Pages

Monday, October 29, 2012

A Teaspoon of Happiness #1



Aku memandang angka yang tampak pada layar Handphone. 21.00.  Pesta pernikahan yang kudatangi menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Para undangan telah banyak yang meninggalkan tempat pesta. Mengingat pesta diadakan pada Minggu malam, banyak yang memutuskan pulang lebih cepat karena harus bekerja keesokan harinya.
Aku masih duduk di kursi, sambil menanti giliranku untuk berfoto dengan sang mempelai. Tampak piring-piring dan gelas-gelas kotor tergeletak di atas meja-meja yang tersedia. Taplak meja tidak lagi tampak dalam posisi sempurna seperti semula. Posisi kursi tampak acak di dalam ruangan. Serpihan kertas bekas dari confetti juga tampak berserakan di lantai pesta yang tertutup karpet.
Sambil duduk dengan ekspresi wajah yang sudah susah tersenyum, aku melepas sepatuku dengan hak (heels) setinggi sekitar 9 cm. Rasa nyeri mulai terasa di bagian ujung kaki, akibat bobot seluruh badan tertumpu di bagian depan kaki.  “Ahh..gimana bisa itu artis-artis cantik di film bahkan lari-lari pake hak tinggi”, ujarku dalam hati. Sambil menunggu dengan kelelahan dan mengistirahatkan kaki, aku mengamati para petugas yang mulai mengangkat piring-piring dan gelas-gelas kotor dari meja-meja.
Mataku tertuju pada seorang laki-laki yang mengenakan seragam, Ia tampak sedang membungkuk di samping meja, mengambil piring di atas meja lalu membawanya dari meja. Tingginya mungkin sekitar 160 cm. Pada saat ia berbalik ke arahku, aku sedikit terkejut dengan penglihatanku…dari wajahnya, kutebak usianya pasti masih belasan. Namun…. Yang lebih membuatku terkejut adalah…
Ia berjalan dengan membawa piring kotor, sambil menyanyi riang dan ringan, serta ayunan langkah yang mengikuti ritme lagu yang ia nyanyikan.
Bila aku melihat ke seluruh ruangan..masih banyak piring dan gelas kotor yang harus ia bereskan. Masih banyak taplak meja kotor,yang juga harus ia angkat. Sedangkan aku, tinggal duduk menunggu giliran foto lalu pulang.
Bila aku melihat ke arah jam, kurang lebih sekitar 4 jam ia sudah bekerja di acara ini untuk melayani setiap tamu. Sedangkan aku, tinggal berdiri karena konsep acara standing party, menikmati jalannya acara dan hidangan.
Tapi apa yang keluar dari mulut remaja laki-laki tersebut? Sebuah nyanyian.

Sunday, July 1, 2012

Sikat Gigi aja Harus Move On


Sayup - sayup dalam tidurku dapat kudengar kedua anjingku menggonggong. Semakin lama terdengar semakin nyata, hingga akhirnya kepalaku mulai dapat mengambil kesimpulan kalau ini sudah pagi, dan anjing-anjing benar-benar menggonggong. Bukan hanya mimpi.

Yeah,entah bagaimana caranya setiap jam lima pagi kedua anjingku kompak untuk menggonggong, yang akhirnya itu seperti alarm alami yang kumiliki di rumah. Akupun mulai curiga,jangan - jangan mereka pernah menemukan jam tangan bekas, lalu menguburnya entah di sebelah mana di halaman rumah, dan belajar cara membaca jam. Mereka memang sangat pintar untuk mengenal waktu, namun yang mereka tidak tahu adalah : INI ADALAH HARI LIBUR!!

Dengan (sangat) malas aku pun mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang masih berserakan antara alam mimpi dan nyata. Ada rasa aneh di bagian wajahku, terutama mulut. Rasanya kaku sekali untuk digerakkan. Setiap aku mencoba membuka mulut, ada rasa nyeri yang timbul di bagian dalam pipi sebelah kananku. Bila aku menutup mulutku, seakan-akan aku seperti bisa melihat pipi kananku sedikiiitt mmbengkak.

Dengan langkah gontai namun diliputi rasa penasaran dan didukung dengan rasa sakit yang mengganggu, aku pun menuju cermin di kamar. Setibanya di depan cermin, kubuka mulutku dan bisa kulihat bagian dalam pipi kananku memerah.
" Aneh ", pikirku. Aku mulai berpikir dan mencari beberapa kemungkinan penyebab memerahnya bagian ini, namun hasilnya nihil.
Yah, bagaimanapun juga hidup harus terus berjalan yang berarti walaupun sakit, tapi aku tetap harus dan perlu makan. Rasa nyeri hanya sedikiiittt memengaruhi nafsu makan, jadi di hari pertama ini aku bisa makan dengan sedikit tenang sambil berharap esok hari akan lebih baik.

Hari kedua, rasa nyeri semakin menjadi. Saat aku melihat ke cermin, misteri mulai terjawab. Aku bisa melihat seperti bintik putih di bagian dalam pipi kananku. AHA!! itu dia! sariawan! Ada perasaan lega yang terbersit, karena HANYA sariawan. Namun juga timbul pertanyaan. " kok bisa?"

Kalau ditelusuri, aku sangat jarang sariawan sejak dari kecil. Kalaupun akhirnya sariawan, itu karena enggak sengaja tergigit atau tertusuk sesuatu waktu makan yang akhirnya melukai bagian dalam mulut.

Saat jam makan pagi pun terbuka lagi sebuah kenyataan, kalau sudah muncul satu sariawan lagi di bawah lidah. Aarrghh! kenapa ini sariawan tiba-tiba berkomplot untuk tiba-tiba eksis. untung mereka enggak begitu mengikuti tren, yaitu buat semacam boyband atau girlband yang anggotanya sekarang bisa se-RT. Cukup duo aja.

Cukup dua sariawan untuk membuat nafsu makan dan bicara berkurang. Jangankan bicara, mau senyum aja pipi rasanya kaku. Makanan enakpun kenikmatannya sedikit berkurang (walaupun tetap aja enak). Suatu hari sambil makan siang dengan perlahan, akupun berpikir sebab munculnya sariawan yang tiba-tiba unjuk diri, padahal konsumsi vitamin juga oke.

Tiba-tiba aku teringat beberapa hari sebelum ini aku mengganti sikat gigiku. Tampaknya sariawan-sariawan ini muncul seiring dengan masa penyesuaian diri dengan sikat gigi baru. Dasarnya mulut udah nyaman sama struktur sikat gigi yang lama, dia pun protes waktu kenalan sama sikat gigi baru. Bulu sikat gigi baru masih kaku, jadi menusuk ke sana-sini.

Sambil melamun (dan merenungi sariawan yang muncul), akupun jadi berpikir "mungkin ini yang namanya Move On". Seiring dengan terkenalnya istilah galau maka Move On alias melanjutkan hidup, juga ikut terkenal. Biasanya orang yang galau, adalah orang yang susah melanjutkan hidup setelah melalui hal yang berat, misalnya berpisah dengan orang yang disayang.

Baiklah, kuanggap ini caranya mulutku untuk move on. Dia masih melalui masa berat setelah kupisahkan dari sikat gigi lama, dan akibatnya dia galau dengan cara muncul sariawan yang akhirnya membuat enggak napsu makan. Persis seperti orang patah hati kan?

Bagaimanapun dalam hidup, kita harus terus move on. Ada hal-hal yang harus dilepas untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Mungkin yang harus kita lepas adalah orang yang kita kasihi, entah bagaimana caranya. Bisa juga itu adalah pekerjaan lama kita yang kita sudah merasa nyaman, atau mungkin barang-barang kesayangan yang harus kita relakan,entahlah. Bagaimanapun tidak ada yang mudah dengan yang namanya penyesuaian dengan hal baru tapi harus dilakukan. Seperti sikat gigi yang harus diganti setiap tiga bulan sekali,  untuk kesehatan. Bisa aja terus pakai yang lama, tapi fungsinya tidak maksimal dan malah menyebabkan sakit yang lebih parah. Buat apa diteruskan kalau hanya akan merusak diri?

Friday, May 25, 2012

Mereka (bukan) Hanya Anak Kecil

 Suasana di kelas sangat ramai
Sekumpulan anak berumur tiga hingga empat tahun bermain bersama
Jarum jam menunjukkan pukul 11.35, sepuluh menit menuju kepulangan mereka
“Yesss!! Katanya sebentar lagi bel! Terus pulaang!!” teriak seorang anak
“Iya, aku mau pergi sama mama” sambung temannya
“Aku mau main di rumah!!” sahut anak lainnya.
 “Okay, everybody please tidy up your chairs. Get back to your seats, because we will pray”, ujarku pada mereka. Sembari menunggu murid-muridku merapikan kursinya, tiba-tiba datang seorang murid perempuan menghampiriku dan berdiri di sebelahku.
Sembari tertunduk menulis sesuatu di mejaku, aku berkata “Kenapa Natalie?”
Nyaris setahun bersama mereka, cukup membuatku mengenal siapa yang berdiri tepat di sampingku tanpa perlu menolehkan kepala.
Beberapa detik kutunggu, tidak kunjung ada jawaban. Akhirnya aku pun menoleh padanya. Yang aku lihat adalah Natalie, terdiam dengan muka yang memerah, dan tetesan air mata perlahan turun dari kedua matanya membasahi kedua sisi pipinya.
“Lho, Natalie kenapa?” tanyaku dengan rasa kuatir, apakah ia terjatuh atau terluka.
 “……………” masih tidak terdengar jawaban. Maka kutunggu ia beberapa detik hingga ia merasa siap. “Natalie nggak mau ke ruang tunggu nanti” jawabnya perlahan.
Aku pun terkejut dengan jawaban tersebut. Namun bila kuingat kembali, ia adalah anak yang nyaris setiap hari paling telat dijemput oleh orang tuanya. Saat teman-temannya berbaris dan dijemput oleh orang tuanya satu per satu saat mencapai pintu keluar, Natalie adalah anak yang hampir selalu harus menunggu di ruang tunggu dahulu.
“Lho kan Natalie bisa main-main sama teman-teman yang lain di ruang tunggu” ucapku padanya.
 Ia pun membalas dengan gelengan perlahan padaku.
 “Memangnya ada apa di ruang tunggu?” tanyaku, berusaha mencari tahu bila sesuatu terjadi padanya selama di ruang tunggu.
 “Natalie takut nanti nggak dijemput sama mama” jawabnya dengan suara serak yang diringi dengan tetesan air mata.
Ahh.. aku mengerti sekarang. Ternyata bukan ruang tunggu yang membuatnya enggan, namun kenyataan bahwa orang tuanya belum datang menjemput itulah yang membuatnya takut. Akupun berusaha menghiburnya, dan mengatakan orang tuanya pasti menjemputnya, walaupun telat sedikit tapi bukan berarti orang tuanya lupa padanya. Mungkin ada hal penting yang harus dilakukan.
“Tapi mama sudah janji nggak telat lagi”, ucapnya, yang akhirnya membuatku terdiam.
***

Kita sering berpikir bahwa anak kecil adalah tidak pernah mengalami rasa susah, tidak pernah kuatir, mudah untuk diarahkan atau dialihkan. Cukup dibujuk sedikit, mereka akan teralihkan, karena mereka masih sangat polos. Namun kita sering menyalahgunakan atau menganggap ringan apa yang kita ucapkan pada mereka, walaupun mungkin itu hanya hal kecil.

Mungkin banyak yang sudah tahu bahwa pada usia di bawah lima tahun, mereka belajar banyak hal, seperti bahasa, berhitung, kecerdasan kinestetik, musik, seni, dan hal lainnya. Namun mungkin kita lupa bahwa di usia ini, mereka juga belajar tentang karakter, seperti bertanggung jawab, rendah hati, jujur, dan dapat dipercaya. Tidak ada yang dapat mengajarkan tentang karakter itu selain orang-orang terdekatnya menunjukkan secara langsung.

Dalam hal ini aku belajar bahwa jangan pernah berjanji pada siapapun, termasuk pada anak kecil sekalipun, bila kita belum tahu dapat memenuhinya atau tidak. Dalam hal ini, mereka cukup dewasa untuk kita ajak bicara dan beri pengertian, apa sebab kita sulit untuk datang tepat waktu, tanpa perlu memberikan janji sebelumnya. 

 Mereka memang masih kecil, namun bukan berarti mereka yang harus terus belajar dari kita. Kita pun dapat belajar sangat banyak dari mereka. Mereka memang masih kecil, namun bukan berarti mereka dapat lupa dengan mudah apa yang kita katakana, terutama bila itu membuat mereka senang dan tenang.

Ya, mereka memang (bukan) hanya anak kecil, dan aku pun terus berusaha untuk memahami itu.

Saturday, December 31, 2011

Resolutions? I have none.


such a cliche when we come to the end of a year, and we ask people , "what are your resolutions for next year?"
i read so many postings about resolutions for next year and accomplishment for this year.
so many wishes, targets, and goals there..

okay, here are few highlights of my accomplishment in this year, 2011:
- i am brave enough to fight for my passion, and now it becomes my settle job
- have a partner to accomplish my passion
- still keep on writing and editing ;)
- having new second "families" :D (yeah, i got few second families, the first-second, second-second, and so on).
- Learning to be financially independent
and maaannnyyy surprising blessings which i cannot mention it in details. the things that didn't even cross my mind, but HE provided.

now about my resolutions, for 2012:
1...................................................
2..................................................

I'm not leaving those in blank on purpose to make you questioning, but it's because i don't have any.
poor me? naah.. i don't feel so.
actually, as the year passes by.. I'm not a "resolution" person. I'm not a type that will write down all of my targets and goals for next year. My only resolution was when i was about to work on my mini-thesis. i promised to my self, that on the next term, i would have finished it and graduated.
You may say that I'm doing wrong, you may say that i have to learn to start writing down all the resolutions, that's your right. but i have right to ignore it ;)

I don't like to write it all in details, then start to questioning or anxiously thinking about it, whether it will be accomplished or not. I'm not a kind of competitive one, who likes to challenge him / herself to reach something according to the target. this thing clinically proven. I read my psycho-test on 2003. It stated that my "passion as achiever" showed middle range. i think it's applied until now.. i don't care about what kind of achievement awaits for me ahead. all i know just do and try my best, finish it, and the good (or even best) result shall follow.

it seems like i was born to be skinny, and I'm working hard to gain my weight. when the other girls are having diet to make their bodies in good shape, reversely i eat as much as i can. everytime it comes to weigh-in, i always say to myself "okay, no weight loss. if it's not gained, at least it shows a stable number". The same rule applies for other things in my life too. maybe after i work and try hard, it seems like no progress at all. Just keep on trying and think: if i can't make any progress by this time, at least I'm not going worse. keep on trying for better result.

so, all i do in the end of a year:
looking back at the things I've done, I've got, then think how to make it even better next year. No certain target i put for myself. I know my self very best. if i put a certain target, it will just make me frustrated or at least think of it over and over again. seems stressful right? hahaha.. for me, YES IT IS.

The important thing to do for me is: Forgive myself for every unaccomplished enhancement. Not to make any excuse, but i know to go even further i have to get myself together =)


The keyword: every improvement is valuable, event the smallest one.


Happy New Year Everyone!

Friday, December 30, 2011

are you brave enough? am i?



"When I see your face
There's not a thing that I would change
'Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for a while
'Cause girl you're amazing
Just the way you are"
Bruno Mars - Just The Way You Are

I'm really sure most of us are familiar with those lines.
yeah.. Bruno Mars, a heartthrob singer, has stolen women's hearts thru this song.
Every girl is now dreaming to have a boy like him, who will fall for her purely just the way she is.
in her worst look, her worst breath, her silly acts, furious mad, everything!
and yes, eventually we will end up with this question "that kind of love, does it really exist?"
cliche.

when we hear "I Love you just the way you are", we always refer "the way you are" as our mates' looks, characters, personalities.
"oh I've been befriended with him/her for ever! I know her/his character so well!" "I've seen her/him in her/his worst look" "My friends also said that he's/she's a good person and good for me" "we have many things in common, i guess. just give it a try"

I'm not saying those thoughts are wrong. not at all.
it's just...
these days, I've heard few "broken-heart" stories, and if i may conclude, it's all coming back to "passion and dream" issue.

when we love someone, it's not enough to just love her/his look, character and personality.
but it's also how to make our dreams and passions come true by being together.
Your dream and passion will make you alive. running without getting tired, trying without giving up, climb without hesitating. It will become your goal, vision and missions of life.
How can we run together with a person who is unwilling to run at the same direction with us?

maybe these days the meaning of "we'd better be friends" means:
- "I'm not brave enough to embrace your passion and dream"
- "your dreams and passions are too big for me"
- or even "i don't care about that. at all. so better i leave"

or some people put deeper and greater meaning:
"my passions and dreams are very precious. I'm halfway there, and i won't trade it"
"i will fight for it, no matter what"

it's all back to your choice and decision =) before we walk into a relationship, maybe some questions should be considered : are you brave enough to embrace your mates' passion and dream? am i? or even have i found my dream and passion?

Wednesday, December 21, 2011

Teacher = Public Relations.

Huwaaa.. apparently my last post was on 1st August. It's been a while since my last writing. yeah, I'm not a good blogger i guess.. XD. Many things happened in my life, but not all of it updated in my blog. Here just the (almost) most recent thing about me....
****

"Miss..miss..help me", "What is this Miss?", "I can't do it Miss, please help me".
Setiap panggilan "Miss" itu dialamatkan padaku. Teriakan dan seruan itu yang sekarang tiap hari kudengar. Suara-suara riuh dan celotehan khas anak kecil membuat hariku semakin meriah. Anak-anak berusia dibawah enam tahun pun saat ini menjadi "klien" ku. Yap, setelah melalui berbagai cerita sebelum dan sesudah lulus kuliah, beberapa pengalaman berkarya dijalani, saat ini aku menyandang status sebagai guru taman kanak-kanak di sebuah sekolah Kristiani berlabel nasional plus. "Pahlawan tanpa tanda jasa" dan "pengabdian" mungkin itu beberapa kata yang terlintas di benak beberapa orang saat mendengar profesi guru.

Kalo ada yang tanya, "Gimana ceritanya jadi guru?", mungkin kita perlu mundur kebelakang lagi.. menuju bertahun-tahun silam saat aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak hingga Sekolah Dasar.
***

Dulu waktu tiba pertanyaan favorit guru-guru (dan umumnya dipakai di iklan-iklan yang memasang sosok guru), yaitu "nanti kalo sudah besar mau jadi apa?". tidak pernah terlintas di pikiranku untuk menyebut "dokter", "presiden", "arsitek". entah mungkin sejak kecil aku sadar bahwa menggambar bukan bidangku, dan hal-hal yang berbau obat-obatan juga bukan favoritku, aku memilih menyebut "Guru". Bahkan memikirkan pekerjaan yang khas perempuan, yaitu pramugari, pun tidak.
kenapa guru? entahlah. Sejauh yang aku bisa ingat, mungkin dulu aku melihat sosok guru sebagai orang yang sangat pintar. Ia tahu serta mengerti berbagai hal, dan berkuasa hahahhahaha.. berkuasa? iya, sekalipun ia bukan orang tua kami para murid, tapi ia boleh marah-marah dan mengatur kami. Apalagi kalo dia udah pakai bolpoin merahnya. Maka sosok guru seperti Harry Potter bersama tongkat ajaibnya. Bolpoin nmerahnya menari indah di atas setiap kertas pekerjaan yang susah payah dikerjakan oleh murid-muridnya, dicoret-coret dan Taaraaa.. muncullah nilai-nilai kami. hihihihihi.. dan yang paling mengasyikkan: terus berkumpul bersama anak-anak kecil! yah demikianlah di mataku, sebagai anak kecil. Impian menjadi guru ternyata bertahan hingga aku memasuki usia SMP mungkin, dan sejak dahulu aku juga memikirkan kalaupun ternyata aku menjadi guru, aku ingin menjadi guru TK aja. Kenapa? alasannya: "Soalnya pelajaran SD susah, lebih gampang pelajaran TK. kalo ngajarin pelajaran SD, SMP, atau SMP harus susah-susah belajar lagi"

Memasuki pertengahan SMP hingga SMA, aku mulai tahu ada satu profesi yang mengasyikkan : Public Relations. kenapa menarik? because in simple way, i see that vocation is dynamic, and allows me to meet, build and maintain relations with new people. Pemikiran-pemikiran ini yang akhirnya sukses mengantarkanku untuk memilih Jurusan Ilmu Komunikasi di bangku perkuliahan.
Banyak dan susahnya ilmu yang kudapat tentang Public Relations (PR) tidak menyurutkan bayanganku untuk menjadi seorang wanita karir yang berprofesi sebagai PR. Apalagi kalo lihat penampilan & aktifitas para praktisi PR, which is soooo professional, attractive, smart, dynamic. WHoooaaa!!

Each of us, has our own dreams and passions. Dream: comes from our idealistic mind. Passion: comes from our deepest heart. Now, here comes what we call as dilemma . It is when our dreams and passions have their own ways, and we have to decide which one will we go for.

As i graduated, and as i stated above that many things happened, there was a time when I read job offer as a teacher in a school. at that time, i chose to go along with my heart. My passion is "i can do something valuable for children, work with them, and prepare them for brighter future". So what can i do to accomplish my passion? being a teacher is one of the solutions ;)

maybe some people said , "hey, what the used of what you learned at college with what you do now?", "being PR and teacher are very much different from each other, how do you deal with that?".
now I'm saying say : PR and teacher, there are not much differences between them. why? here are some reasons:

1. Knowledge based. How we can say and teach things if we don't know a single thing =)

2. All about image and reputation. as what i've been taught in college, PR is about Image and Reputation. Image: what we show forward, reputation: what people see about us. As a teacher sure i have to watch carefully at my attitude. What i say, what i do, what i watch and see. in short term: be a good example for my students and their parents. =)

3. Know who the publics are. as i learned, PR should recognize who his/her publics are. The primary one, secondary, and so on, because it determined how we treat them. yeah, i thought my primary public was my students, but then i realized that before students, i have to deal with the parents first. Yeah, as the law in PR said: Influence The Decision Maker. In this case, sure the parents are the decision makers. Win their hearts first. How to do it? by giving our best to the children with our heart. ^^

4. Build and maintain relationship between company and public, become the communication technician. it's clear that teacher as one of "front-liners" for the school. Meet the parents, listen to their inputs, embrace their critics, and also stand as behalf of the school.

5. Event Management. Event is one of PR's tools for promoting and campaigning. So, it's important to manage the event from the very beginning until the very last. From planning, until the evaluation. As teachers, sure we deal with so many events for the children, for instance Independence Day, Christmas, etc. In planning, we should think : For whom? What's the objective? and all the preparation.

well, those were just few similarities of PR and Teacher that crossed my mind this time. So in my opinion, now can choose both my dreams and passion =) Once, my best friend said to me, "among us, only you who can finally fulfill your childhood's dream-job. you said you wanted be a kindergarten teacher, now you are!".

if you ask me "how long will you be a teacher?" my answer would be: "I don't know". who can tell what tomorrow brings, but all i know i will always want to do many things for the children thru many ways.

Monday, August 8, 2011

"Papa pasti dateng kok.."

Suatu malam di hari Minggu, karena kebutuhan yang mendesak dan tiba-tiba, akhirnya aku harus segera pergi ke toko buku rohani. Kepalaku langsung tertuju ke toko buku rohani yang ada di gereja tidak jauh dari rumahku. Kulihat jam di rumah, sudah menunjukkan pukul 8 malam.
“Masih buka nggak ya?” pikirku.
Seingatku, ibadah terakhir di gereja tersebut sudah selesai sekitar satu jam yang lalu, jangan-jangan toko buku pun tutup seiring dengan selesainya ibadah di sana. Dengan terburu-buru aku pergi ke gereja tersebut, dan sekitar lima menit kemudian aku sudah memasuki pintu gerbang gereja. Lampu – lampu di dalamnya tampak sudah mulai padam, hanya beberapa bagian yang masih menyala. Suasana juga tampak sangat lengang, mengingat ibadah terakhir sudah selesai cukup lama.
Aku segera bergegas menuju ke toko buku di dalamnya,
“Lampu di dalem toko buku masih nyala sih, tapi jangan pegai di dalem udah siap-siap pulang”, kataku dalam hati.
Saat aku memasuki toko buku, aku pun harus menelan rasa kecewa, karena ternyata toko bukunya sudah tutup. Pegawai di dalam sedang bersiap-siap untuk pulang. Akhirnya aku pun menuju mobilku yang terparkir di depan toko buku. Di sebelah mobil, ada bocah laki-laki. Dilihat dari postur tubuhnya, aku menebak ia masih dalam usia Sekolah Dasar. Dengan membawa Alkitab, dia berdiri sendirian di tempat parkir yang mulai gelap. Suasana di tempat parkir juga mulai beranjak sepi, hanya tampak beberapa pegawai yang memasukkan barang-barang ke dalam mobil, berkemas untuk segera pulang.
“Dik, pulang sama siapa?” tanyaku pada bocah tersebut dari dalam mobil.
“sama papa”, jawabnya sopan.
“sudah telepon?”
“belom”.
Pikirku dalam hati “lhaaa.. terus gimana kalo nggak ditelepon?”
Tak lama bocah itu menambahkan, “tapi biasanya papa jemput kok,”
“rumahnya di mana, Dik?” tanyaku, yang kemudian dijawab bocah tersebut dengan menyebutkan daerah yang tidak jauh dari gereja.
“adik tau nomer HP nya papa?” pikirku, siapa tau aku bisa menghubungi ayah anak itu untuk bertanya keberadaannya, atau aku mengantarkan anak itu ke rumahnya jadi sang ayah tidak perlu menjemputnya.
“Nggak tau, nggak hafal” jawabnya.
“kalo telepon rumah, hafal?” tanyaku lagi.
“enggak ada. Adanya Cuma HP, tapi juga nggak hafal,” jawabnya polos.
Akhirnya karena aku diburu waktu, dan aku tidak tahu kemana harus menghubungi keluarga bocah tersebut, aku pun beranjak pergi. Aku berpikir di sana masih ada beberapa orang, dan satpam juga masih ada. Lalu akupun pergi.
***

Sesaat aku berpikir, mungkin demikianlah arti dari iman dan pengharapan. Di saat situasi semakin sulit, kita semakin sadar bahwa kita sendirian, namun kita berani berkata bahwa “Tuhan pasti tolong kita kok”. Kita tetap percaya bahwa sekalipun tampaknya kita sendirian, tapi bukan berarti Ia meninggalkan kita. Bahkan dari cerita bocah lelaki tersebut, ia sangat percaya pada ayahnya bahwa ayahnya sedang dalam persiapan atau sedang dalam perjalanan untuk menjemput dia, padahal ia tidak dapat menghubungi orangtuanya. Bukankah kita 24 jam terhubung dengan Bapa kita? =)