Memang benar, segala sesuatu pasti akan berujung pada sebuah penyelesaian.
tapi kalau kamu mau tau bagaimana kualitas seseorang,
lihat dari bagaimana caranya menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan.
terlepas apakah yang perlu diselesaikan adalah tanggung jawab yang diembannya, atau kesalahan yang dibuatnya.
ada yang mungkin tampak tidak peduli, namun diam - diam dapat menyelesaikan dengan baik. Ada cara yang mungkin tidak perlu semua orang lihat, tapi ia tahu pasti bagaimana cara yang ia ambil dapat berujung pada sebuah penyelesaian yang jelas. sayangnya, tipe seperti ini mungkin susah ditemukan, karena umumnya yang tampaknya tidak peduli ternyata memang benar tidak peduli.
Ada yang awalnya tampak seperti seseorang yang main - main belaka, namun ternyata justru ia lebih berani daripada seseorang yang tampak seperti bersungguh - sungguh sejak awal. Ia dapat mengungkapkan apa yang ada menjadi keputusannya, namun terkadang apa yang diputuskannya bukanlah hal yang mudah bagi pihak - pihak yang berkepentingan.
ada yang mungkin tampak lemah, disepelekan, voiceless, namun ternyata suaranya lebih lantang dari apapun.
dengan gagah ia menghampiri tantangan tersebut, dan menyelesaikannya dengan jelas. ia tahu di mana ia harus berdiri dan menentukan sikapnya.
Ada yang tampaknya begitu banyak berwacana, namun saat "meja digebrak", tidak ada sepatah katapun yang keluar dan memilih untuk mengalihkan permasalahan, berharap dengan adanya pengalihan, maka permasalahan lama dapat dianggap selesai begitu saja.
Ada yang mungkin seperti mau untuk menyelesaikan, namun berujung pada "let's see where it leads me into". Hasil akhirnya? berharap segala sesuatu mengalir dengan tenang menuju tempatnya masing - masing.
Berapa lama? tidak tahu. ia akan berlindung dibalik dalih waktu. Dengan harapan bila waktunya datang, maka penyelesaian akan muncul dengan sendirinya.
Kalau ditanya, saya termasuk yang mana, hanya satu yang saya tahu, saya
tidak suka sesuatu yang terlalu berlarut - larut dan bertele-tele tanpa
kepastian.
Ketahuilah bahwa caramu menyelesaikan sesuatu bagaikan pedang bermata dua namun dengan efek yang berbeda bagi tiap-tiap individu yang terlibat.
bisa jadi menyakitkan bagi dirimu sendiri dan orang lain. Tidak menyenangkan, tapi mungkin cukup adil bagi semuanya.
bisa jadi menyakitkan bagi dirimu sendiri, namun baik bagi orang lain. Berkesan mulia, namun saya cukup yakin hanya sedikit populasi yang menganut paham ini bagai tayangan-tayangan di layar kaca dan novel. Penggambaran ini mungkin lebih cocok untuk penggambaran tentang kasih sayang orang tua kepada anak. Saya percaya bahwa kasih mereka tulus, tidak egois.
yang terakhir adalah alternatif yang semua orang pasti familiar. Cukup egois, namun sering terjadi. menyenangkan bagi dirimu, namun berat bagi orang lain.
Kamu dapat meredam kemarahan, namun kamu tidak dapat mengobati kekecewaan.
Kamu dapat menghibur wajah yang sedih, namun kamu tidak dapat mengembalikan kepercayaan.
Kamu dapat tertawa bersama, namun kamu tidak dapat memulihkan hubungan yang telah rusak.
Kembali lagi pada pertanyaan, saya termasuk yang mana?
saya rasa yang dapat menjawabnya dengan tepat adalah orang - orang yang saya bahagiakan dan orang - orang yang saya kecewakan.
Monday, October 27, 2014
Wednesday, April 24, 2013
This is me now.
How it felt when Nobody stood
there to see you in person and listened, when everybody said they would catch
your back.
Oh yeah people say that technology overcome all the distance. Yeah..you
say.
Would it help you to understand?
You wouldn’t understand every single tear that dropped ‘cause i missed
the ones that i loved
You wouldn’t understand the moments when i didn’t want to talk about
anything, but i just need someone to sit next to me. Just sit and accompany me.
You wouldn't understand how my days are packed up in suitcases , and move from a place to place
You wouldn't understand the times as I got to my room, my door closed right behind my back, and in a sudden all I know that i'm alone.
You wouldn't understand how my days are packed up in suitcases , and move from a place to place
You wouldn't understand the times as I got to my room, my door closed right behind my back, and in a sudden all I know that i'm alone.
You wouldn’t understand the minute i’m staring blankly just because i
have no clue about what to do or what to feel.
You wouldn’t understand the sadness inside when i’m remembering the
good times
You wouldn’t understand how i miss to get home soon, right after office
hour without dealing with the crazy traffic.
You wouldn’t understand the second i just closed my eyes and wished it
would last just for a while and then i’d be home.
You wouldn’t understand how many times i said to myself , “if only i
was there with them”.
You wouldn’t understand how it felt when i’m drowned into things to do,
and i needed a space to break.
You wouldn’t understand how everthing just coming, but didn’t have
anyone to talk to in person, pat me on the back and saying “it’s gonna be okay”.
You wouldn’t understand the fear inside when it comes to weekend, and i
just spend my weekend in vain at home just because i have no one to go with
You wouldn’t understand how i missed to awake every morning and know
that i’m home, with all the routines every morning, then my lousy and lazy dogs
are barking to anyone who’s passing by .
You wouldn’t understand the fear i feel inside everytime my phone
rings, and it shows numbers from hometown. The fear of feeling vulnerable just
because i know that everytime i pick-up the phone, i will be longing for coming
home.
You wouldn’t know how it feels to imagine my dreams, but then I realized
I can’t carry along all I’ve had, so i just had to start let things go one by
one. Slip through my fingers just like grains of sand, when all i wanted to do
was to hold it in my hands tightly.
And Yes.. you wouldn’t understand how i try to manage myself to survive
and adapting.
When someone saying “you’ve changed!”
You can’t expect to be fine..you
can’t expect me to face the day like nothing has changed.
Being misunderstood is just a small part of what i’ve been struggling
for.
At last..as i said before in my Bio...I’m flawed... I made mistake..and
I’m sorry. I can’t be perfect for everyone, but at least i’m trying to bring
out the best in me. This is me now.
Monday, October 29, 2012
A Teaspoon of Happiness #3
Di suatu
hari, di mana para karyawan diberkahi long
weekend karena adanya hari libur sebelum akhir pekan, berbagai macam
pilihan untuk menghabiskan akhir pekan pun dilakukan orang-orang. Mulai dari
bersantai di rumah bersama keluarga, maupun keluar kota. Aku memutuskan untuk
tetap tinggal di rumah. Sempat terbersit rasa sesal dan kesal karena satu dan
lain hal, sehingga hanya bisa berdiam diri di rumah selama liburan.
Di hari
libur itu, papa datang dari tugas luar kotanya. Aku dan mama yang akan menjemput
papa di bandara. Demi menghindari macet bila melalui jalan di suatu kawasan,
kami pun memutuskan untuk melalui jalan tol menuju bandara. Jalan kosong..lengang..dan
lancar. Akhirnya tibalah kami di sebuah loket tol. Pada saat membayar, si bapak
penjaga pos mengulurkan tangan, memberikan karcis sambil bersenandung ringan
dan melakukan goyangan kecil dengan kepalanya. Saat karcis sdah selesai
diberikan, dan uang biaya tol telah di tangannya, ia tersenyum dan berkata “terima
kasih”, lalu tampak sekilas ia kembali menggoyangkan kepalanya dan sayup-sayup
terdengar ia kembaloi melanjutkan nyanyiannya yang kemudian terdengar semakin
sayup-sayup seiring dengan melajunya mobilku dari loket tol.
“kamu
liat, dia malah harus kerja waktu semua orang lagi seneng-seneng liburan. Gitu ya
nyanyi-nyanyi bahagia gitu”. Ujar mama padaku.
Dan aku
terdiam dengan rasa kagumku pada Sang Bapak….
A Teaspoon of Happiness #2
Aku dan
papa sedang duduk di sebuah pujasera di sebuah mall. Kami perlu bertemu dengan seseorang dari manajemen mall ini terkait sebuah
pekerjaan. Jam menunjukkan jam makan siang telah usai, namun orang yang kami
cari sedang keluar ruangan dan belum tiba di kantor dikarenakan ada urusan
mendadak lainnya yang harus diselesaikan. Itu sebabnya papa dan aku memutuskan
untuk menunggu di pujasera sambil membeli sedikit jajanan.
Tampak
seorang pemuda berpakaian kemeja putih, celana hitam kain, sepatu pantofel
hitam, berambut cepak, dan mengenakan tas ransel. Ia memilih meja kosong yang
pas bersebelahan dengan mejaku. Terdapat empat kursi kosong yang duduk
berhadapan. Ia duduk di kursi yang posisinya serong denganku, dan meletakkan
tas ranselnya di kursi kosong di sebelahnya.
Dari
caranya menghempaskan diri ke kursi, dan raut wajahnya, tampak ia sangat lapar
dan kelelahan. Tidak berapa lama, ia tampak berusaha mengambil sesuatu dari
dalam tas ranselnya. Ia mengeluarkan dua kantong plastik berwarna hitam dan biru
bening. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam kantong plastik hitam, namun dalam
palstik biru bening tampak jelas sebuah kotak makan yang penuh terisi.
Kukira ia
akan segera menyantap bekal yang ia bawa. Ternyata hal yang ia lakukan adalah
meletakkan plastik-plastik itu di hadapannya, lalu ia memejamkan matanya dan
melipat tangannya. Ia ternyata berdoa sebelum makan, setelah itu ia segera
menyantap bekalnya.
“hayo
gitu kira-kira yang masak, terus bawain bekalnya siapa ya? Mamanya? Atau mungkin
udah punya istri?” ujar papa padaku dengan usil, sebab kelihatan kalau bekalnya
sangat lengkap isinya, dan terbungkus rapi. Susah membayangkan seorang pria
menyiapkan segala itu semua sendiri. Dilihat dari usia, ia tampak sangat muda. Mungkin
baru satu atau dua tahun lulus kuliah, dan tampaknya seperti pemuda lajang yang
masih merintis karir.
“wah..
nggak tau ya pa” jawabku sambil ketawa kecil. Tapi satu hal yang aku tahu
pasti: mungkin makanan yang ia bawa bukanlah makanan dari restoran mahal,
dengan rasa seperti masakan koki terkenal, namun tampak bahwa bekal dari rumah itu bermakna
sebuah perhatian dan kehangatan sebuah keluarga. Itu yang membuatnya lebih
nikmat dan terasa mahal.
A Teaspoon of Happiness #1
Aku memandang angka yang tampak pada
layar Handphone. 21.00. Pesta pernikahan yang kudatangi menunjukkan
tanda-tanda akan segera berakhir. Para undangan telah banyak yang meninggalkan
tempat pesta. Mengingat pesta diadakan pada Minggu malam, banyak yang
memutuskan pulang lebih cepat karena harus bekerja keesokan harinya.
Aku masih duduk di kursi, sambil
menanti giliranku untuk berfoto dengan sang mempelai. Tampak piring-piring dan
gelas-gelas kotor tergeletak di atas meja-meja yang tersedia. Taplak meja tidak
lagi tampak dalam posisi sempurna seperti semula. Posisi kursi tampak acak di
dalam ruangan. Serpihan kertas bekas dari confetti
juga tampak berserakan di lantai pesta yang tertutup karpet.
Sambil duduk dengan ekspresi wajah
yang sudah susah tersenyum, aku melepas sepatuku dengan hak (heels) setinggi sekitar 9 cm. Rasa nyeri
mulai terasa di bagian ujung kaki, akibat bobot seluruh badan tertumpu di
bagian depan kaki. “Ahh..gimana bisa itu artis-artis cantik di
film bahkan lari-lari pake hak tinggi”,
ujarku dalam hati. Sambil menunggu dengan kelelahan dan mengistirahatkan kaki,
aku mengamati para petugas yang mulai mengangkat piring-piring dan gelas-gelas
kotor dari meja-meja.
Mataku tertuju pada seorang laki-laki
yang mengenakan seragam, Ia tampak sedang membungkuk di samping meja, mengambil
piring di atas meja lalu membawanya dari meja. Tingginya mungkin sekitar 160
cm. Pada saat ia berbalik ke arahku, aku sedikit terkejut dengan penglihatanku…dari
wajahnya, kutebak usianya pasti masih belasan. Namun…. Yang lebih membuatku
terkejut adalah…
Ia berjalan dengan membawa piring
kotor, sambil menyanyi riang dan ringan, serta ayunan langkah yang mengikuti
ritme lagu yang ia nyanyikan.
Bila aku melihat ke seluruh
ruangan..masih banyak piring dan gelas kotor yang harus ia bereskan. Masih banyak
taplak meja kotor,yang juga harus ia angkat. Sedangkan aku, tinggal duduk
menunggu giliran foto lalu pulang.
Bila aku melihat ke arah jam, kurang
lebih sekitar 4 jam ia sudah bekerja di acara ini untuk melayani setiap tamu. Sedangkan
aku, tinggal berdiri karena konsep acara standing
party, menikmati jalannya acara dan hidangan.
Tapi apa yang keluar dari mulut
remaja laki-laki tersebut? Sebuah nyanyian.
Sunday, July 1, 2012
Sikat Gigi aja Harus Move On
Sayup - sayup dalam
tidurku dapat kudengar kedua anjingku menggonggong. Semakin lama terdengar
semakin nyata, hingga akhirnya kepalaku mulai dapat mengambil kesimpulan kalau
ini sudah pagi, dan anjing-anjing benar-benar menggonggong. Bukan hanya mimpi.
Yeah,entah
bagaimana caranya setiap jam lima pagi kedua anjingku kompak untuk
menggonggong, yang akhirnya itu seperti alarm alami yang kumiliki di rumah.
Akupun mulai curiga,jangan - jangan mereka pernah menemukan jam tangan bekas,
lalu menguburnya entah di sebelah mana di halaman rumah, dan belajar cara
membaca jam. Mereka memang sangat pintar untuk mengenal waktu, namun yang
mereka tidak tahu adalah : INI ADALAH HARI LIBUR!!
Dengan (sangat)
malas aku pun mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang masih berserakan antara
alam mimpi dan nyata. Ada rasa aneh di bagian wajahku, terutama mulut. Rasanya
kaku sekali untuk digerakkan. Setiap aku mencoba membuka mulut, ada rasa nyeri
yang timbul di bagian dalam pipi sebelah kananku. Bila aku menutup mulutku,
seakan-akan aku seperti bisa melihat pipi kananku sedikiiitt mmbengkak.
Dengan langkah
gontai namun diliputi rasa penasaran dan didukung dengan rasa sakit yang
mengganggu, aku pun menuju cermin di kamar. Setibanya di depan cermin, kubuka
mulutku dan bisa kulihat bagian dalam pipi kananku memerah.
" Aneh ",
pikirku. Aku mulai berpikir dan mencari beberapa kemungkinan penyebab
memerahnya bagian ini, namun hasilnya nihil.
Yah, bagaimanapun
juga hidup harus terus berjalan yang berarti walaupun sakit, tapi aku tetap harus
dan perlu makan. Rasa nyeri hanya sedikiiittt memengaruhi nafsu makan, jadi di
hari pertama ini aku bisa makan dengan sedikit tenang sambil berharap esok hari
akan lebih baik.
Hari kedua, rasa
nyeri semakin menjadi. Saat aku melihat ke cermin, misteri mulai terjawab. Aku
bisa melihat seperti bintik putih di bagian dalam pipi kananku. AHA!! itu dia!
sariawan! Ada perasaan lega yang terbersit, karena HANYA sariawan. Namun juga
timbul pertanyaan. " kok bisa?"
Kalau ditelusuri,
aku sangat jarang sariawan sejak dari kecil. Kalaupun akhirnya sariawan, itu
karena enggak sengaja tergigit atau tertusuk sesuatu waktu makan yang akhirnya
melukai bagian dalam mulut.
Saat jam makan pagi
pun terbuka lagi sebuah kenyataan, kalau sudah muncul satu sariawan lagi di
bawah lidah. Aarrghh! kenapa ini sariawan tiba-tiba berkomplot untuk tiba-tiba
eksis. untung mereka enggak begitu mengikuti tren, yaitu buat semacam boyband
atau girlband yang anggotanya sekarang bisa se-RT. Cukup duo aja.
Cukup dua sariawan
untuk membuat nafsu makan dan bicara berkurang. Jangankan bicara, mau senyum
aja pipi rasanya kaku. Makanan enakpun kenikmatannya sedikit berkurang
(walaupun tetap aja enak). Suatu hari sambil makan siang dengan perlahan,
akupun berpikir sebab munculnya sariawan yang tiba-tiba unjuk diri, padahal
konsumsi vitamin juga oke.
Tiba-tiba aku
teringat beberapa hari sebelum ini aku mengganti sikat gigiku. Tampaknya
sariawan-sariawan ini muncul seiring dengan masa penyesuaian diri dengan sikat
gigi baru. Dasarnya mulut udah nyaman sama struktur sikat gigi yang lama, dia
pun protes waktu kenalan sama sikat gigi baru. Bulu sikat gigi baru masih kaku,
jadi menusuk ke sana-sini.
Sambil melamun (dan
merenungi sariawan yang muncul), akupun jadi berpikir "mungkin ini yang
namanya Move On". Seiring dengan terkenalnya istilah galau
maka Move On alias melanjutkan hidup, juga ikut terkenal. Biasanya orang
yang galau, adalah orang yang susah melanjutkan hidup setelah melalui hal yang
berat, misalnya berpisah dengan orang yang disayang.
Baiklah, kuanggap
ini caranya mulutku untuk move on. Dia masih melalui masa berat setelah
kupisahkan dari sikat gigi lama, dan akibatnya dia galau dengan cara muncul
sariawan yang akhirnya membuat enggak napsu makan. Persis seperti orang patah
hati kan?
Bagaimanapun dalam
hidup, kita harus terus move on. Ada hal-hal yang harus dilepas untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik. Mungkin yang harus kita lepas adalah orang
yang kita kasihi, entah bagaimana caranya. Bisa juga itu adalah pekerjaan lama
kita yang kita sudah merasa nyaman, atau mungkin barang-barang kesayangan yang
harus kita relakan,entahlah. Bagaimanapun tidak ada yang mudah dengan yang
namanya penyesuaian dengan hal baru tapi harus dilakukan. Seperti sikat gigi
yang harus diganti setiap tiga bulan sekali, untuk kesehatan. Bisa aja terus pakai yang
lama, tapi fungsinya tidak maksimal dan malah menyebabkan sakit yang lebih
parah. Buat apa diteruskan kalau hanya akan merusak diri?
Friday, May 25, 2012
Mereka (bukan) Hanya Anak Kecil
Suasana di kelas sangat ramai
Sekumpulan anak berumur tiga hingga empat tahun bermain bersama
Jarum jam menunjukkan pukul 11.35, sepuluh menit menuju kepulangan mereka
“Yesss!! Katanya sebentar lagi bel! Terus pulaang!!” teriak seorang anak
“Iya, aku mau pergi sama mama” sambung temannya
“Aku mau main di rumah!!” sahut anak lainnya.
“Okay, everybody please tidy up your chairs. Get back to your seats, because we will pray”, ujarku pada mereka. Sembari menunggu murid-muridku merapikan kursinya, tiba-tiba datang seorang murid perempuan menghampiriku dan berdiri di sebelahku.
Sembari tertunduk menulis sesuatu di mejaku, aku berkata “Kenapa Natalie?”
Nyaris setahun bersama mereka, cukup membuatku mengenal siapa yang berdiri tepat di sampingku tanpa perlu menolehkan kepala.
Beberapa detik kutunggu, tidak kunjung ada jawaban. Akhirnya aku pun menoleh padanya. Yang aku lihat adalah Natalie, terdiam dengan muka yang memerah, dan tetesan air mata perlahan turun dari kedua matanya membasahi kedua sisi pipinya.
“Lho, Natalie kenapa?” tanyaku dengan rasa kuatir, apakah ia terjatuh atau terluka.
“……………” masih tidak terdengar jawaban. Maka kutunggu ia beberapa detik hingga ia merasa siap. “Natalie nggak mau ke ruang tunggu nanti” jawabnya perlahan.
Aku pun terkejut dengan jawaban tersebut. Namun bila kuingat kembali, ia adalah anak yang nyaris setiap hari paling telat dijemput oleh orang tuanya. Saat teman-temannya berbaris dan dijemput oleh orang tuanya satu per satu saat mencapai pintu keluar, Natalie adalah anak yang hampir selalu harus menunggu di ruang tunggu dahulu.
“Lho kan Natalie bisa main-main sama teman-teman yang lain di ruang tunggu” ucapku padanya.
Ia pun membalas dengan gelengan perlahan padaku.
“Memangnya ada apa di ruang tunggu?” tanyaku, berusaha mencari tahu bila sesuatu terjadi padanya selama di ruang tunggu.
“Natalie takut nanti nggak dijemput sama mama” jawabnya dengan suara serak yang diringi dengan tetesan air mata.
Ahh.. aku mengerti sekarang. Ternyata bukan ruang tunggu yang membuatnya enggan, namun kenyataan bahwa orang tuanya belum datang menjemput itulah yang membuatnya takut. Akupun berusaha menghiburnya, dan mengatakan orang tuanya pasti menjemputnya, walaupun telat sedikit tapi bukan berarti orang tuanya lupa padanya. Mungkin ada hal penting yang harus dilakukan.
“Tapi mama sudah janji nggak telat lagi”, ucapnya, yang akhirnya membuatku terdiam.
Kita sering berpikir bahwa anak kecil adalah tidak pernah mengalami rasa susah, tidak pernah kuatir, mudah untuk diarahkan atau dialihkan. Cukup dibujuk sedikit, mereka akan teralihkan, karena mereka masih sangat polos. Namun kita sering menyalahgunakan atau menganggap ringan apa yang kita ucapkan pada mereka, walaupun mungkin itu hanya hal kecil.
Mungkin banyak yang sudah tahu bahwa pada usia di bawah lima tahun, mereka belajar banyak hal, seperti bahasa, berhitung, kecerdasan kinestetik, musik, seni, dan hal lainnya. Namun mungkin kita lupa bahwa di usia ini, mereka juga belajar tentang karakter, seperti bertanggung jawab, rendah hati, jujur, dan dapat dipercaya. Tidak ada yang dapat mengajarkan tentang karakter itu selain orang-orang terdekatnya menunjukkan secara langsung.
Dalam hal ini aku belajar bahwa jangan pernah berjanji pada siapapun, termasuk pada anak kecil sekalipun, bila kita belum tahu dapat memenuhinya atau tidak. Dalam hal ini, mereka cukup dewasa untuk kita ajak bicara dan beri pengertian, apa sebab kita sulit untuk datang tepat waktu, tanpa perlu memberikan janji sebelumnya.
Mereka memang masih kecil, namun bukan berarti mereka yang harus terus belajar dari kita. Kita pun dapat belajar sangat banyak dari mereka. Mereka memang masih kecil, namun bukan berarti mereka dapat lupa dengan mudah apa yang kita katakana, terutama bila itu membuat mereka senang dan tenang.
Sekumpulan anak berumur tiga hingga empat tahun bermain bersama
Jarum jam menunjukkan pukul 11.35, sepuluh menit menuju kepulangan mereka
“Yesss!! Katanya sebentar lagi bel! Terus pulaang!!” teriak seorang anak
“Iya, aku mau pergi sama mama” sambung temannya
“Aku mau main di rumah!!” sahut anak lainnya.
“Okay, everybody please tidy up your chairs. Get back to your seats, because we will pray”, ujarku pada mereka. Sembari menunggu murid-muridku merapikan kursinya, tiba-tiba datang seorang murid perempuan menghampiriku dan berdiri di sebelahku.
Sembari tertunduk menulis sesuatu di mejaku, aku berkata “Kenapa Natalie?”
Nyaris setahun bersama mereka, cukup membuatku mengenal siapa yang berdiri tepat di sampingku tanpa perlu menolehkan kepala.
Beberapa detik kutunggu, tidak kunjung ada jawaban. Akhirnya aku pun menoleh padanya. Yang aku lihat adalah Natalie, terdiam dengan muka yang memerah, dan tetesan air mata perlahan turun dari kedua matanya membasahi kedua sisi pipinya.
“Lho, Natalie kenapa?” tanyaku dengan rasa kuatir, apakah ia terjatuh atau terluka.
“……………” masih tidak terdengar jawaban. Maka kutunggu ia beberapa detik hingga ia merasa siap. “Natalie nggak mau ke ruang tunggu nanti” jawabnya perlahan.
Aku pun terkejut dengan jawaban tersebut. Namun bila kuingat kembali, ia adalah anak yang nyaris setiap hari paling telat dijemput oleh orang tuanya. Saat teman-temannya berbaris dan dijemput oleh orang tuanya satu per satu saat mencapai pintu keluar, Natalie adalah anak yang hampir selalu harus menunggu di ruang tunggu dahulu.
“Lho kan Natalie bisa main-main sama teman-teman yang lain di ruang tunggu” ucapku padanya.
Ia pun membalas dengan gelengan perlahan padaku.
“Memangnya ada apa di ruang tunggu?” tanyaku, berusaha mencari tahu bila sesuatu terjadi padanya selama di ruang tunggu.
“Natalie takut nanti nggak dijemput sama mama” jawabnya dengan suara serak yang diringi dengan tetesan air mata.
Ahh.. aku mengerti sekarang. Ternyata bukan ruang tunggu yang membuatnya enggan, namun kenyataan bahwa orang tuanya belum datang menjemput itulah yang membuatnya takut. Akupun berusaha menghiburnya, dan mengatakan orang tuanya pasti menjemputnya, walaupun telat sedikit tapi bukan berarti orang tuanya lupa padanya. Mungkin ada hal penting yang harus dilakukan.
“Tapi mama sudah janji nggak telat lagi”, ucapnya, yang akhirnya membuatku terdiam.
***
Kita sering berpikir bahwa anak kecil adalah tidak pernah mengalami rasa susah, tidak pernah kuatir, mudah untuk diarahkan atau dialihkan. Cukup dibujuk sedikit, mereka akan teralihkan, karena mereka masih sangat polos. Namun kita sering menyalahgunakan atau menganggap ringan apa yang kita ucapkan pada mereka, walaupun mungkin itu hanya hal kecil.
Mungkin banyak yang sudah tahu bahwa pada usia di bawah lima tahun, mereka belajar banyak hal, seperti bahasa, berhitung, kecerdasan kinestetik, musik, seni, dan hal lainnya. Namun mungkin kita lupa bahwa di usia ini, mereka juga belajar tentang karakter, seperti bertanggung jawab, rendah hati, jujur, dan dapat dipercaya. Tidak ada yang dapat mengajarkan tentang karakter itu selain orang-orang terdekatnya menunjukkan secara langsung.
Dalam hal ini aku belajar bahwa jangan pernah berjanji pada siapapun, termasuk pada anak kecil sekalipun, bila kita belum tahu dapat memenuhinya atau tidak. Dalam hal ini, mereka cukup dewasa untuk kita ajak bicara dan beri pengertian, apa sebab kita sulit untuk datang tepat waktu, tanpa perlu memberikan janji sebelumnya.
Mereka memang masih kecil, namun bukan berarti mereka yang harus terus belajar dari kita. Kita pun dapat belajar sangat banyak dari mereka. Mereka memang masih kecil, namun bukan berarti mereka dapat lupa dengan mudah apa yang kita katakana, terutama bila itu membuat mereka senang dan tenang.
Ya, mereka memang (bukan) hanya anak kecil, dan aku pun terus berusaha untuk memahami itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)
