Pages

Sunday, January 30, 2011

Cerita di Balik Kursi Berkaki Empat


Tulisan ini dipersembahkan untuk Saints Movement Community Church (SMCC) yang berulang tahun yang keempat pada akhir November 2010. Tulisan ini dimuat di warta SMCC yang terbit pada bulan Desember, di halaman Editorial. Enjoy...


***

Di suatu siang, saya dan ayah makan siang bersama. Saat itu papa, demikian saya memanggilnya, menyempatkan diri untuk pulang ke rumah di sela-sela pekerjaannya untuk makan siang bersama saya. Sesampainya papa di rumah, saya pun bergegas menuju meja makan, mengambilkan papa nasi, setelah itu baru mengisi piring saya dengan nasi. Sambil makan siang, kami berbincang mengenai gadget MP3. Ya, kami berdua memang sama – sama penggemar barang – barang elektronik seperti MP3, handphone, dan gadget lainnya. Keakraban, saling melayani, dan berbagi, semuanya terjadi saat kami duduk di kursi makan sambil menyantap hidangan kami.
Kursi makan saya bukanlah kursi yang mewah. Hanya sebuah kursi sederhana berkaki empat dan tidak ada yang istimewa dari modelnya. Dilihat dari usianya, kursi dan meja makan itu telah menemani keluarga saya lebih dari 10 tahun. Namun di sanalah biasanya kami duduk, berbincang, tertawa bersama menghabiskan makanan kami sambil merayakan natal, ulang tahun, dan berbagai perayaan lainnya. Kursi sederhana yang menyatukan keluarga besar saya.
Jumlah kaki kursi sederhana saya, sama dengan usia Saints Movement Community Church (SMCC) saat ini. SMCC dapat berdiri hingga kaki (atau usia) yang keempat tentu bukan hanya karena satu orang, namun karena adanya kerjasama. Kita semua sebagai bagian dari keempat “kaki” SMCC harus bertumbuh, dan menjadi kuat bersama. Tidak mungkin sebuah kursi dapat berdiri tegak bila salah satu kakinya lebih pendek, atau tidak sekuat kaki yang lainnya. Tidak peduli berapapun jumlah kaki pada kursi tersebut, tetap ia tidak akan berdiri tegak dan berfungsi maksimal, begitu pula dengan SMCC. Berapapun usia SMCC, tetap kurang dapat maksimal berkarya bila kita tidak saling menguatkan satu sama lain untuk bertumbuh bersama.
Semoga di usia yang keempat, SMCC dapat tetap berdiri dan menjadi saluran berkat bagi lingkungan sekitarnya, dan menerapkan arti dari kasih, melayani, dan berbagi, sama seperti saat kita saling berbagi dan melayani pada saat makan. Happy Birthday SMCC! God Bless You

Warm Regards,
Natasha Benita

Monday, December 13, 2010

Yes, i'm still here! fiuuh...

last Saturday, Dec 11th 2010.

i was sitting alone on a bench, in my ex-college. i was helping to be an exam-guard (i couldn't find any better term, any suggestion?)
i was alone, like really-really alone, while some students with their friends discussing about the last or the upcoming test.

the weather wasn't nice at all. The sky was completely dark and soooo windy. My bench, was in front of wooden-covered-with-glass announcement boards. the wind blowed so hard, until the glasses, which covered the announcement boards, were shaken by the wind. well, the bench where i was sitting on, was on semi-outdoor spot. that explain how the wind could hit those announcement boards directly. These announcement-boards was about 1 meter height and 2 meters length, i guess. Hung on a big wall.

i didn't know what was in my mind. One thing that popped-up in my head was "i want to move to another place, looking for some friends who i might find while waiting for the next exam-time". Then i stood, and walked by.

not until a half minute after i left my bench, suddenly i heard "praaang.."
the sound came from the place where i previously sat on. i made a quick walk back to that place, and i saw little pieces of glass scattered around the bench.

One of the glasses-which covered the announcement-boards- fell of the board and hitted the bench where was sat by me. it shattered.
WHAAT.. what if i didn't move at all? what if was still on that bench few seconds ago?

that glass might hit me directly (as in Final Destination Movie), or maybe those little pieces of glass hitted me then i got a few stitches?
i didn't know and, i guess, i didn't need to figure that out. All i know, HIS hands always save me, and YES, I'M STILL HERE!

Tuesday, November 23, 2010

Senang-Senang Panjat pinang



Agustus dataang..mari sama-sama kita bilang “Dirgahayu Indonesia” yang ke-65. Ritual tiap tahun, biasanya ada acara Agustus-an, baik di kantor-kantor, sekolah, sampai di perumahan. Daftar lomba tiap tahun juga hampir bisa ditebak. Biasanya ada lomba makan kerupuk, balap karung, tarik tambang, pindah kelereng pake sendok, terus ‘nggak lupa lomba panjat pinang.

Umumnya kita memahami lomba Agustus-an mengingatkan kita tentang gotong royong, kerja sama, tapi yang kita perlu ingat juga kalo ada arti saling melayani. Kita ambil contoh panjat pinang. Satu tim lebih dari lima orang, tu pinang dikasi’ minyak supaya susah dipanjat, terus ‘nggak tau gimana caranya mereka saling menginjak satu sama lain buat angkat temennya supaya bisa sampai atas. Dari badan yang dipanjat, bahu yang diinjak, sampai akhirnya muka temen satu tim juga nggak luput dari telapak kaki yang lain. Padahal kalo’ dilihat, hadiah di atas juga bukan hadiah yang mahal dan ga’ mungkin dibagi orang banyak. Misal, sepeda. ‘Gimana caranya satu sepeda dibagi orang satu tim? Mungkin mereka buat jadwal untuk gantian pake’ kali ya.

Bayangin aja, muka yang biasa dijaga luar biasa, dari panas, terus juga kita rawat baik-baik, kalo udah di lomba panjat pinang, dengan rela hati diinjak-injak temen supaya menang. Kotor, panas, bau, udah ga’ pengaruh lagi..maju teruuss. Coba bayangkan, apa yang bisa kita hasilkan kalo’ prinsip kaya’ gini kita pake’ di kehidupan sehari-hari? Bukan kita yang utama, tapi bagaimana kita bekerja sama dengan sekeliling kita, untuk menjadikan segala sesuatu lebih baik. Bukan hanya mengkritisi banyak hal tentang negara kita dengan kata-kata yang pedas, tapi mulai dari hal-hal kecil. Jalankan peran yang dipercayakan pada kita, mulai tugas sebagai anak, murid, mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga, kepala rumah tangga tanpa berpusat pada diri sendiri, namun karena memiliki tekad untuk memberikan yang terbaik dari yang kita bisa lakukan.
To serve is a whole life learning process. So as long as we live, there are no words “too late” to learn and… Don’t wait until it’s too late

Sweet Regards,
Natasha Benita

*dimuat di :
Progress News, Warta Saints Movement Community Church
Halaman Editorial, September 2010

Tuesday, October 19, 2010

Jagalah Mata, Jangan Kau Nodai..(part deux)

Cerita sebelumnya:
Jagalah Mata, Jangan Kau Nodai..

Setelah dilakukannya operasi kecil pada mata, aku pun bergegas menuju mobil dengan satu mata dalam kondisi tertutup perban (otomatis, dengan membayar dahulu pastinya pada dokternya). Menit - menit pertama masih terasa efek mati rasa di mata. Namun setelah sepuluh menit, mulai rasa nyeri alias "cekot-cekot" muncul di mata. Efek obat mati rasa mulai hilang dari mata.. aaargh..

Selama perjalanan pulang dari dokter, tidak banyak hal yang bisa kukatakan. Di mobil aku hanya diam sambil memegangi satu mata, dan menanti saat - saat untuk tiba di rumah. Sesampainya di rumah, hal yang muncul di kepalaku hanya satu: MAKAN. karena kalau sudah makan, artinya aku bisa minum obat penghilang rasa sakit, yang juga artinya mengakhiri penderitaanku yang meringis-meringis karena sakit.

Memasuki rumah, bergegaslah aku duduk di meja makan. Membuka piring yang disusun dengan terbalik di meja makan rumah. Kejanggalan pertama terasa. Sewaktu mau mengambil makan, rasanya ada yang aneh. Aku seperti orang yang nggak fokus untuk mengambil barang. Jelas tangan kananku memegang sendok, dan tangan kiri memegang garpu, tapi rasanya aneh karena aku melihat barang seakan - akan hanya bertumpu pada mata kanan, dan terlebih lagi aku tidak bisa melihat banyak benda yang ada di sebelah kiri karena mata kiriku diperban. Bagaimanapun, aku harus segera menyelesaikan makanku, meminum obat, dan bergegas tidur.

Esok harinya, aq terbangun dengan mata yang diperban, dengan perban semalam. Rencana hari ini adalah mandi, lalu membuka perban. Haaah..menjalani waktu - waktu selama belum membuka perban ternyata tidak mudah. jadi berhubung aku sedikit nganggur di rumah, dan nggak bisa membaca banyak-banyak, untuk terlalu lama melihat laptop juga susah, akhirnya aku pun memilih untuk menghabiskan waktu dengan menggunakan kuteks untuk kuku tanganku.

Ambil kuteks, kuangkat kuas, kusapukan kuas di kuku ku. tidak ada yang susah bagiku, sekalipun harus dengan satu mata tertutup. Masalah ternyata baru timbul saat aku harus memasukkan kembali kuas kuteks ke dalam botolnya. Meleset sana sini. dibutuuhkan waktu beberapa menit untuk bisa benar - benar memasukkan kuas seutuhnya ke dalam botolnya. Kalau setiap habis memoles satu kuku, aku harus memasukkan kuas ke dalam botol, bisa dibayangkan berapa kali aku harus mencoba "memfokuskan" tanganku untuk memasukkan kuas ke dalam botol.

Tidak cukup "perang" dengan kuteks. Setiap berjalan pun tidak jarang aku menabrak sesuatu di sebelah kiriku, contohnya sofa dan kursi. Yah, memang sedikit menjengkelkan kalau tidak bisa melihat dengan utuh. Seperti biasa melihat TV dengan gambar yang penuh, tiba-tiba sekarang hanya dapet setengah gambar.

Akhirnya hari menjelang sore, aku baru memutuskan untuk membuka perbanku sendiri, dengan perkiraan bahwa luka pasca operasi sudah bisa dibiarkan tanpa penutup. Tentunya, dokterku juga sudah mengizinkan aku untuk membuka perban. Proses melepas perban tidak menyiksa sama sekali. Cepat, tidak sakit, dan mudah untuk dilakukan sendiri. Aku melihat di kaca, mataku sudah membaik, tapi masih membiru bekas injeksi dan masih ada sisa-sisa luka pasca operasi.

Masalah baru muncul saat aku mengalihkan arah mataku untuk melihat perban yang ada di genggaman tanganku. Kira - kira 30 cm di depan mataku. eaaaa.... karena nyaris 24 jam mata kiriku tertutup, sekarang waktunya mata kiri untuk "bersinkronisasi" dengan mata kanan. Untuk melihat hal-hal dalam jarak dekat, aku bisa melihat semuanya jadi dua. untuk limat menit awal, lagi-lagi aku harus sedikit nabrak-nabrak sana sini. setelah lima hingga sepuluh menit awal, akhirnya mataku pun mulai bisa menyesuaikan diri. lambat laun, akhirnya mataku bisa bekerja sama dengan baik antara yang kiri dan kanan.

***

ada yang bilang kalo mata adalah jendela hati. Bukan berarti kalo aku sakit mata, trus artinya hatiku ikutan kotor. kurang lebih, inilah jadinya saat hati kita nggak beres. mungkin karena kita tidak bisa menjaga hati kita untuk tetap terjaga bersih melalui apa yang kita lihat. Kenapa kok harus apa yang kita lihat? ya biasa, apa yang seirng kita lihat, akhirnya jadi sering nyantol di kepala, akhirnya kepikiran terus, ujung-ujungnya melahirkan sebuah tindakan.

akhirnya kita harus melalui cara yang panjang, merepotkan, menyakitkan, bahkan sampe bikin nabrak-nabrak sana sini. Buang waktu? iya. padahal jelas ada kerjaan lain yang harus dikerjakan, tapi karena "sakit" akhirnya hanya bisa berputar - putar di masalah yang sama untuk menyembuhkan diri. Buang tenaga? jelas. Buang materi? iya.

Kalau aku, menjaga mataku dengan luar biasa seperti ini, apalagi Tuhan yang jelas-jelas mengasihi kita seperti biji mata-Nya?

Monday, October 18, 2010

Jagalah Mata, Jangan Kau Nodai..

Kamis, 30 September 2010 aku terbangun dengan rasa janggal di mata. Mata rasanya beraaat (ah kalo ini sih memang sindrom semua orang. Mata selalu terasa sangat amat berat waktu awal - awal bangun). Berat di mataku kali ini beda, karena dapet ketambahan "bonus" rasa sakit. Langsung kepikiran "hadeeeh, kenapa ini?". Langsung kedua kaki kupijakkan ke lantai, dan beranjak ke depan kaca. Hasilnya... *jeng jeng jeng* mata kiri membengkak.

Konsultasi melalui telepon pun kulakukan dengan salah seorang dokter mata kenalanku,dan akhirnya tercetuslah nama sebuah obat. Dari referensi beberapa pihak yang juga pernah mengalami hal yang sama, maka akhirnya meluncurlah aku ke apotik. Kubeli obat dengan semangat '45, berkeyakinan segala sesuatunya akan lebih baik dalam waktu 2 - 3 hari. Selain itu, ada lagi tambahan obat cina pemberian seorang sahabat dan tampaknya memang cukup ampuh.

hari pertama... lewat.. hasilnya : bengkak
hari kedua.... lewat... hasilnya : masih bengkak disertai diare (yang notabene adalah efek dari obat cina)
hari ketiga hingga kelima lewat.. hasilnya: tetep bengkak. walaupun sudah nggak separah hari-hari awal yang mengakibatkan bengkak menyeluruh di mata. paling nggak, sekarang bengkaknya sudah sedikit "terarah", cuma di ujung mata kiri.

o'o..ada apa ini? Padahal aktivitas masih menumpuk. Jangankan buat keluyuran, untuk baca atau ngeliat lama - lama aja rasanya udah "aduhaaaii".
Pemikiran berikutnya, "okay, gimana caranya bisa keluyuran dengan mata yang asimetris?" walaupun sekarang memang lagi zamannya mode asimetris, but..if it happened to our eyes because of illness, it wasn't cool at all.

Well, thx Lord for the thing named "eyeliner". Dengan berbagai cara, kucoba menutupi bengkaknya. Tapi tetep aja, yang namanya ditutupi, mau gimana pun juga tetep keliatan. Selain eyeliner, kacamata jadi sahabat terdekatku. Memang pada dasarnya aku harus menggunakan kacamata karena minus dan silindris di mata, hanya saja aku baru menggunakannya pada saat - saat tertentu. Semenjak sakit, kacamata hanya lepas dari mataku cuma waktu tidur.

Akhirnya setelah satu setengah minggu bengkak tanpa kejelasan, sampailah pada keputusan akhir : Ke dokter mata untuk menyembuhkan "hal-yang-kukira-timbilen" ini. Dengan jurusnya, dokter pun memberikan beberapa obat. Dari obat tetes, sampe obat minum. hasilnya: nihil. Oke, permasalahan dengan mata ini bikin stress. Soalnya tiap hari susah mau melihat dengan bener, dan otomatis bikin kepala gampang pusing & berat karena untuk bisa melihat jelas aja harus "ngotot".

Banyaknya obat ternyata tidak menghasilkan apapun. Akhirnya langkah selanjutnya pun ditempuh: operasi kecil. Tepat dua minggu setelah bengkak awal muncul, yaitu tanggal 14 Oktober 2010 di"lenyapkanlah" bengkak di ujung mata sebelah kiri. HUAHAHA..SAATNYA SAKIT INI MENEMUI AKHIR DARI KEBERADAANNYA!

okay, tidak ada yang bisa diceritakan mengenai bagaimana proses operasinya. Bukan karena aku dalam kondisi tidak sadar waktu dioperasi, melainkan karena aku sepenuhnya sadar sewaktu dokter melakukan segala hal pada mataku. Percayalah, tidak ada dari bagian itu yang ingin kalian dengarkan lebih lanjut =p

Penyebabnya simple.. infeksi. Infeksi karena udara kotor, tangan kotor yang memegang mata, lalu terjadi pembengkakan, penyumbatan, dan menghasilkan sebuah gumpalan asing sehingga cara menghilangkannya pun juga harus dengan cara yang luar biasa. Bukan hanya dengan obat - obatan biasa.

so, bagaimana hari - hari awal setelah operasi? aku harus membiasakan diri melihat hanya dengan satu mata. mudah? enggak. Nabrak sana - sini? iya..

*to be continued to : Jagalah Mata,Jangan Kau Nodai (Part Deux)

Thursday, September 16, 2010

Seberapa Sering Kita Membolos?


Suatu hari di sebuah kelas..

"Kenapa kamu pakai sepatu seperti itu?" tanya seorang dosen pada mahasiswanya
"lho memang kenapa bu?" jawab mahasiswa itu kaget
"kamu nggak hadir di pertemuan pertama?" selidik sang dosen.
"nggak, Miss."
"ya sudah, tolong minggu depan jangan pakai sepatu itu seperti itu." sang Dosen pun mengakhiri pembicaraan.

Pada pertemuan keempat sebuah matakuliah, seorang dosen menghampiri seorang mahasiswa. Mahasiswa tersebut mengenakan sepatu yang menurut sang dosen tidak sesuai dengan
standard yang telah ditetapkan. Setiap ketentuan berpakaian, penilaian, semuanya telah dibahas pada pertemuan pertama yang sayangnya
sang mahasiswa tidak hadir. Entah karena dia menganggap remeh pertemuan pertama sehingga dia tidak bertanya pada temannya,
entah apakah dia sudah bertanya pada temannya namun tidak mendapat jawaban yang lengkap, atau mungkin ada alasan lain entah apapun itu,
namun yang pasti sang mahasiswa didapati tidak menggunakan atribut sesuai standard hanya karena ia tidak hadir pertemuan sebelumnya.

Cerita di atas berdasarkan sebuah kejadian nyata, dan mungkin sudah umum terjadi di kalangan mahasiswa.
salah paham, salah informasi, kurang lengkap informasi sehingga mengakibatkan kurang siapnya mahasiswa. Bahkan di bulan - bulan akhir
masa "kemahasiswaan"ku, masih ada salah informasi yang terjadi di kalangan teman teman mahasiswa seangkatanku, padahal sudah menyangkut hal - hal penting
seperti proposal skripsi dan skripsi. Misalnya syarat sidang proposal, syarat skripsi, dan lain - lain.
Yah bisa dikatakan, semakin banyak lidah dalam menyampaikan informasi, kemungkinan informasi mengalami gangguan juga besar, hingga akhirnya menjadi "salah".
paling aman adalah pastikan sendiri. Misal, dengan menyimak di kelas dengan baik, baca di papan pengumuman, atau bertanya pada dosen yang bersangkutan.

dalam hidup ini ada satu kelas yang tidak akan pernah berhenti. Kelas matakuliah "Pengenalan Tuhan".
Dalam hidup ini seberapa sering kita memilih untuk tidak masuk sendiri di dalam kelas, untuk mendengarkan Dia dan menghabiskan waktu bersama Dia.
Kita mungkin lebih memilih "mendengarkan" dari pemimpin - pemimpin kita di gereja dan saudara - saudara seiman kita tentang bagaimana baiknya Dia,
apa yang Dia perintahkan, apa yang Dia inginkan.
Aku secara pribadi, ada saat - saat di mana aku hanya mengenal Dia dari cerita orang. Akibatnya, saat waktu "ujian" datang, aku bingung sendiri.
Aku mencoba bereaksi berdasarkan "cerita" dari teman - teman yang rajin hadir di kelas, yang mengalami waktu - waktu bersama Dia dan mendapat pengajaran dari Dia secara utuh.
Padahal kita tahu bahwa tidak ada yang sama dalam cerita kehidupan masing - masing orang. Apa yang berlaku buat si A, berlum tentu berlaku bagiku, begitu juga sebaliknya.
Dengan aku bertanya pada orang- orang yang hadir di kelas aku memang mendapatkan "gambaran" tentang siapa Dia.
Tapi sebuah "gambaran" ternyata tidak cukup sebagai "senjata" untuk menghadapi semua pertanyaan dalam ujian.
Bagi teman - teman yang rajin mengikuti kelas, untuk bisa menjawab dengan benar di setiap pertanyaan saja sudah membutuhkan sebuah usaha ekstra.
Apalagi bagi aku yang masih kedapatan membolos.
Selayaknya mahasiswa yang suka membolos, maka jawaban ku pun mungkin bisa "setipe" dengan teman - temen yang lain karena aku bertanya pada mereka.
tapi jelas bahwa aku sendiri tidak tahu apa yang aku tuliskan. aku hanya "tahu" tapi tidak mendalaminya, tidak memahaminya.

Akhir cerita di atas adalah sang dosen akhirnya memutuskan untuk tetap mempersilahkan sang mahasiswa tetap berada di kelas dan mengikuti perkuliahan.
Tidak semua dosen mau bermurah hati seperti dosen ini. Ada dosen yang akan "mempersilahkan' mahasiswanya untuk keluar dari kelas karena didapati tidak
berperilaku sesuai standard, entah apapun alasannya.Seberapa banyak kemurahan yang masih kita "harapkan" dari dosen yang baik hati itu?
Kita pun juga tidak mengetahui, seberapa lama waktu yang diberikan pada kita untuk menjadi "mahasiswa".

Monday, September 6, 2010

Penguin of Madagascar: Unity in Diversity



Setelah membahas tentang kuda dan pacuannya, saatnya beralih ke kehidupan para penguin...
---------------------------------------------------------------------------------

Dalam rangka masih mengenang masa - masa kuliah, selesainya kuliahku nggak lepas dari temen - temen yang "lalu lalang" dalam hari-hariku.. Dengan siapa kamu bergaul, menentukan juga kamu adalah orang seperti apa. Aku sepenuhnya bersyukur kepada Tuhan, aku dipertemukan dengan temen-temen yang luar biasa..
Luar biasa menghibur
Luar biasa menyemangati
Luar biasa setia menemani hari-hariku..

Penguins of Madagascar.. yak, we named ourselves after penguins in Madagascar Movie haha..
we have our own kowalski, the one who loves to write.. *waving to jess*
then we move to private, the curvy kind-hearted one..*waving to vivi*
next, RRRIICCCOO... the one with her words "eeeh?" and black circle around her eyes hihihi.. *hi Lev*
the hilarious one with unique accent, King Julien * poke henry*
The tiny cute one, with subtle voice, mort *helloo agnes*
and the one who loves to dance, Gloria... *ollaa karin"

me? they consider me as skipper. the Leader of penguins of madagascar haha..

Lucu juga kalo diinget - inget gimana kami bisa ketemu. kalo diceritain secara singkat, jadinya begini:

aku sama vivi, bertemu Jess sama Levina. Trus, muncul henry, dan di semester berikutnya dekatlah kami sama karin sama agnes. meskipun ga selalu sekelas, tapi selalu inilah personil dari hari-hari kami..

Okay, mungkin kami sedikit seperti anak ABG yang sibuk cari nama geng. tapi nama "geng" ini juga nggak sengaja ketemu, dan jujur, sebenernya ga ada itu geng-geng'an segala. haha.. soalnya kalo udah kuliah, semua temen udah "nyampur jadi satu". but just like a pair of shoes, masing2 ada "keterikatannya" sendiri-sendiri.
Nama geng muncul gara-gara waktu kami nonton film Madagascar, ternyata pas banget epenguin - penguinnya tingkahnya mirip haha..
Seenggak-enggaknya, yang membedakan kami dari anak-anak ABG adalah "kami menghindari nama yang cool yet cute ala anak ABG". contohnya : funky galz, PinkyMomoCuteZ, ato sejenisnya..

that's how we attached to each other.
Persahabatan ini nggak akan pernah disebut "Penguin of Madagascar" kalo masing-masing dari kami tetap menyebut diri kami sendiri sebagai "acha", "vivi", "jess", "lev,"henry,"agnes", "karin".
nggak ada yang namanya "geng" atau temen deket,kalau orang lain pun masih tetap mengenali kami sebagai masing-masing individu.

Demikian juga dengan pelangi..
nggak ada yang akan menyebutnya "pelangi" saat kita masih terus memisahkan dan membeda-bedakan merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu.
Tidak akan ada yang menyebutnya sebagai sebuah kesatuan, saat semua orang yang melihatnya pun juga sibuk memisahkan satu sama lain..
Tidak akan yang ada dapat melihat keindahannya, saat semua yang melihat hanya memutuskan untuk melihat pada satu warna.
jadi, cintailah perbedaan...karena itu akan menjadi indah saat disatukan.