadi Chief Editor. Kerja keras temen-temen, setelah pulang kerja kadang harus begadang sampai tengah malam untuk mengerjakan warta, sungguh luar biasa. Terima kasih atas kepercayaan dan dorongan buat aku untuk terus menulis, walaupun dengan topik yang kadang membuat ingin “joget” =p. Untuk membuat satu tulisan, kadang harus ngelamun dulu berhari-hari. Overall, it’s all worth fighting for.. keep on moving, keep on rocking!

Sunday, January 30, 2011

Cerita di Balik Kursi Berkaki Empat


Tulisan ini dipersembahkan untuk Saints Movement Community Church (SMCC) yang berulang tahun yang keempat pada akhir November 2010. Tulisan ini dimuat di warta SMCC yang terbit pada bulan Desember, di halaman Editorial. Enjoy...


***

Di suatu siang, saya dan ayah makan siang bersama. Saat itu papa, demikian saya memanggilnya, menyempatkan diri untuk pulang ke rumah di sela-sela pekerjaannya untuk makan siang bersama saya. Sesampainya papa di rumah, saya pun bergegas menuju meja makan, mengambilkan papa nasi, setelah itu baru mengisi piring saya dengan nasi. Sambil makan siang, kami berbincang mengenai gadget MP3. Ya, kami berdua memang sama – sama penggemar barang – barang elektronik seperti MP3, handphone, dan gadget lainnya. Keakraban, saling melayani, dan berbagi, semuanya terjadi saat kami duduk di kursi makan sambil menyantap hidangan kami.
Kursi makan saya bukanlah kursi yang mewah. Hanya sebuah kursi sederhana berkaki empat dan tidak ada yang istimewa dari modelnya. Dilihat dari usianya, kursi dan meja makan itu telah menemani keluarga saya lebih dari 10 tahun. Namun di sanalah biasanya kami duduk, berbincang, tertawa bersama menghabiskan makanan kami sambil merayakan natal, ulang tahun, dan berbagai perayaan lainnya. Kursi sederhana yang menyatukan keluarga besar saya.
Jumlah kaki kursi sederhana saya, sama dengan usia Saints Movement Community Church (SMCC) saat ini. SMCC dapat berdiri hingga kaki (atau usia) yang keempat tentu bukan hanya karena satu orang, namun karena adanya kerjasama. Kita semua sebagai bagian dari keempat “kaki” SMCC harus bertumbuh, dan menjadi kuat bersama. Tidak mungkin sebuah kursi dapat berdiri tegak bila salah satu kakinya lebih pendek, atau tidak sekuat kaki yang lainnya. Tidak peduli berapapun jumlah kaki pada kursi tersebut, tetap ia tidak akan berdiri tegak dan berfungsi maksimal, begitu pula dengan SMCC. Berapapun usia SMCC, tetap kurang dapat maksimal berkarya bila kita tidak saling menguatkan satu sama lain untuk bertumbuh bersama.
Semoga di usia yang keempat, SMCC dapat tetap berdiri dan menjadi saluran berkat bagi lingkungan sekitarnya, dan menerapkan arti dari kasih, melayani, dan berbagi, sama seperti saat kita saling berbagi dan melayani pada saat makan. Happy Birthday SMCC! God Bless You

Warm Regards,
Natasha Benita

Monday, December 13, 2010

Yes, i'm still here! fiuuh...

last Saturday, Dec 11th 2010.

i was sitting alone on a bench, in my ex-college. i was helping to be an exam-guard (i couldn't find any better term, any suggestion?)
i was alone, like really-really alone, while some students with their friends discussing about the last or the upcoming test.

the weather wasn't nice at all. The sky was completely dark and soooo windy. My bench, was in front of wooden-covered-with-glass announcement boards. the wind blowed so hard, until the glasses, which covered the announcement boards, were shaken by the wind. well, the bench where i was sitting on, was on semi-outdoor spot. that explain how the wind could hit those announcement boards directly. These announcement-boards was about 1 meter height and 2 meters length, i guess. Hung on a big wall.

i didn't know what was in my mind. One thing that popped-up in my head was "i want to move to another place, looking for some friends who i might find while waiting for the next exam-time". Then i stood, and walked by.

not until a half minute after i left my bench, suddenly i heard "praaang.."
the sound came from the place where i previously sat on. i made a quick walk back to that place, and i saw little pieces of glass scattered around the bench.

One of the glasses-which covered the announcement-boards- fell of the board and hitted the bench where was sat by me. it shattered.
WHAAT.. what if i didn't move at all? what if was still on that bench few seconds ago?

that glass might hit me directly (as in Final Destination Movie), or maybe those little pieces of glass hitted me then i got a few stitches?
i didn't know and, i guess, i didn't need to figure that out. All i know, HIS hands always save me, and YES, I'M STILL HERE!

Tuesday, November 23, 2010

Senang-Senang Panjat pinang



Agustus dataang..mari sama-sama kita bilang “Dirgahayu Indonesia” yang ke-65. Ritual tiap tahun, biasanya ada acara Agustus-an, baik di kantor-kantor, sekolah, sampai di perumahan. Daftar lomba tiap tahun juga hampir bisa ditebak. Biasanya ada lomba makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, pindah kelereng pake sendok, terus ‘nggak lupa lomba panjat pinang.

Umumnya kita memahami lomba Agustus-an mengingatkan kita tentang gotong royong, kerja sama, tapi yang kita perlu ingat juga kalo ada arti saling melayani. Kita ambil contoh panjat pinang. Satu tim lebih dari lima orang, tu pinang dikasi’ minyak supaya susah dipanjat, terus ‘nggak tau gimana caranya mereka saling menginjak satu sama lain buat angkat temennya supaya bisa sampai atas. Dari badan yang dipanjat, bahu yang diinjak, sampai akhirnya muka temen satu tim juga nggak luput dari telapak kaki yang lain. Padahal kalo’ dilihat, hadiah di atas juga bukan hadiah yang mahal dan ga’ mungkin dibagi orang banyak. Misal, sepeda. ‘Gimana caranya satu sepeda dibagi orang satu tim? Mungkin mereka buat jadwal untuk gantian pake’ kali ya.

Bayangin aja, muka yang biasa dijaga luar biasa, dari panas, terus juga kita rawat baik-baik, kalo udah di lomba panjat pinang, dengan rela hati diinjak-injak temen supaya menang. Kotor, panas, bau, udah ga’ pengaruh lagi..maju teruuss. Coba bayangkan, apa yang bisa kita hasilkan kalo’ prinsip kaya’ gini kita pake’ di kehidupan sehari-hari? Bukan kita yang utama, tapi bagaimana kita bekerja sama dengan sekeliling kita, untuk menjadikan segala sesuatu lebih baik. Bukan hanya mengkritisi banyak hal tentang negara kita dengan kata-kata yang pedas, tapi mulai dari hal-hal kecil. Jalankan peran yang dipercayakan pada kita, mulai tugas sebagai anak, murid, mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga, kepala rumah tangga tanpa berpusat pada diri sendiri, namun karena memiliki tekad untuk memberikan yang terbaik dari yang kita bisa lakukan.
To serve is a whole life learning process. So as long as we live, there are no words “too late” to learn and… Don’t wait until it’s too late

Sweet Regards,
Natasha Benita

*dimuat di :
Progress News, Warta Saints Movement Community Church
Halaman Editorial, September 2010

Tuesday, October 19, 2010

Jagalah Mata, Jangan Kau Nodai..(part deux)

Cerita sebelumnya:
Jagalah Mata, Jangan Kau Nodai..

Setelah dilakukannya operasi kecil pada mata, aku pun bergegas menuju mobil dengan satu mata dalam kondisi tertutup perban (otomatis, dengan membayar dahulu pastinya pada dokternya). Menit - menit pertama masih terasa efek mati rasa di mata. Namun setelah sepuluh menit, mulai rasa nyeri alias "cekot-cekot" muncul di mata. Efek obat mati rasa mulai hilang dari mata.. aaargh..

Selama perjalanan pulang dari dokter, tidak banyak hal yang bisa kukatakan. Di mobil aku hanya diam sambil memegangi satu mata, dan menanti saat - saat untuk tiba di rumah. Sesampainya di rumah, hal yang muncul di kepalaku hanya satu: MAKAN. karena kalau sudah makan, artinya aku bisa minum obat penghilang rasa sakit, yang juga artinya mengakhiri penderitaanku yang meringis-meringis karena sakit.

Memasuki rumah, bergegaslah aku duduk di meja makan. Membuka piring yang disusun dengan terbalik di meja makan rumah. Kejanggalan pertama terasa. Sewaktu mau mengambil makan, rasanya ada yang aneh. Aku seperti orang yang nggak fokus untuk mengambil barang. Jelas tangan kananku memegang sendok, dan tangan kiri memegang garpu, tapi rasanya aneh karena aku melihat barang seakan - akan hanya bertumpu pada mata kanan, dan terlebih lagi aku tidak bisa melihat banyak benda yang ada di sebelah kiri karena mata kiriku diperban. Bagaimanapun, aku harus segera menyelesaikan makanku, meminum obat, dan bergegas tidur.

Esok harinya, aq terbangun dengan mata yang diperban, dengan perban semalam. Rencana hari ini adalah mandi, lalu membuka perban. Haaah..menjalani waktu - waktu selama belum membuka perban ternyata tidak mudah. jadi berhubung aku sedikit nganggur di rumah, dan nggak bisa membaca banyak-banyak, untuk terlalu lama melihat laptop juga susah, akhirnya aku pun memilih untuk menghabiskan waktu dengan menggunakan kuteks untuk kuku tanganku.

Ambil kuteks, kuangkat kuas, kusapukan kuas di kuku ku. tidak ada yang susah bagiku, sekalipun harus dengan satu mata tertutup. Masalah ternyata baru timbul saat aku harus memasukkan kembali kuas kuteks ke dalam botolnya. Meleset sana sini. dibutuuhkan waktu beberapa menit untuk bisa benar - benar memasukkan kuas seutuhnya ke dalam botolnya. Kalau setiap habis memoles satu kuku, aku harus memasukkan kuas ke dalam botol, bisa dibayangkan berapa kali aku harus mencoba "memfokuskan" tanganku untuk memasukkan kuas ke dalam botol.

Tidak cukup "perang" dengan kuteks. Setiap berjalan pun tidak jarang aku menabrak sesuatu di sebelah kiriku, contohnya sofa dan kursi. Yah, memang sedikit menjengkelkan kalau tidak bisa melihat dengan utuh. Seperti biasa melihat TV dengan gambar yang penuh, tiba-tiba sekarang hanya dapet setengah gambar.

Akhirnya hari menjelang sore, aku baru memutuskan untuk membuka perbanku sendiri, dengan perkiraan bahwa luka pasca operasi sudah bisa dibiarkan tanpa penutup. Tentunya, dokterku juga sudah mengizinkan aku untuk membuka perban. Proses melepas perban tidak menyiksa sama sekali. Cepat, tidak sakit, dan mudah untuk dilakukan sendiri. Aku melihat di kaca, mataku sudah membaik, tapi masih membiru bekas injeksi dan masih ada sisa-sisa luka pasca operasi.

Masalah baru muncul saat aku mengalihkan arah mataku untuk melihat perban yang ada di genggaman tanganku. Kira - kira 30 cm di depan mataku. eaaaa.... karena nyaris 24 jam mata kiriku tertutup, sekarang waktunya mata kiri untuk "bersinkronisasi" dengan mata kanan. Untuk melihat hal-hal dalam jarak dekat, aku bisa melihat semuanya jadi dua. untuk limat menit awal, lagi-lagi aku harus sedikit nabrak-nabrak sana sini. setelah lima hingga sepuluh menit awal, akhirnya mataku pun mulai bisa menyesuaikan diri. lambat laun, akhirnya mataku bisa bekerja sama dengan baik antara yang kiri dan kanan.

***

ada yang bilang kalo mata adalah jendela hati. Bukan berarti kalo aku sakit mata, trus artinya hatiku ikutan kotor. kurang lebih, inilah jadinya saat hati kita nggak beres. mungkin karena kita tidak bisa menjaga hati kita untuk tetap terjaga bersih melalui apa yang kita lihat. Kenapa kok harus apa yang kita lihat? ya biasa, apa yang seirng kita lihat, akhirnya jadi sering nyantol di kepala, akhirnya kepikiran terus, ujung-ujungnya melahirkan sebuah tindakan.

akhirnya kita harus melalui cara yang panjang, merepotkan, menyakitkan, bahkan sampe bikin nabrak-nabrak sana sini. Buang waktu? iya. padahal jelas ada kerjaan lain yang harus dikerjakan, tapi karena "sakit" akhirnya hanya bisa berputar - putar di masalah yang sama untuk menyembuhkan diri. Buang tenaga? jelas. Buang materi? iya.

Kalau aku, menjaga mataku dengan luar biasa seperti ini, apalagi Tuhan yang jelas-jelas mengasihi kita seperti biji mata-Nya?