Pages

Thursday, September 16, 2010

Seberapa Sering Kita Membolos?


Suatu hari di sebuah kelas..

"Kenapa kamu pakai sepatu seperti itu?" tanya seorang dosen pada mahasiswanya
"lho memang kenapa bu?" jawab mahasiswa itu kaget
"kamu nggak hadir di pertemuan pertama?" selidik sang dosen.
"nggak, Miss."
"ya sudah, tolong minggu depan jangan pakai sepatu itu seperti itu." sang Dosen pun mengakhiri pembicaraan.

Pada pertemuan keempat sebuah matakuliah, seorang dosen menghampiri seorang mahasiswa. Mahasiswa tersebut mengenakan sepatu yang menurut sang dosen tidak sesuai dengan
standard yang telah ditetapkan. Setiap ketentuan berpakaian, penilaian, semuanya telah dibahas pada pertemuan pertama yang sayangnya
sang mahasiswa tidak hadir. Entah karena dia menganggap remeh pertemuan pertama sehingga dia tidak bertanya pada temannya,
entah apakah dia sudah bertanya pada temannya namun tidak mendapat jawaban yang lengkap, atau mungkin ada alasan lain entah apapun itu,
namun yang pasti sang mahasiswa didapati tidak menggunakan atribut sesuai standard hanya karena ia tidak hadir pertemuan sebelumnya.

Cerita di atas berdasarkan sebuah kejadian nyata, dan mungkin sudah umum terjadi di kalangan mahasiswa.
salah paham, salah informasi, kurang lengkap informasi sehingga mengakibatkan kurang siapnya mahasiswa. Bahkan di bulan - bulan akhir
masa "kemahasiswaan"ku, masih ada salah informasi yang terjadi di kalangan teman teman mahasiswa seangkatanku, padahal sudah menyangkut hal - hal penting
seperti proposal skripsi dan skripsi. Misalnya syarat sidang proposal, syarat skripsi, dan lain - lain.
Yah bisa dikatakan, semakin banyak lidah dalam menyampaikan informasi, kemungkinan informasi mengalami gangguan juga besar, hingga akhirnya menjadi "salah".
paling aman adalah pastikan sendiri. Misal, dengan menyimak di kelas dengan baik, baca di papan pengumuman, atau bertanya pada dosen yang bersangkutan.

dalam hidup ini ada satu kelas yang tidak akan pernah berhenti. Kelas matakuliah "Pengenalan Tuhan".
Dalam hidup ini seberapa sering kita memilih untuk tidak masuk sendiri di dalam kelas, untuk mendengarkan Dia dan menghabiskan waktu bersama Dia.
Kita mungkin lebih memilih "mendengarkan" dari pemimpin - pemimpin kita di gereja dan saudara - saudara seiman kita tentang bagaimana baiknya Dia,
apa yang Dia perintahkan, apa yang Dia inginkan.
Aku secara pribadi, ada saat - saat di mana aku hanya mengenal Dia dari cerita orang. Akibatnya, saat waktu "ujian" datang, aku bingung sendiri.
Aku mencoba bereaksi berdasarkan "cerita" dari teman - teman yang rajin hadir di kelas, yang mengalami waktu - waktu bersama Dia dan mendapat pengajaran dari Dia secara utuh.
Padahal kita tahu bahwa tidak ada yang sama dalam cerita kehidupan masing - masing orang. Apa yang berlaku buat si A, berlum tentu berlaku bagiku, begitu juga sebaliknya.
Dengan aku bertanya pada orang- orang yang hadir di kelas aku memang mendapatkan "gambaran" tentang siapa Dia.
Tapi sebuah "gambaran" ternyata tidak cukup sebagai "senjata" untuk menghadapi semua pertanyaan dalam ujian.
Bagi teman - teman yang rajin mengikuti kelas, untuk bisa menjawab dengan benar di setiap pertanyaan saja sudah membutuhkan sebuah usaha ekstra.
Apalagi bagi aku yang masih kedapatan membolos.
Selayaknya mahasiswa yang suka membolos, maka jawaban ku pun mungkin bisa "setipe" dengan teman - temen yang lain karena aku bertanya pada mereka.
tapi jelas bahwa aku sendiri tidak tahu apa yang aku tuliskan. aku hanya "tahu" tapi tidak mendalaminya, tidak memahaminya.

Akhir cerita di atas adalah sang dosen akhirnya memutuskan untuk tetap mempersilahkan sang mahasiswa tetap berada di kelas dan mengikuti perkuliahan.
Tidak semua dosen mau bermurah hati seperti dosen ini. Ada dosen yang akan "mempersilahkan' mahasiswanya untuk keluar dari kelas karena didapati tidak
berperilaku sesuai standard, entah apapun alasannya.Seberapa banyak kemurahan yang masih kita "harapkan" dari dosen yang baik hati itu?
Kita pun juga tidak mengetahui, seberapa lama waktu yang diberikan pada kita untuk menjadi "mahasiswa".

Monday, September 6, 2010

Penguin of Madagascar: Unity in Diversity



Setelah membahas tentang kuda dan pacuannya, saatnya beralih ke kehidupan para penguin...
---------------------------------------------------------------------------------

Dalam rangka masih mengenang masa - masa kuliah, selesainya kuliahku nggak lepas dari temen - temen yang "lalu lalang" dalam hari-hariku.. Dengan siapa kamu bergaul, menentukan juga kamu adalah orang seperti apa. Aku sepenuhnya bersyukur kepada Tuhan, aku dipertemukan dengan temen-temen yang luar biasa..
Luar biasa menghibur
Luar biasa menyemangati
Luar biasa setia menemani hari-hariku..

Penguins of Madagascar.. yak, we named ourselves after penguins in Madagascar Movie haha..
we have our own kowalski, the one who loves to write.. *waving to jess*
then we move to private, the curvy kind-hearted one..*waving to vivi*
next, RRRIICCCOO... the one with her words "eeeh?" and black circle around her eyes hihihi.. *hi Lev*
the hilarious one with unique accent, King Julien * poke henry*
The tiny cute one, with subtle voice, mort *helloo agnes*
and the one who loves to dance, Gloria... *ollaa karin"

me? they consider me as skipper. the Leader of penguins of madagascar haha..

Lucu juga kalo diinget - inget gimana kami bisa ketemu. kalo diceritain secara singkat, jadinya begini:

aku sama vivi, bertemu Jess sama Levina. Trus, muncul henry, dan di semester berikutnya dekatlah kami sama karin sama agnes. meskipun ga selalu sekelas, tapi selalu inilah personil dari hari-hari kami..

Okay, mungkin kami sedikit seperti anak ABG yang sibuk cari nama geng. tapi nama "geng" ini juga nggak sengaja ketemu, dan jujur, sebenernya ga ada itu geng-geng'an segala. haha.. soalnya kalo udah kuliah, semua temen udah "nyampur jadi satu". but just like a pair of shoes, masing2 ada "keterikatannya" sendiri-sendiri.
Nama geng muncul gara-gara waktu kami nonton film Madagascar, ternyata pas banget epenguin - penguinnya tingkahnya mirip haha..
Seenggak-enggaknya, yang membedakan kami dari anak-anak ABG adalah "kami menghindari nama yang cool yet cute ala anak ABG". contohnya : funky galz, PinkyMomoCuteZ, ato sejenisnya..

that's how we attached to each other.
Persahabatan ini nggak akan pernah disebut "Penguin of Madagascar" kalo masing-masing dari kami tetap menyebut diri kami sendiri sebagai "acha", "vivi", "jess", "lev,"henry,"agnes", "karin".
nggak ada yang namanya "geng" atau temen deket,kalau orang lain pun masih tetap mengenali kami sebagai masing-masing individu.

Demikian juga dengan pelangi..
nggak ada yang akan menyebutnya "pelangi" saat kita masih terus memisahkan dan membeda-bedakan merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu.
Tidak akan ada yang menyebutnya sebagai sebuah kesatuan, saat semua orang yang melihatnya pun juga sibuk memisahkan satu sama lain..
Tidak akan yang ada dapat melihat keindahannya, saat semua yang melihat hanya memutuskan untuk melihat pada satu warna.
jadi, cintailah perbedaan...karena itu akan menjadi indah saat disatukan.

Tuesday, August 31, 2010

Flashback ke Pacuan Kuda : Kuda dan Para Pawang

Me With Fanny Lesmana, M.Med.Kom
Me With Desi Yoanita, S.Sos

Twitter.. Facebook.. BBM, dan media online lain yang isinya anak – anak Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) UK. Petra isinya tentang skripsi atau proposal skripsi. Ini berlaku pastinya untuk mahasiswa angkatan 2006 dan 2007.

Ada yang putus asa…

Ada yang santai – santai..

Ada yang tetap optimis..

Macem – macem deh. Proses dari proposal skripsi sampe skripsi memang rasanya kayak ngemut permen yang manis, asem, asin, sambil naik rollercoaster yang muter-muter nggak karuan, sambil cuacanya gentian panas-ujan. Yah, dibayangin sendiri aja hehe.. But believe me, someday you will recall this moment, smile, and say “I had passed it thru”.

Buat temen-temen, beberapa postingan bersambung tentang pacuan kuda mungkin bisa membantu kalian untuk tetap optimis. Secara garis besar, postingan itu isinya tentang perjalanan proposal skripsi, kerjaanku, sampe skripsi, dan akhirnya taraaa..aku udah menyelesaikan semua. Semuanya itu dalam waktu satu semester, bahkan skripsi dalam waktu satu bulan dari bab satu sampe lima.

Dalam postingan itu, aku mengandaikan aku adalah kuda, yang sedang berpacu di lintasan skripsi..dan Tuhan sebagai Pengendaraku. Aku sepenuhnya mempercayakan langkah kakiku pada Pengendaraku, dan tugasku adalah berlari sekuat tenagaku, mengikuti arahan-Nya, sambil menggunakan kacamata kuda.

Seperti cerita sebelumnya juga, ada dua pembimbingku: Fanny Lesmana (yang saat tulisan ini dibuat sudah bergelar M.Med.Kom :p) dan Desi Yoanita, S.Sos (Soon to be M.Med.Kom).

Tidak pernah habis rasa syukurku pada-Nya karena sudah memberikan dua pembimbing yang luar biasa. “Cerita Perjuangan” kami di pacuan kuda ada di cerita – cerita sebelumnya. Ada yang belum aku bahas, yaitu gimana ceritanya mendapatkan mereka sebagai pembimbing tuh seperti “impian yang jadi kenyataan” hahaha..

Latar belakang kedua dosen pembimbingku ini adalah komunikasi massa, khususnya jurnalistik. Sedangkan aku, berlatar belakang komunikasi korporat, yaitu Public Relations. Kalau dipikir-pikir, sampai kapanpun juga ‘nggak bakal ketemu. Aku pernah nyeletuk asal, duluuu jauh sebelum aku berkutat sama yang namanya proposal skripsi, entah kedua dosenku ini inget ato nggak..

“Kira-kira, judul skripsiku apa ya, biar dibimbimbing kak Fan sama Miss Desi?”

hehe.. yah,secara pribadi, memang kami dekat..dan, buat aku sendiri, aku udah anggep mereka kayak kakak-kakakku sendiri.

Seiring berjalannya waktu, Kak Fan (panggilanku untuk Fanny Lesmana, M.Med.Kom) nambah ngajar tentang komunikasi organisasi. Gitu juga sama MD (panggilanku untuk Desi Yoanita, S.Sos), yang akhirnya juga ngajar komunikasi interpersonal. Kalo’ dua matakuliah ini, baik anak komunikasi massa maupun anak komunikasi korporat pasti dapet. Jadi yah, bisa dibilang ini matakuliah core.

Akhirnya hari demi hari berlalu, bulan demi bulan, dan tibalah waktunya aku ngerjain proposal skripsi. Singkat cerita, setelah melalui berbagai macam proses, akhirnya ditetapkan judulku adalah “Komunikasi Interpersonal antara Human Resource Department dengan Karyawan dalam Penyampaian Kabar Buruk di RS. XYZ Surabaya”. Pada hari pengumuman nama dosen pembimbing, taraaa… lihatlah, dua nama dosen ini yang tercatat sebagai pembimbingku. See, mulutmu adalah doamu, dan Thx God karena udah mengabulkan doaku =)

Karena kepercayaan mereka, aku bisa mengumpulkan skripsi tanggal 24 Mei 2010.

Karena bantuan mereka aku berdiri di auditorium pada tanggal 6 Agustus 2010 sebagai salah satu wisudawan UK. Petra.

Karena kasih sayang dari mereka, penghargaan cumlaude aku dapatkan. Mungkin mereka nggak in charge dalam setiap matakuliah yang aku jalani, tapi dukungan dan inspirasi dari mereka yang ikut mewarnai hari-hariku selama empat tahun di Fikom UK. Petra.

Satu hal yang paling penting.. karena pengabdian mereka, bukan hanya aku yang diberkati, tapi juga anak-anak Fikom lainnya.

Thx kakak-kakakku tersayang…love you.

Pesan buat temen-temen yang lain:

Berpikir positif.. dengan begitu, kamu seperti menarik hal – hal positif untuk “mendekat” padamu.

Sunday, August 8, 2010

Teruntuk Orang Tua ku...


Jumat, 6 Agustus 2010. Pk 14.00
Dimulailah acara Wisuda ke - 58 Universitas Kristen Petra Surabaya Shift Ke-2 yang berarti juga adalah giliran untuk Jurusan Ilmu Komunikasi untuk melangsungkan prosesi wisuda di auditorium UK. Petra, lantai 2 Gedung EH.

Aku bersama beberapa anak komunikasi yang sudah "nongkrong" sambil heboh foto-foto di lantai 1 pun mulai menyiapkan diri untuk naik ke tempat acara berlangsung. Mengantri masuk bersama para orang tua, kami pun akhirnya memasuki auditorium.

Saat masuk ke dalam auditorium, otomatis kepalaku "tolah-toleh" sambil mikir "papa mama duduk mana ya?". nggak lama ada suara yang manggil "Cha!". Ternyata itu mama, yang lagi manggil sambil melambaikan tangannya supaya aku bisa langsung keliatan mama duduk di mana. Mama, papa, dan om ku (yang juga hadir waktu aku wisuda) duduk di barisan paling depan di kursi untuk orang tua, yang posisinya berada tepat di belakang para wisudawan ilmu komunikasi. Aku waktu itu duduk di baris kedua dari belakang, di kumpulan wisudawan ilmu komunikasi.Jadi antara orang tuaku, dan aku, hanya dipisahkan 1 baris kursi wisudawan fikom.

Memasuki ruang wisuda, aku masih bisa ketawa - ketawa, masih "ngerumpi" sama temen-temen lain. Maklum, fikom..(fakultas ilmu komunikasi) kami seringkali terlalu akrab hahaha..Hingga akhirnya sekitar pukul 14.30, MC (Master of Ceremony) membuka acara. Setelah itu jajaran senat yang terdiri dari rektor dan dekan semua fakultas memasuki auditorium. Diiringi musik instrumen yang mengalun dengan megah,jajaran senat memasuki ruangan dengan menggunakan baju toga, lengkap beserta topinya. Mudahnya, aku akan menggambarkan seperti suasana sekolah Hogwarts Harry Potter, di mana setiap murid dan gurunya menggunakan jubah hitam panjang.
waktu jajaran senat memasuki ruangan.. jujur, yang terlintas di kepalaku "Cieee.. Dekanku emang kereeeen.... ". Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi, Felicia Goenawan, S.E., M.Si menggunakan baju toga hitam panjang, berjalan dengan senyum, dan tentunya ada topi toga on her pixie hair. FUNKY! KEREN! and still..Looked so Actively Smart :)

Setelah acara resmi dibuka oleh rektor UK. Petra yaitu Prof. Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr.Eng. Kami lanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang kemudian kami lanjutkan dengan menyanyikan Hymne Petra. Sulit dipercaya, mungkin ini adalah kali terakhir kami secara resmi menyanyikan Hymne Petra setelah kurang lebih empat tahun di Petra. Masih terbayang jelas di kepala kami para wisudawan saat pertama kami belajar Hymne Petra adalah saat masa orientasi Petra yang disebut P3KMABA, tepat empat tahun yang lalu. Saat ini justru kami menyanyikan untuk yang (mungkin) terakhir kalinya secara resmi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan rangkaian pembuka, mulai dari penyampaian Firman Tuhan, persembahan dari Paduan Suara Universitas, singkat cerita tibalah saat prosesi pemanggilan wisudawan satu per satu untuk ditahbiskan. Dimulai dari deretan pertama berdiri. Aku waktu itu masih santai, mengingat aku duduk di deretan keempat. Deretan pertama adalah mahasiswa jurusan sastra, dilanjutkan dengan mahasiswa teknik, lalu mahasiswa fikom. Deretan amahsiswa fikom dimulai dari deretan ketiga. Saat deretan kedua berdiri, temen-temen fikom yang duduk di deretan ketiga sudah mulai panas-dingin. Kami yang duduk di deretan keempat pun ikutan "spaneng" alias tegang. Padahal sebelumnya saat gladi bersih, kami bisa menguasai diri dengan baik.

Akhirnya tiiba juga giliran mahasiswa fikom yang di deretan ketiga untuk berdiri dan maju. giliran aku dan temen - temen yang di deretan keempat bener-bener jadi tegang mendadak. tegang ini mungkin lebih karena, kami secara resmi akan berdiri, berjalan naik ke atas panggung, ditahbiskan oleh dekan dan rektor kami, dengan disaksikan orang tua kami. Aku khususnya, tegang karena takut akan melakukan kekonyolan. misal, karena tegang kesandung rok kebaya, atau jangan-jangan lupa salaman sama rektor. eaaaa...
Waktu aku berdiri, akan menuju tangga panggung, aku menoleh ke arah keluargaku. Mereka sih ketawa-ketawa dengan tampang yang seolah - olah berkata "gaya, mau diwisuda". Saat aku sudah ada di pinggir tangga, lagi - lagi aku menoleh ke arah mereka. Aku hanya melihat papa seperti melambaikan rendah tangannya. satu demi satu tangga aku naiki, dan taraaa..tibalah aku di pinggir panggung. "HAAAHH".. hela napas ku dapat kurasakan. Entah kenapa, rasanya saat aku berdiri di pinggir panggung, aku seakan-akan ingin bilang "Pa, Ma, sebentar lagi secara resmi aku mendapatkan gelar sarjanaku, dan ini semua untuk kalian".

Tidak lama MC pun memanggil namaku, dan aku pun melangkahkan kaki menuju dekanku untuk pemindahan tali di topi toga, diiringi dengan tepuk tangan dan sorakan dari teman-teman fikom. Kami mahasiswa fikom memang berjanji, saat SETIAP wisudawan fikom dipanggil, kami akan bertepuk tangan sebagai tanda ucapan selamat dari masing-masing kami untuk temen kami. Setelah dari dekan, aku menuju ke rektor UK. Petra, bersalaman dengan beliau, dan turun dari panggung. Setelah turun dari panggung, aku tidak kembali, tapi melanjutkan jalan ke arah luar auditorium. Di sana, aku dan rekan-rekan mahasiswa lain yang mendapat gelar aktif berprestasi dan cumlaude akan dipersiapkan, untuk nanti kami masuk kembali dan menerima penghargaan dari wakil rektor dan rektor.

Berjalan dari arah panggung menuju luar auditorium, aku melewati mamaku. Tidak ada kata yang bisa terucap melainkan sebuah tawa lebar dari aku untuk mama, begitu pula dengan sebaliknya. Air mata karena haru masih dapat ditahan dan aku melewati mama, namun dalam hati ingin rasanya aku mengucapkan "AKHIRNYA MAA!!"

Di luar, kami para wisudawan cumlaude dan aktif berperstasi dibariskan lagi sesuai urutan kami. Lalu dimulai dengan wisudawan aktif berprestasi berbaris memasuki ruangan lagi.. setelah wisudawan aktif breprestasi dipanggil satu per satu, dan foto bersama jajaran senat, dilanjutkan dengan wisudawan cumlaude. aku pribadi diizinkan Tuhan untuk bisa berada bersama wisudawan cumlaude lainnya. Kami para wisudawan cumlaude dibagi dalam tiga kloter. Aku berada di kloter kedua.
Kloter pertama berjalan memasuki ruangan. Nama mereka dipanggil satu per satu untuk diberikan tabung emas oleh wakil rektor, dan bersalaman dengan rektor, lalu menempati posisinya untuk foto. Lagi-lagi para wisudawan fikom bersepakat, setiap wisudawan fikom yang meraih cumlaude atau aktif berprestasi dipanggil, mereka akan bertepuk tangan, namun kali ini juga dibarengi dengan berdiri. yaah..bahasa asingnya, standing ovation gitu.
setelah kloter pertama, tibalah waktunya kloter kedua untuk memasuki ruangan.
Diiringi dengan instrumen megah, aku melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan. Saat memasuki ruangan, lagi-lagi aku melewati orang tuaku. Ada rasa dalam hati yang ingin mengatakan "Ma, Pa, ini aku masuk lagi, untuk mendapat penghargaan, dan ini semua juga karena doa dan dukungan kalian". Dengan rasa berdebar-debar (lagi) aku pun berbaris, menunggu giliranku untuk menaiki panggung.

Setapak demi setapak, anak tangga demi anak tangga aku lewati, dan inilah aku sedang berdiri di bibir panggung. Ketika MC menyebutkan namaku, jurusanku, dan IPK ku, aku pun melangkahkan kaki menuju tengah panggung dimana wakil rektor dan rektorku berdiri untuk bersalaman memberi selamat, dan (Lagi-lagi) diiringi dengan tepuk tangan dari teman-teman wisudawan fikom. Setelah itu aku melangkahkan kakiku menuju ke panggung kecil tempat wisudawan cumlaude berdiri, tepat di belakang jajaran senat, untuk foto bersama.

Yak, saat inilah yang paling berat. kenapa?
karena inilah saat di mana aku akan berdiri, menghadap teman - teman wisudawan, menghadap ke orang tua dan omku, aku mengangkat tabung sebagai tanda cumlaude dan foto bersama wisudawan cumlaude lain di kloter kedua. Berat rasanya harus menahan air mata bahagia dan haru. Pa, Ma, ini yang bisa aku persembahkan buat kalian. Aku tau papa mama percaya bahwa aku memberikan yang terbaik, sekalipun misalnya aku tidak menerima predikat cumlaude. Tapi dengan penghargaan ini, ada rasa bahagia karena aku bisa memberikan "Bonus" untuk keluargaku, khususnya papa mama.

Prosesi wisuda pun dilanjutkan dengan pemanggilan wisudawan cumlaude kloter ketiga, sambutan dari wakil wisudawan, dan rektor. Singkat cerita, setelah prosesi wisuda berakhir, kami para wisudawan diberikan kesempatan foto bersama dosen di jurusan kami. Setelah itu acara foto-foto pun berlanjut di luar ruang wisuda bersama dengan teman-teman lain yang menunggu di luar ruang wisuda.

Pa, Ma, acha tau ini bukanlah suatu akhir. Ini adalah sebuah awal dari langkah hidup selanjutnya. Acha bersyukur acha diberi kesempatan oleh Tuhan untuk membanggakan dan membahagiakan papa mama. Setiap langkah dan keberhasilan, tidak lepas dari doa, semangat, dukungan baik secara materi, jasmani, dan rohani dari papa mama. Terima kasih untuk doa yang tidak pernah putus untuk acha.

Friday, July 23, 2010

The History of my Blog...

Berawal dari sebuah tugas matakuliah, Perkembangan Teknologi Komunikasi (Pertekom) di semester 3, terciptalah sebuah blog "Tasha: The stories go as the world goes". i was thinking, it wasn't more than just an assignment. My lecturer asked the students to create our own blog.
Blog.. a familiar word that I've heard since i was in high school. Means since 2003-2006. But i never..ever.. paid serious attention to this "invention". For me, I'd rather talking, speaking than writing.

Duluuu..sebelum ada blog, sebenernya "sedikit" suka nulis, dan aku menyalurkannya lewat "notes" salah satu jejaring sosial, Friendster. Seiring dengan aku menutup Friendster ku, maka lenyap juga segala tulisanku, and still.. i haven't considered myself as a writer or blog-lover.
Seiring berjalannya kuliah Perketekom, blog ini pun sedikit demi sedikit terisi. lagi-lagi, ini terisi karena "disuruh" oleh dosen.

Di semester yang sama, aku juga sedang menjalani matakuliah "Teknik Mencari dan Menulis Berita" (TMMB). Dari judul matakul ini aja, udah keliatan kalo isinya pasti tentang tulis - menulis, yaah..jurnalistik gitulah, and i gave up easily. Maksudnya, jadi tulisanku ga' ada "taste" nya dan aku memaklumi, karena hal yang ada di kepala adalah "hellooo, saya ga suka nulis".

Selepas pertekom, dengan sukses blog ini terlantar dengan sempurna. Sampe' akhirnya semester empat, entah karena apa, muncul niat untuk update blog. Dimulailah cerita tentang perjalanan matakulaih desain web, trus cerita magang ku yang pertama di sebuah perusahaan. Just for fun aja..mengisi waktu.. sampai akhirnya ternyata ada beberapa orang yang baca and kasi komen. ada yang komen diblog, ada yang komen langsung, ada yang komennya lewat wall FB.

Sejak itu, aku mulai membiasakan diri untuk menulis. Bukan untuk suatu keharusan, tapi karena ingin menceritakan sesuatu, tapi nggak mungkin cerita satu persatu ke semua orang. Kadaaang..kalo lagi happy, ato justru lagi bad mood, ato lagi dapet ilham/pemikiran baru, aku bisa merasakan sebuah kelegaan kalo udah nulis di blog. Bisa juga waktu lagi "sibuk" berkutat dengan pemikiran sendiri, menulis membantu aku untuk mengeluarkan satu persatu kalimat.
Hal ini mungkin sulit aku lakukan kalo sambil "ngomong", karena kalo kita udah "ngomong", misaaall ada yang salah kata, atau kurang pas..sulit untuk kita tarik lagi. masak kita mau hipnotis semua orang untuk melupakan kalimat kita? yeah..communication is irreversible. kalo menulis, aku bisa belajar untuk menyusun satu persatu ide yang ada di kepala, hingga jadi sebuah susunan kalimat yang menggambarkan keseluruhan isi kepala & hati.

Menulis adalah..obat sakit kepala..
Begitu mood udah naik turun, banyak pikiran, atau ada kejadian tak terduga, curhatnya ya melalui menulis.

Menulis itu kalo aku gambarkan, kayak orang lagi mual, pengen muntah..trus akhirnya sukses keluar. (sorry for being "groosss")

Menulis..mungkin bisa mengurangi resiko terkena penyakit stroke atau depresi. karena buat aku, dengan nulis, semua perasaan, kesel, sedih, senang..bisa tersalurkan.

Menulis adalah cara refleksi diri. Kadang waktu aku lagi nulis sesuatu yang jadi pemikiranku, tiba-tiba di tengah nulis, bisa muncul ide baru..atau jawaban baru..yang buat aku pribadi membuka "jendela" ke sebuah pencerahan.

Menulis itu seperti melukis. aku pengen menggambarkan hal - hal yang aku alami, dan emosi yang aku rasakan.

Menulis adalah sebuah kejujuran. Pada saat aku menulis, aku hanya berusaha untuk menyalurkan apa yang aku rasakan. Lebih baik aku tidak menulis apa yang tidak aku rasakan, daripada aku menulis apa yang tidak aku rasakan.

Hal yang terus aku pelajari sampai sekarang adalah bagaimana membuat "menulis adalah memberkati".

Seiring berjalannya waktu.. yaa blog ini jadi sedikit lebih "layak" karena isinya udah diupdate.. =) thx buat semua yang udah kasi komen, walaupun komennya nggak di sini. ada yang di Wall FB, ada yang di nOtes FB, ada yang ngomong langsung. Semoga apa yang aku tulis juga bisa berguna buat semua yang baca. ooh iya, note tambahan.. merupakan hal yang bijak untuk bisa mempertimbangkan apa yang pantas atau enggak untuk kita tulis kalau akan kita publikasikan =)
Kalau memang itu untuk koleksi pribadi aja , yaah semacam diary, itu merupakan hak kita sepenuhnya. tapi kalau sudah dipublikasikan, sudah lain lagi aturan mainnya. Sekalipun menulis lebih bisa "diedit" daripada sebuah kata-kata yang sudah terlontar, tapi ingat bahwa ujung pena pun bisa lebih tajam dari sebilah pisau..yah walaupun dalam hal ini, kita nggak pake pena..;)

Friday, July 9, 2010

Keep On (Your) Track

Nyaris tengah malem, BlackBerry (BB) ku bunyi.. biasa, kalau malem intensitas penggunaan BB memang sedikit lebih tinggi. Soalnya kalo siang, umumnya orang udah sibuk sendiri-sendiri. Sedangkan kalo malem, waktunya santai – santai, nonton DVD atau TV untuk refreshing.. atau mulai ngelamun, merenung dari kejadian – kejadian sepanjang hari. Ujung-ujungnya, ambil BB, hp, ato telepon, trs mulai cerita-cerita sama temen untuk diskusi, tanya pendapat, atau sekedar cerita karena pengen didenger. Ahh.. ini juga salah satu pesan tambahan.. biasanya kalaaaauuuu yang curhat adalah cewek, bukan berarti dia sedang minta nasehat, minta komentar. Dia hanya punya satu tujuan, ingin didengar.

Gitu juga waktu hari Rabu, 7 Juli 2010. Aku lagi asik nonton TV waktu tiba-tiba BB ku bunyi. Aku lupa jam berapa, sekitar jam 11 malem kalo nggak salah. Yak, dan saat itu aku juga tahu kalau sesi curhat dimulai, saatnya dokter cinta buka praktik. Buat aku pribadi, asik-asik aja terima curhatan temen. Seperti waktu itu juga asik-asik aja. Singkat cerita, sesi curhat lanjut terus sampe jam setengah dua pagi. Dari hasil setiap cerita temen-temen, aku hanya ingin merangkum gambaran yang aku terima, and something that comes from my mind out.

Kadang, setelah berdoa untuk bisa ketemu the right one, kita akhirnya jadi “peka” kalo ada lawan jenis yang mendekat. Terus mulai mencocokkan “benarkah dia?” .
Yaa beberapa, yang memang sudah pas dengan waktu Tuhan, memang ketemu The truly right one, tapi ada juga yang (masih) meleset.
Kenapa kadang kita bilang dia mungkin adalah orang yang tepat? Mungkin karena kita mikir “iya, soalnya kalo diliat dia jalan searah sama kita”. Kalo dari gambar ini, kita bisa liat ada track 1, 2 and 3. Mari kita berandai – andai kalo kita ada di track pertama. Trus kita tertarik sama si dia di track nomer 2, trus (missaaall) mikir “kayaknya dia ini the one ku. Soalnya kita searah.. lihat deh, jalurnya dia sama aku, punya tujuan yang sama”.

Tapi mungkin kalo aku ngeliat dari sisiku, dari pemikiran si anak kecil yang juga masih belajar ini, aq mungkin memunculkan satu gambar lagi..


Dari gambar ini, yang aku pengen bilang..
Mungkin bukan orang yang kita lihat jalan searah sama kita, tapi orang yang juga ada di track yang sama kyk kita, hingga someday berdasarkan waktunya Tuhan, kita bisa “ketemu” atau yaahh.. “berpapasan”. Aku mengartikan track ini sebagai visi, passion. Munggkkiin..kita nanti ketemu sama orang yang visi nya beda, ato sekarang lagi sama orang yang visi n pandangannya beda sama kita. Tapi bukan berarti kita ada di lain track.
Contoh: A punya visi, passion, untuk bergerak dalam hal-hal yang menyangkut keluarga. B, punya visi untuk bergerak dalam hal – hal yang menyangkut lansia. Nah, IF they were really meant to be together, mungkin saat mereka sudah berkeluarga, mereka bisa melayani, mendamaikan keluarga-keluarga, mengajarkan bagaimana anak dan cucu, bagaimana hidup melayani orang tuanya, kakek-neneknya. Entahlah, banyak hal yang dapat dikerjakan bersamaan. Yah istilahnya kalo perusahaan tuh merger.

pada saat kita ada di track 1 atau 2 atau 3, kita noleh kiri-kanan, kita bakal ngeliat ada orang - orang yang searah sama kita. Tapi searah bukan kita nanti akan sampai di tempat yang sama. Orang yang akan berhenti di tempat-tempat yang sama dengan kita, adalah orang yang berada di jalur (track) yang sama dengan kita sekalipun tampaknya arahnya berlawanan. postingan ini hanya sebuah penggambaran, bukan untuk menggurui. Aku pun masih belajar dan terus menggali mengenai hal yang paling mendasar: aku ada di track mana?

Sunday, June 20, 2010

Putaran (nyaris) Akhir

Cerita sebelumnya:
Putaran Kelima Pacuan Kuda: Sidang Skripsi

Selesaiii sidang skripsi… perjuangan ternyata belooommm berakhir.
Ngapain aja? Baiklah, dengan sabar, satu persatu bakal aku tulis di sini.
PERTAMA: Revisi. Revisinya harus ngurus ke empat dosen. 2 dosen pembimbing, 2 dosen penguji. Nemuin satu dosen aja bisa 1 hari sendiri. Jadi janjian dulu, bawa lembare revisi, ditunjukkin. Kalo udah oke, ya lanjut ke dosen berikutnya. Kalo ga oke? Ya kembali lagi besoknya bawa revisinya. Di berita acara revisi, harus ngumpulin tanda tangan 4 dosen itu. Kalo revisi belom oke, ya empat dosen juga belom mau tanda tangan. Jadi yaah, lumayan..kalo diliat-liat, harus nyediain waktu 4 hari. Kejar – kejaranku pun dimulai. Ada yang bsia hari rabu, ada dosen yang bsia hari kamis, ada yang bakal keluar kota hari jumat.. uooo…Mau nggak mau, ada hari yang aku cuti dari kantor untuk bener-bener nungguin dosen yang suit ditemui.

KEDUA: Minta nomer ke Tata Usaha (TU). Gimana caranya? Habis kejar-kejaran tanda tangan sama 4 dosen, kumpulin berita acara revisinya ke TU. Dari TU, keluarlah nomer skripsi kita. TU jurusan tutup jam 15.30. Waktu itu hari jumat, aku “nongkrong” di kampus demi dapet tanda tangan. Akhirnya tanda tangan aku dapetin jam 15.28. Mepeeet sama jadwal TU tutup. Aku inget banget jam nya karena waktu itu TU udah nyaris tutup dan aku dengan muka melas penuh harap-harap cemas berharap aku masih bisa ngumpulin and dapet nomer. Apa yang akan terjadi kalo aku nggak dapet nomer di hari jumat (11/6) ini?
1. Ngurus nomer baru hari senin. Akibatnya: baru bisa ngurus CD skripsi hari senin. Sedangkan ngurus CD itu, harus memasukkan nomer skripsi, judul skripsi, sama tanda tangan 2 pembimbing and kajur. Bisa bayangin nyariin lagi dosen dan sliweran dari kampus habis dapet nomer, ke pengeprint’an CD, terus kembali lagi minta tanda tangan ke dosen – dosen untuk ditempel di CD. Fuuhh….
Puji Tuhan, dapet nomer di hari jumat. Artinya, di rumah bisa ngeprint CD, halaman kulit skripsi, dan smua dokumen-dokumennya. Buat apa? Buat hari senin (14/6) dibawa ke kampus, dan meluncur ke dosen, minta tanda tangan.. terus meluncur ke perpus untuk dicek di perpus.
Skripsi diapain di perpus:
Jadi begini, perjuangan belum berakhir. Di perpus, kita masukkin skripsi kita ke perpus lantai 6. Ditinggal sehari, buat di cek tata tulisnya.
Berlanjut ke hari selasa (15/6).
Perjuangan panjang pun dimulai lagi. Dari perpus, habsi tata tulis di cek, aku langsung revisi di kampus pake laptop dengan tujuan bisa kumpulin lagi ke perpus, jadi menghemat waktu.. saya bisa ngantor lagi dengan normal.
Habis revisi, berbekal flasdisk, meluncurlah diriku ke pengeprint’an. Hasilnya, semua pengeprint’an full sodara-sodara… Singkat cerita, setelah perjuangan panjang, akhirnya semua dokumen-dokumen sudah diprint. Habis ngeprint, bawa lagi ke perpus, buat approval. Perpus bagian revisi tutup jam setengah empat, aku sampe sana (lagi-lagi) setengah empat kurang dikit. Entah berapa dikit, yang pasti mepet. Habis approval dari perpus, harus ngeburn semua softcopy nya ke CD. Konyolnya, aku lupa scan 1 halaman pengesahan buat diburn. Mulailah muter2 lagi cari scanner. Berhasil scan 1 dokumen, di burn lah dokumen itu dalam bentuk CD. Habis diburn dalam bentuk CD, meluncurlah lagi aku ke bagian Puskom (Pusat Komputer) kampus, minta tolong untuk dokumen skripsiku di convert ke format PDF. Habis ngeburn di puskom, aku meluncur lagi ke perpus. Kali ini bagian pengumpulan soft copy. Sampe sana di cek lagi, dan ternyata, ada 1 halaman yang seharusnya di print ganda. Yaaak, perjuangan dimulai lagi… demi ngeprint 1 halaman, aku pun lari-lari lagi. Perpus bagian softcopy tutup jam 5, aku ngumpulin semuanya mepet banget sama jam 5. Bahkan lebih dikit.. terima kasih Tuhan untuk mbak perpus yang menolong sayaaa dengan memberi beberapa menit kelonggaran.
hasilnya, di hari Selasa ini urusan peprus SELESAI. Next apa?
Rabu (16/6)
Berbekal dokumen bukti penyerahan skripsi ke perpus, pas foto yang sudah disiapin (karena tau, lebih baik saat ada waktu nganggur, siapin perlengkapan administrative kalo nggak mau mondar-mandir ke kampus). Dimulailah pengurusan ke BAAK (Badan Administrasi dan Akademis Kemahasiswaan. Semoga singkatannya bener gini. 4 tahun kuliah dan aku ga’ inget-inget nih BAAK singkatan dari apa. Pokoknya aku tau tempatnya di mana dan untuk mengurus apa. Peace. )
Selesai isi form B4 di BAAK, lanjut ke pengisian data di career center. Habis ngisi dokumen di career center, lanjut ngurus ke KANITRA. Fuuuhhh… puji Tuhan, hari Rabu (16/6) pagi, semua selesaaaaiii… yeaaay..

Berikutnya apa? Yudisium. Apa itu yudisium?
Kita ngumpulin semua syarat-syarat administrative, trus dicek apa sudah lengkap semua dan kita layak wisuda. Oh ya, kl di jurusanku, ada lag yang namanya bikin makalah, minimal 10 halaman. Ini juga syarat yudisium. Jadi…bisa ketebak kan berikutnya apa?
Yak..perjuangan menyelesaikan berkas administrative ‘n makalah untuk yudisium….
Percaya nggak percaya, aku ngetik ini aja sampe ngos-ngos’an. Inget-inget perjuangan selama beberapa hari..dan masih dalam tahap penyelesaian untuk yudisium…

To be continued…