Pages

Showing posts with label berbagi. Show all posts
Showing posts with label berbagi. Show all posts

Thursday, February 4, 2010

Crane Paper


Dulu waktu zaman aku kecil, temen - temen cewek sukanya main origami. itu, seni melipat kertas ala jepang. Dari kertas persegi, lipet sana, lipet sini, tiba - tiba "Voila...." jadi burung, kelinci, kodok, buah strawberyy, dan lain - lain..
aku..dari kecil..sampe sekarang, minta ampun buruknya dalam hal kesenian lipat melipat. kalopun jadi, bisa asimetris kiri kanan. mau diajarin, pake kertas petunjuk, tetep aja aku nggak ngerti..bisa jadi,tapi maksa.perlu ada yang benerin.. hahaha..

****

4 Februari 2010, berdua ma temenku, kita meluncur ke rumah seorang cewek. sebut aja namanya A. umurnya lebih muda dari aku, mungkin sekitar 20 tahun. Hal yang beda adalah: aku, di sana, berdiri di sebelah tempat tidurnya. sedangkan dia, terbaring di atas tempat tidur, sambil nonton TV.
Dengan badan yang kurus dan keliatan lemah, dia menyapa ramah kami berdua. Sejak kurang lebih 5 tahun yang lalu dia dinyatakan Leukimia. Dia terbaring lemah di kamar yang berukuran sedang, ada 1 tempat tidur, 1 kipas angin yang menyala tepat menghadap ke dia, 1 televisi kecil untuk menemani hari - harinya, 1 meja + kaca, dan lemari pakaian.

di langit - langit kamar, ada beberapa bintang yang "Glow in the dark". aah aku jadi inget kamarku beberapa tahun yang lalu juga punya banyak bintang "Glow in The Dark", yang terpaksa harus dilepas karena harus pindah rumah.
Selain "Glow in The Dark", ada gantungan origami berbentuk burung bangau, digantung dengan benang, lalu ditempel ke langit - langit kamar dengan isolasi.

Dengan berat badan yang menurun drastis akibat sakit yang dideritanya, hari - hari harus dilewati A dengan terbaring lemah di kamar. Banyak hal yang mau tidak mau harus dia lakukan dengan bantuan orang lain. Berbagai macam perawatan untuk Leukimia harus dijalani, yang pastinya dengan biaya yang nggak sedikit. Untuk bisa dateng, walaupun sekedar ngobrol sedikit, tapi paling nggak aq senang bisa melihat A tersenyum bahagia dengan perhatian dari temen - temennya.

------

aq mungkin nggak bisa bikin origami bentuk burung. sekalipun aku ada kertas petunjuk pun, tetep aja aku salah. aq nggak bisa membantu menghias langit - langit kamarnya dengan origami lain.. tapi aku bersyukur, aku punya Petunjuk yang bisa mengajarkanku kasih, dan aku mau belajar untuk aq mengerjakannya.

Thx to my JC who has given me amazing family, friends, and Direction to know waht love is.

1=10

hari senin, sekitar 1 atau 2 minggu yang lalu, aku dengan semangat '45 bertekad untuk santai - santai di rumah (okee..rasanya kl ini aku ga perlu tekad '45) hihi..
bukan semabarng santai..niat dirumah adalah "bertapa", menyiapkan alat tempur untuk perang (baca: skripsi).
duduklah aq dengan manis di depan laptop, browsing internet, cr inspirasi, baca buku. percayalah, kl cuma nyari topik lewat browsing, bisa lama nemunya. soalnya tiap kali browsing, jadinya malah mampir ke situs macem - macem haha..

aku bukan orang yang suka sesuatu yang spontan. biasanya, aku udah "menjadwal" kegiatan tiap hari apa aja. yes, i'm a well-planned person. Agendaku hr itu : serius and sekuat hati nyari topik, trs sore kluar rumah untuk acara gereja. kalo temen- temen gereja bilang: komunitas.

dengan kesungguhan hati, jam - jam berlalu.. nyari topik, tetep aja kepala buntu. Dari pagi, sampe siang, astagaaa...belom ada bayangan. pas lagi mikir depan laptop (ehem..maksudnya, ngelamun sambil mikir. ato mikir sambil ngelamun?) tiba - tiba:
"centring.." HP bunyi.
Berhubung HP udah serasa nempel di tangan, aq pun cepet baca. ternyata, isinya dari temen lama, yang udah domisili di kalimantan, tepatnya Samarinda. dia ngabarin kl dia lagi di sby. ngapain? kakaknya opname di rumah sakit yang deket (banget) sama rumahku.
Dia minta tolong aku untuk dtg, sama temen2 gereja, untuk doa'in kakaknya. dia bilang secepetnya dtg aja.

pilihan di kepala:
1. bilang enggak. alasan: lagi jaga rumah / lagi sibuk cr topik / bingung hrs ngajak siapa soalnya mepet, temen2 mungkin ga bisa. jadi besok aja, jgn hr ini.
2. bilang iya. alasan: i care about you.

singkat cerita.....
dengan bantuan temen-temen gereja, taraaaa....sampailah aq di rumah sakit. berempat sama temen-temen. Kita dateng, ngobrol bentar, trs berdoa bareng buat kakak temenku.
Pulang dari sana, kita masing - masing lanjut kegiatan masing - masing. tapi kali ini ada rasa lega, seneng bisa bantu temen.

Akhirnya tekad untuk cari inspirasi dilanjutin besoknya, hari selasa.
Ternyataaaa... Selasa temenku kontak lagi, minta tolong aq untuk cari donor darah buat kakaknya. kali ini nggak pake pilihan di kepala, langsung aku pilih untuk jawab: Iya. akhirnya berenam sama temen greja, kita pun ke RS.

Hal - hal kecil, untuk membantu orang, selalu ada di sekitar kita. Antena kita bisa mendeteksi apa dan siapa yang bisa ditolong. sekarang pilihannya hanya kita mau pasang antena kita ato enggak. saat kita jawab iya, mungkin nggak butuh alasan terlalu banyak. cukup 1 alasan: karena aku peduli. karena aku sayang.
Tinggal berikutnya gimana kita menjalankannya.
mungkin saat kita menjalankannya, banyak hal yang harus dilakukan, karena memang perhatian dan kasih sayang, bukan hanya untuk diucapkan, tapi dilakukan.

cukup 1 kata "ya",diikuti dengan (mungkin) 10 tindakan.

My special thanks to:
Angga Prasetya, David Novandi, David Abednego, Hendra Gunawan, Loretha, Fransiska

Sunday, September 6, 2009

Let's Drawing with The Children


Children love to draw.. yeaah.. rasanya semua anak suka ‘gambar. Sekalipuuunnn mereka nggak hobi, tapi..pasti mereka suka coret – coret. Coba deh dikasi kertas kosong sama spidol, nggak lama pasti tuh kertas udah berisi coretan – coretan yang kita sendiri nggak tau apa itu artinya. Jangankan kertas, tembok rumah pun bisa jadi korban. That was what I did at my home when I was a child.

Saat seorang anak menggambar atau mewarnai, yang dia gambar adalah apa yang ada di kepalanya. Apa yang ada di impiannya. Apa yang dia bayangkan.. kadang warna laut yang menurut kita biru, bisa jadi merah di tangan seorang anak kecil. Well, itulah bayangan seorang anak. Tapi apakah iya semua anak punya angan dan impian seindah itu?

Suatu siang yang supeeerrr dupeer panassss (heran,kotaku tambah hari tambah paanasss), waktunya makan siang. Meluncurlaahhh aku n beberapa rekan buat lunch.. di mobil aja rasanya udah panas.. bahasa slang nya “mak nyoss

Singkat cerita, tibalah kami di sebuah resto cepat saji (alias fast food resto). Jalan dari parkiran mobil, sampe ke pintu masuk aja rasanya nggaakk karuaaann panasnya. Maklum, adanya tempat parker outdoor. Jadi yaaahh…cepet2lah kami bertiga masuk n order makanan. Fiuuhh.. di dalem asooy. Dingin..nyaman. apalagi makanannya juga menjadi penyelamat buat perut yang keroncongaann… lapaarr hebaat..

Selesai makan, waktunya buat kembali ke aktifitas semula. Keluarlah kami dr tempat makan itu, dan berjuang menahan panas dari matahari yang pas di atas ubun2 kepala. Kayaknya kalo buat jemur pakaian, 1 jam aja udah kering tu baju kalo panasnya kayak begini. Sambil berlari – lari kecil, larilah aku menuju ke mobil.

Di deket mobil, ada beberapa pohon kurus – kurus, tapi lumayan lah buat berlindung dari panas. Karena panas yang luar biasa, akupun cepet - cepet masuk ke mobil. Namun samar – samar sebelum aku menutup pintu mobil, tiba – tiba ada suara,

“ mbak, mau beli Koran?”. Sontak aku menoleh..dan aku melihat sesosok bocah laki – laki duduk di bawah bayang – bayang pohon yang berjajar. Kalo dari penampilannya, usianya sekitar baru 8 atau 9 tahun. Aq lihat di sekitarnya ada setumpuk Koran yang masih menumpuk, padahal hari sudah siang..bahkan sudah lewat dari tengah hari! Selain Koran, ada sebuah kardus yang masih berbentuk kotak utuh, namun bagian atasnya terbuka.

Hal berikutnya, aku pun menutup intu mobil. Bocah tersebut hanya memandang ke arah pintu mobil dan dia pun berhenti menawarkan Koran yang dijualnya. Beberapa detik kemudian, satu hal yang aku tahu, hal yang muncul di kepalaku adalah “berbagilah”. Sontak aku melepaskan sabuk pengaman yang sudah sempat aku pakai, dan aku pun melangkah keluar mobil. Aku berjalan ke arah bocah itu dan memberikan padanya apa yang aku bisa beri. Bagiku, bocah tersebut bukan meminta – minta. Dia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Setelah menerima pemberianku, bocah itu hanya duduk dan mengambil kardus yang sedari tadi ada di dekatnya. Ternyata kardus itu dia gunakan untuk memasukkan kepalanya hingga sebatas pundak. Melindungi bagian kepala hingga pundak dari panas yang menyengat, untuk kemudian bisa tertidur sesaat.

Kalau aku bisa duduk nyaman di mobil dan merasa panas, bagaimana dengan dia?

Kalau aku bisa makan di tempat yang enak dan dingin, bagaimana dengan dia?

Aku mungkin tidak pernah mengajarinya menggambar atau mewarnai.. tapi hal yang aku tahu adalah..aku bisa membantunya untuk mengetahui tentang kasih. Semoga kelak, dia juga tahu dapat mewarnai dan mengisi dunia ini dengan kasih. Menggambar dan mewarnai bukan hanya pekerjaan anak kecil, tapi itu juga tugas kita sebagai orang yang lebih dewasa untuk “mewarnai dan menggambar” anak – anak kecil sekitar kita dengan kasih, sebab mereka tak ubahnya seperti sebuah kertas, di mana banyak cerita yang dapat ditulis di dalamnya.



next comments in: http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=134494022650