Tuesday, October 19, 2010
Jagalah Mata, Jangan Kau Nodai..(part deux)
Jagalah Mata, Jangan Kau Nodai..
Setelah dilakukannya operasi kecil pada mata, aku pun bergegas menuju mobil dengan satu mata dalam kondisi tertutup perban (otomatis, dengan membayar dahulu pastinya pada dokternya). Menit - menit pertama masih terasa efek mati rasa di mata. Namun setelah sepuluh menit, mulai rasa nyeri alias "cekot-cekot" muncul di mata. Efek obat mati rasa mulai hilang dari mata.. aaargh..
Selama perjalanan pulang dari dokter, tidak banyak hal yang bisa kukatakan. Di mobil aku hanya diam sambil memegangi satu mata, dan menanti saat - saat untuk tiba di rumah. Sesampainya di rumah, hal yang muncul di kepalaku hanya satu: MAKAN. karena kalau sudah makan, artinya aku bisa minum obat penghilang rasa sakit, yang juga artinya mengakhiri penderitaanku yang meringis-meringis karena sakit.
Memasuki rumah, bergegaslah aku duduk di meja makan. Membuka piring yang disusun dengan terbalik di meja makan rumah. Kejanggalan pertama terasa. Sewaktu mau mengambil makan, rasanya ada yang aneh. Aku seperti orang yang nggak fokus untuk mengambil barang. Jelas tangan kananku memegang sendok, dan tangan kiri memegang garpu, tapi rasanya aneh karena aku melihat barang seakan - akan hanya bertumpu pada mata kanan, dan terlebih lagi aku tidak bisa melihat banyak benda yang ada di sebelah kiri karena mata kiriku diperban. Bagaimanapun, aku harus segera menyelesaikan makanku, meminum obat, dan bergegas tidur.
Esok harinya, aq terbangun dengan mata yang diperban, dengan perban semalam. Rencana hari ini adalah mandi, lalu membuka perban. Haaah..menjalani waktu - waktu selama belum membuka perban ternyata tidak mudah. jadi berhubung aku sedikit nganggur di rumah, dan nggak bisa membaca banyak-banyak, untuk terlalu lama melihat laptop juga susah, akhirnya aku pun memilih untuk menghabiskan waktu dengan menggunakan kuteks untuk kuku tanganku.
Ambil kuteks, kuangkat kuas, kusapukan kuas di kuku ku. tidak ada yang susah bagiku, sekalipun harus dengan satu mata tertutup. Masalah ternyata baru timbul saat aku harus memasukkan kembali kuas kuteks ke dalam botolnya. Meleset sana sini. dibutuuhkan waktu beberapa menit untuk bisa benar - benar memasukkan kuas seutuhnya ke dalam botolnya. Kalau setiap habis memoles satu kuku, aku harus memasukkan kuas ke dalam botol, bisa dibayangkan berapa kali aku harus mencoba "memfokuskan" tanganku untuk memasukkan kuas ke dalam botol.
Tidak cukup "perang" dengan kuteks. Setiap berjalan pun tidak jarang aku menabrak sesuatu di sebelah kiriku, contohnya sofa dan kursi. Yah, memang sedikit menjengkelkan kalau tidak bisa melihat dengan utuh. Seperti biasa melihat TV dengan gambar yang penuh, tiba-tiba sekarang hanya dapet setengah gambar.
Akhirnya hari menjelang sore, aku baru memutuskan untuk membuka perbanku sendiri, dengan perkiraan bahwa luka pasca operasi sudah bisa dibiarkan tanpa penutup. Tentunya, dokterku juga sudah mengizinkan aku untuk membuka perban. Proses melepas perban tidak menyiksa sama sekali. Cepat, tidak sakit, dan mudah untuk dilakukan sendiri. Aku melihat di kaca, mataku sudah membaik, tapi masih membiru bekas injeksi dan masih ada sisa-sisa luka pasca operasi.
Masalah baru muncul saat aku mengalihkan arah mataku untuk melihat perban yang ada di genggaman tanganku. Kira - kira 30 cm di depan mataku. eaaaa.... karena nyaris 24 jam mata kiriku tertutup, sekarang waktunya mata kiri untuk "bersinkronisasi" dengan mata kanan. Untuk melihat hal-hal dalam jarak dekat, aku bisa melihat semuanya jadi dua. untuk limat menit awal, lagi-lagi aku harus sedikit nabrak-nabrak sana sini. setelah lima hingga sepuluh menit awal, akhirnya mataku pun mulai bisa menyesuaikan diri. lambat laun, akhirnya mataku bisa bekerja sama dengan baik antara yang kiri dan kanan.
***
ada yang bilang kalo mata adalah jendela hati. Bukan berarti kalo aku sakit mata, trus artinya hatiku ikutan kotor. kurang lebih, inilah jadinya saat hati kita nggak beres. mungkin karena kita tidak bisa menjaga hati kita untuk tetap terjaga bersih melalui apa yang kita lihat. Kenapa kok harus apa yang kita lihat? ya biasa, apa yang seirng kita lihat, akhirnya jadi sering nyantol di kepala, akhirnya kepikiran terus, ujung-ujungnya melahirkan sebuah tindakan.
akhirnya kita harus melalui cara yang panjang, merepotkan, menyakitkan, bahkan sampe bikin nabrak-nabrak sana sini. Buang waktu? iya. padahal jelas ada kerjaan lain yang harus dikerjakan, tapi karena "sakit" akhirnya hanya bisa berputar - putar di masalah yang sama untuk menyembuhkan diri. Buang tenaga? jelas. Buang materi? iya.
Kalau aku, menjaga mataku dengan luar biasa seperti ini, apalagi Tuhan yang jelas-jelas mengasihi kita seperti biji mata-Nya?
Monday, October 18, 2010
Jagalah Mata, Jangan Kau Nodai..
Konsultasi melalui telepon pun kulakukan dengan salah seorang dokter mata kenalanku,dan akhirnya tercetuslah nama sebuah obat. Dari referensi beberapa pihak yang juga pernah mengalami hal yang sama, maka akhirnya meluncurlah aku ke apotik. Kubeli obat dengan semangat '45, berkeyakinan segala sesuatunya akan lebih baik dalam waktu 2 - 3 hari. Selain itu, ada lagi tambahan obat cina pemberian seorang sahabat dan tampaknya memang cukup ampuh.
hari pertama... lewat.. hasilnya : bengkak
hari kedua.... lewat... hasilnya : masih bengkak disertai diare (yang notabene adalah efek dari obat cina)
hari ketiga hingga kelima lewat.. hasilnya: tetep bengkak. walaupun sudah nggak separah hari-hari awal yang mengakibatkan bengkak menyeluruh di mata. paling nggak, sekarang bengkaknya sudah sedikit "terarah", cuma di ujung mata kiri.
o'o..ada apa ini? Padahal aktivitas masih menumpuk. Jangankan buat keluyuran, untuk baca atau ngeliat lama - lama aja rasanya udah "aduhaaaii".
Pemikiran berikutnya, "okay, gimana caranya bisa keluyuran dengan mata yang asimetris?" walaupun sekarang memang lagi zamannya mode asimetris, but..if it happened to our eyes because of illness, it wasn't cool at all.
Well, thx Lord for the thing named "eyeliner". Dengan berbagai cara, kucoba menutupi bengkaknya. Tapi tetep aja, yang namanya ditutupi, mau gimana pun juga tetep keliatan. Selain eyeliner, kacamata jadi sahabat terdekatku. Memang pada dasarnya aku harus menggunakan kacamata karena minus dan silindris di mata, hanya saja aku baru menggunakannya pada saat - saat tertentu. Semenjak sakit, kacamata hanya lepas dari mataku cuma waktu tidur.
Akhirnya setelah satu setengah minggu bengkak tanpa kejelasan, sampailah pada keputusan akhir : Ke dokter mata untuk menyembuhkan "hal-yang-kukira-timbilen" ini. Dengan jurusnya, dokter pun memberikan beberapa obat. Dari obat tetes, sampe obat minum. hasilnya: nihil. Oke, permasalahan dengan mata ini bikin stress. Soalnya tiap hari susah mau melihat dengan bener, dan otomatis bikin kepala gampang pusing & berat karena untuk bisa melihat jelas aja harus "ngotot".
Banyaknya obat ternyata tidak menghasilkan apapun. Akhirnya langkah selanjutnya pun ditempuh: operasi kecil. Tepat dua minggu setelah bengkak awal muncul, yaitu tanggal 14 Oktober 2010 di"lenyapkanlah" bengkak di ujung mata sebelah kiri. HUAHAHA..SAATNYA SAKIT INI MENEMUI AKHIR DARI KEBERADAANNYA!
okay, tidak ada yang bisa diceritakan mengenai bagaimana proses operasinya. Bukan karena aku dalam kondisi tidak sadar waktu dioperasi, melainkan karena aku sepenuhnya sadar sewaktu dokter melakukan segala hal pada mataku. Percayalah, tidak ada dari bagian itu yang ingin kalian dengarkan lebih lanjut =p
Penyebabnya simple.. infeksi. Infeksi karena udara kotor, tangan kotor yang memegang mata, lalu terjadi pembengkakan, penyumbatan, dan menghasilkan sebuah gumpalan asing sehingga cara menghilangkannya pun juga harus dengan cara yang luar biasa. Bukan hanya dengan obat - obatan biasa.
so, bagaimana hari - hari awal setelah operasi? aku harus membiasakan diri melihat hanya dengan satu mata. mudah? enggak. Nabrak sana - sini? iya..
*to be continued to : Jagalah Mata,Jangan Kau Nodai (Part Deux)
Thursday, September 16, 2010
Seberapa Sering Kita Membolos?

Suatu hari di sebuah kelas..
"Kenapa kamu pakai sepatu seperti itu?" tanya seorang dosen pada mahasiswanya
"lho memang kenapa bu?" jawab mahasiswa itu kaget
"kamu nggak hadir di pertemuan pertama?" selidik sang dosen.
"nggak, Miss."
"ya sudah, tolong minggu depan jangan pakai sepatu itu seperti itu." sang Dosen pun mengakhiri pembicaraan.
Pada pertemuan keempat sebuah matakuliah, seorang dosen menghampiri seorang mahasiswa. Mahasiswa tersebut mengenakan sepatu yang menurut sang dosen tidak sesuai dengan
standard yang telah ditetapkan. Setiap ketentuan berpakaian, penilaian, semuanya telah dibahas pada pertemuan pertama yang sayangnya
sang mahasiswa tidak hadir. Entah karena dia menganggap remeh pertemuan pertama sehingga dia tidak bertanya pada temannya,
entah apakah dia sudah bertanya pada temannya namun tidak mendapat jawaban yang lengkap, atau mungkin ada alasan lain entah apapun itu,
namun yang pasti sang mahasiswa didapati tidak menggunakan atribut sesuai standard hanya karena ia tidak hadir pertemuan sebelumnya.
Cerita di atas berdasarkan sebuah kejadian nyata, dan mungkin sudah umum terjadi di kalangan mahasiswa.
salah paham, salah informasi, kurang lengkap informasi sehingga mengakibatkan kurang siapnya mahasiswa. Bahkan di bulan - bulan akhir
masa "kemahasiswaan"ku, masih ada salah informasi yang terjadi di kalangan teman teman mahasiswa seangkatanku, padahal sudah menyangkut hal - hal penting
seperti proposal skripsi dan skripsi. Misalnya syarat sidang proposal, syarat skripsi, dan lain - lain.
Yah bisa dikatakan, semakin banyak lidah dalam menyampaikan informasi, kemungkinan informasi mengalami gangguan juga besar, hingga akhirnya menjadi "salah".
paling aman adalah pastikan sendiri. Misal, dengan menyimak di kelas dengan baik, baca di papan pengumuman, atau bertanya pada dosen yang bersangkutan.
dalam hidup ini ada satu kelas yang tidak akan pernah berhenti. Kelas matakuliah "Pengenalan Tuhan".
Dalam hidup ini seberapa sering kita memilih untuk tidak masuk sendiri di dalam kelas, untuk mendengarkan Dia dan menghabiskan waktu bersama Dia.
Kita mungkin lebih memilih "mendengarkan" dari pemimpin - pemimpin kita di gereja dan saudara - saudara seiman kita tentang bagaimana baiknya Dia,
apa yang Dia perintahkan, apa yang Dia inginkan.
Aku secara pribadi, ada saat - saat di mana aku hanya mengenal Dia dari cerita orang. Akibatnya, saat waktu "ujian" datang, aku bingung sendiri.
Aku mencoba bereaksi berdasarkan "cerita" dari teman - teman yang rajin hadir di kelas, yang mengalami waktu - waktu bersama Dia dan mendapat pengajaran dari Dia secara utuh.
Padahal kita tahu bahwa tidak ada yang sama dalam cerita kehidupan masing - masing orang. Apa yang berlaku buat si A, berlum tentu berlaku bagiku, begitu juga sebaliknya.
Dengan aku bertanya pada orang- orang yang hadir di kelas aku memang mendapatkan "gambaran" tentang siapa Dia.
Tapi sebuah "gambaran" ternyata tidak cukup sebagai "senjata" untuk menghadapi semua pertanyaan dalam ujian.
Bagi teman - teman yang rajin mengikuti kelas, untuk bisa menjawab dengan benar di setiap pertanyaan saja sudah membutuhkan sebuah usaha ekstra.
Apalagi bagi aku yang masih kedapatan membolos.
Selayaknya mahasiswa yang suka membolos, maka jawaban ku pun mungkin bisa "setipe" dengan teman - temen yang lain karena aku bertanya pada mereka.
tapi jelas bahwa aku sendiri tidak tahu apa yang aku tuliskan. aku hanya "tahu" tapi tidak mendalaminya, tidak memahaminya.
Akhir cerita di atas adalah sang dosen akhirnya memutuskan untuk tetap mempersilahkan sang mahasiswa tetap berada di kelas dan mengikuti perkuliahan.
Tidak semua dosen mau bermurah hati seperti dosen ini. Ada dosen yang akan "mempersilahkan' mahasiswanya untuk keluar dari kelas karena didapati tidak
berperilaku sesuai standard, entah apapun alasannya.Seberapa banyak kemurahan yang masih kita "harapkan" dari dosen yang baik hati itu?
Kita pun juga tidak mengetahui, seberapa lama waktu yang diberikan pada kita untuk menjadi "mahasiswa".
Monday, September 6, 2010
Penguin of Madagascar: Unity in Diversity

Setelah membahas tentang kuda dan pacuannya, saatnya beralih ke kehidupan para penguin...
---------------------------------------------------------------------------------
Dalam rangka masih mengenang masa - masa kuliah, selesainya kuliahku nggak lepas dari temen - temen yang "lalu lalang" dalam hari-hariku.. Dengan siapa kamu bergaul, menentukan juga kamu adalah orang seperti apa. Aku sepenuhnya bersyukur kepada Tuhan, aku dipertemukan dengan temen-temen yang luar biasa..
Luar biasa menghibur
Luar biasa menyemangati
Luar biasa setia menemani hari-hariku..
Penguins of Madagascar.. yak, we named ourselves after penguins in Madagascar Movie haha..
we have our own kowalski, the one who loves to write.. *waving to jess*
then we move to private, the curvy kind-hearted one..*waving to vivi*
next, RRRIICCCOO... the one with her words "eeeh?" and black circle around her eyes hihihi.. *hi Lev*
the hilarious one with unique accent, King Julien * poke henry*
The tiny cute one, with subtle voice, mort *helloo agnes*
and the one who loves to dance, Gloria... *ollaa karin"
me? they consider me as skipper. the Leader of penguins of madagascar haha..
Lucu juga kalo diinget - inget gimana kami bisa ketemu. kalo diceritain secara singkat, jadinya begini:
aku sama vivi, bertemu Jess sama Levina. Trus, muncul henry, dan di semester berikutnya dekatlah kami sama karin sama agnes. meskipun ga selalu sekelas, tapi selalu inilah personil dari hari-hari kami..
Okay, mungkin kami sedikit seperti anak ABG yang sibuk cari nama geng. tapi nama "geng" ini juga nggak sengaja ketemu, dan jujur, sebenernya ga ada itu geng-geng'an segala. haha.. soalnya kalo udah kuliah, semua temen udah "nyampur jadi satu". but just like a pair of shoes, masing2 ada "keterikatannya" sendiri-sendiri.
Nama geng muncul gara-gara waktu kami nonton film Madagascar, ternyata pas banget epenguin - penguinnya tingkahnya mirip haha..
Seenggak-enggaknya, yang membedakan kami dari anak-anak ABG adalah "kami menghindari nama yang cool yet cute ala anak ABG". contohnya : funky galz, PinkyMomoCuteZ, ato sejenisnya..
that's how we attached to each other.
Persahabatan ini nggak akan pernah disebut "Penguin of Madagascar" kalo masing-masing dari kami tetap menyebut diri kami sendiri sebagai "acha", "vivi", "jess", "lev,"henry,"agnes", "karin".
nggak ada yang namanya "geng" atau temen deket,kalau orang lain pun masih tetap mengenali kami sebagai masing-masing individu.
Demikian juga dengan pelangi..
nggak ada yang akan menyebutnya "pelangi" saat kita masih terus memisahkan dan membeda-bedakan merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu.
Tidak akan ada yang menyebutnya sebagai sebuah kesatuan, saat semua orang yang melihatnya pun juga sibuk memisahkan satu sama lain..
Tidak akan yang ada dapat melihat keindahannya, saat semua yang melihat hanya memutuskan untuk melihat pada satu warna.
jadi, cintailah perbedaan...karena itu akan menjadi indah saat disatukan.
Tuesday, August 31, 2010
Flashback ke Pacuan Kuda : Kuda dan Para Pawang
Me With Fanny Lesmana, M.Med.Kom
Me With Desi Yoanita, S.Sos
Twitter.. Facebook.. BBM, dan media online lain yang isinya anak – anak Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) UK. Petra isinya tentang skripsi atau proposal skripsi. Ini berlaku pastinya untuk mahasiswa angkatan 2006 dan 2007.
Ada yang putus asa…
Ada yang santai – santai..
Ada yang tetap optimis..
Macem – macem deh. Proses dari proposal skripsi sampe skripsi memang rasanya kayak ngemut permen yang manis, asem, asin, sambil naik rollercoaster yang muter-muter nggak karuan, sambil cuacanya gentian panas-ujan. Yah, dibayangin sendiri aja hehe.. But believe me, someday you will recall this moment, smile, and say “I had passed it thru”.
Buat temen-temen, beberapa postingan bersambung tentang pacuan kuda mungkin bisa membantu kalian untuk tetap optimis. Secara garis besar, postingan itu isinya tentang perjalanan proposal skripsi, kerjaanku, sampe skripsi, dan akhirnya taraaa..aku udah menyelesaikan semua. Semuanya itu dalam waktu satu semester, bahkan skripsi dalam waktu satu bulan dari bab satu sampe lima.
Dalam postingan itu, aku mengandaikan aku adalah kuda, yang sedang berpacu di lintasan skripsi..dan Tuhan sebagai Pengendaraku. Aku sepenuhnya mempercayakan langkah kakiku pada Pengendaraku, dan tugasku adalah berlari sekuat tenagaku, mengikuti arahan-Nya, sambil menggunakan kacamata kuda.
Seperti cerita sebelumnya juga, ada dua pembimbingku: Fanny Lesmana (yang saat tulisan ini dibuat sudah bergelar M.Med.Kom :p) dan Desi Yoanita, S.Sos (Soon to be M.Med.Kom).
Tidak pernah habis rasa syukurku pada-Nya karena sudah memberikan dua pembimbing yang luar biasa. “Cerita Perjuangan” kami di pacuan kuda ada di cerita – cerita sebelumnya. Ada yang belum aku bahas, yaitu gimana ceritanya mendapatkan mereka sebagai pembimbing tuh seperti “impian yang jadi kenyataan” hahaha..
Latar belakang kedua dosen pembimbingku ini adalah komunikasi massa, khususnya jurnalistik. Sedangkan aku, berlatar belakang komunikasi korporat, yaitu Public Relations. Kalau dipikir-pikir, sampai kapanpun juga ‘nggak bakal ketemu. Aku pernah nyeletuk asal, duluuu jauh sebelum aku berkutat sama yang namanya proposal skripsi, entah kedua dosenku ini inget ato nggak..
“Kira-kira, judul skripsiku apa ya, biar dibimbimbing kak Fan sama Miss Desi?”
hehe.. yah,secara pribadi, memang kami dekat..dan, buat aku sendiri, aku udah anggep mereka kayak kakak-kakakku sendiri.
Seiring berjalannya waktu, Kak Fan (panggilanku untuk Fanny Lesmana, M.Med.Kom) nambah ngajar tentang komunikasi organisasi. Gitu juga sama MD (panggilanku untuk Desi Yoanita, S.Sos), yang akhirnya juga ngajar komunikasi interpersonal. Kalo’ dua matakuliah ini, baik anak komunikasi massa maupun anak komunikasi korporat pasti dapet. Jadi yah, bisa dibilang ini matakuliah core.
Akhirnya hari demi hari berlalu, bulan demi bulan, dan tibalah waktunya aku ngerjain proposal skripsi. Singkat cerita, setelah melalui berbagai macam proses, akhirnya ditetapkan judulku adalah “Komunikasi Interpersonal antara Human Resource Department dengan Karyawan dalam Penyampaian Kabar Buruk di RS. XYZ Surabaya”. Pada hari pengumuman nama dosen pembimbing, taraaa… lihatlah, dua nama dosen ini yang tercatat sebagai pembimbingku. See, mulutmu adalah doamu, dan Thx God karena udah mengabulkan doaku =)
Karena kepercayaan mereka, aku bisa mengumpulkan skripsi tanggal 24 Mei 2010.
Karena bantuan mereka aku berdiri di auditorium pada tanggal 6 Agustus 2010 sebagai salah satu wisudawan UK. Petra.
Karena kasih sayang dari mereka, penghargaan cumlaude aku dapatkan. Mungkin mereka nggak in charge dalam setiap matakuliah yang aku jalani, tapi dukungan dan inspirasi dari mereka yang ikut mewarnai hari-hariku selama empat tahun di Fikom UK. Petra.
Satu hal yang paling penting.. karena pengabdian mereka, bukan hanya aku yang diberkati, tapi juga anak-anak Fikom lainnya.
Pesan buat temen-temen yang lain:
Berpikir positif.. dengan begitu, kamu seperti menarik hal – hal positif untuk “mendekat” padamu.
Sunday, August 8, 2010
Teruntuk Orang Tua ku...

Jumat, 6 Agustus 2010. Pk 14.00
Dimulailah acara Wisuda ke - 58 Universitas Kristen Petra Surabaya Shift Ke-2 yang berarti juga adalah giliran untuk Jurusan Ilmu Komunikasi untuk melangsungkan prosesi wisuda di auditorium UK. Petra, lantai 2 Gedung EH.
Aku bersama beberapa anak komunikasi yang sudah "nongkrong" sambil heboh foto-foto di lantai 1 pun mulai menyiapkan diri untuk naik ke tempat acara berlangsung. Mengantri masuk bersama para orang tua, kami pun akhirnya memasuki auditorium.
Saat masuk ke dalam auditorium, otomatis kepalaku "tolah-toleh" sambil mikir "papa mama duduk mana ya?". nggak lama ada suara yang manggil "Cha!". Ternyata itu mama, yang lagi manggil sambil melambaikan tangannya supaya aku bisa langsung keliatan mama duduk di mana. Mama, papa, dan om ku (yang juga hadir waktu aku wisuda) duduk di barisan paling depan di kursi untuk orang tua, yang posisinya berada tepat di belakang para wisudawan ilmu komunikasi. Aku waktu itu duduk di baris kedua dari belakang, di kumpulan wisudawan ilmu komunikasi.Jadi antara orang tuaku, dan aku, hanya dipisahkan 1 baris kursi wisudawan fikom.
Memasuki ruang wisuda, aku masih bisa ketawa - ketawa, masih "ngerumpi" sama temen-temen lain. Maklum, fikom..(fakultas ilmu komunikasi) kami seringkali terlalu akrab hahaha..Hingga akhirnya sekitar pukul 14.30, MC (Master of Ceremony) membuka acara. Setelah itu jajaran senat yang terdiri dari rektor dan dekan semua fakultas memasuki auditorium. Diiringi musik instrumen yang mengalun dengan megah,jajaran senat memasuki ruangan dengan menggunakan baju toga, lengkap beserta topinya. Mudahnya, aku akan menggambarkan seperti suasana sekolah Hogwarts Harry Potter, di mana setiap murid dan gurunya menggunakan jubah hitam panjang.
waktu jajaran senat memasuki ruangan.. jujur, yang terlintas di kepalaku "Cieee.. Dekanku emang kereeeen.... ". Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi, Felicia Goenawan, S.E., M.Si menggunakan baju toga hitam panjang, berjalan dengan senyum, dan tentunya ada topi toga on her pixie hair. FUNKY! KEREN! and still..Looked so Actively Smart :)
Setelah acara resmi dibuka oleh rektor UK. Petra yaitu Prof. Ir. Rolly Intan, M.A.Sc., Dr.Eng. Kami lanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, yang kemudian kami lanjutkan dengan menyanyikan Hymne Petra. Sulit dipercaya, mungkin ini adalah kali terakhir kami secara resmi menyanyikan Hymne Petra setelah kurang lebih empat tahun di Petra. Masih terbayang jelas di kepala kami para wisudawan saat pertama kami belajar Hymne Petra adalah saat masa orientasi Petra yang disebut P3KMABA, tepat empat tahun yang lalu. Saat ini justru kami menyanyikan untuk yang (mungkin) terakhir kalinya secara resmi.
Acara kemudian dilanjutkan dengan rangkaian pembuka, mulai dari penyampaian Firman Tuhan, persembahan dari Paduan Suara Universitas, singkat cerita tibalah saat prosesi pemanggilan wisudawan satu per satu untuk ditahbiskan. Dimulai dari deretan pertama berdiri. Aku waktu itu masih santai, mengingat aku duduk di deretan keempat. Deretan pertama adalah mahasiswa jurusan sastra, dilanjutkan dengan mahasiswa teknik, lalu mahasiswa fikom. Deretan amahsiswa fikom dimulai dari deretan ketiga. Saat deretan kedua berdiri, temen-temen fikom yang duduk di deretan ketiga sudah mulai panas-dingin. Kami yang duduk di deretan keempat pun ikutan "spaneng" alias tegang. Padahal sebelumnya saat gladi bersih, kami bisa menguasai diri dengan baik.
Akhirnya tiiba juga giliran mahasiswa fikom yang di deretan ketiga untuk berdiri dan maju. giliran aku dan temen - temen yang di deretan keempat bener-bener jadi tegang mendadak. tegang ini mungkin lebih karena, kami secara resmi akan berdiri, berjalan naik ke atas panggung, ditahbiskan oleh dekan dan rektor kami, dengan disaksikan orang tua kami. Aku khususnya, tegang karena takut akan melakukan kekonyolan. misal, karena tegang kesandung rok kebaya, atau jangan-jangan lupa salaman sama rektor. eaaaa...
Waktu aku berdiri, akan menuju tangga panggung, aku menoleh ke arah keluargaku. Mereka sih ketawa-ketawa dengan tampang yang seolah - olah berkata "gaya, mau diwisuda". Saat aku sudah ada di pinggir tangga, lagi - lagi aku menoleh ke arah mereka. Aku hanya melihat papa seperti melambaikan rendah tangannya. satu demi satu tangga aku naiki, dan taraaa..tibalah aku di pinggir panggung. "HAAAHH".. hela napas ku dapat kurasakan. Entah kenapa, rasanya saat aku berdiri di pinggir panggung, aku seakan-akan ingin bilang "Pa, Ma, sebentar lagi secara resmi aku mendapatkan gelar sarjanaku, dan ini semua untuk kalian".
Tidak lama MC pun memanggil namaku, dan aku pun melangkahkan kaki menuju dekanku untuk pemindahan tali di topi toga, diiringi dengan tepuk tangan dan sorakan dari teman-teman fikom. Kami mahasiswa fikom memang berjanji, saat SETIAP wisudawan fikom dipanggil, kami akan bertepuk tangan sebagai tanda ucapan selamat dari masing-masing kami untuk temen kami. Setelah dari dekan, aku menuju ke rektor UK. Petra, bersalaman dengan beliau, dan turun dari panggung. Setelah turun dari panggung, aku tidak kembali, tapi melanjutkan jalan ke arah luar auditorium. Di sana, aku dan rekan-rekan mahasiswa lain yang mendapat gelar aktif berprestasi dan cumlaude akan dipersiapkan, untuk nanti kami masuk kembali dan menerima penghargaan dari wakil rektor dan rektor.
Berjalan dari arah panggung menuju luar auditorium, aku melewati mamaku. Tidak ada kata yang bisa terucap melainkan sebuah tawa lebar dari aku untuk mama, begitu pula dengan sebaliknya. Air mata karena haru masih dapat ditahan dan aku melewati mama, namun dalam hati ingin rasanya aku mengucapkan "AKHIRNYA MAA!!"
Di luar, kami para wisudawan cumlaude dan aktif berperstasi dibariskan lagi sesuai urutan kami. Lalu dimulai dengan wisudawan aktif berprestasi berbaris memasuki ruangan lagi.. setelah wisudawan aktif breprestasi dipanggil satu per satu, dan foto bersama jajaran senat, dilanjutkan dengan wisudawan cumlaude. aku pribadi diizinkan Tuhan untuk bisa berada bersama wisudawan cumlaude lainnya. Kami para wisudawan cumlaude dibagi dalam tiga kloter. Aku berada di kloter kedua.
Kloter pertama berjalan memasuki ruangan. Nama mereka dipanggil satu per satu untuk diberikan tabung emas oleh wakil rektor, dan bersalaman dengan rektor, lalu menempati posisinya untuk foto. Lagi-lagi para wisudawan fikom bersepakat, setiap wisudawan fikom yang meraih cumlaude atau aktif berprestasi dipanggil, mereka akan bertepuk tangan, namun kali ini juga dibarengi dengan berdiri. yaah..bahasa asingnya, standing ovation gitu.
setelah kloter pertama, tibalah waktunya kloter kedua untuk memasuki ruangan.
Diiringi dengan instrumen megah, aku melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan. Saat memasuki ruangan, lagi-lagi aku melewati orang tuaku. Ada rasa dalam hati yang ingin mengatakan "Ma, Pa, ini aku masuk lagi, untuk mendapat penghargaan, dan ini semua juga karena doa dan dukungan kalian". Dengan rasa berdebar-debar (lagi) aku pun berbaris, menunggu giliranku untuk menaiki panggung.
Setapak demi setapak, anak tangga demi anak tangga aku lewati, dan inilah aku sedang berdiri di bibir panggung. Ketika MC menyebutkan namaku, jurusanku, dan IPK ku, aku pun melangkahkan kaki menuju tengah panggung dimana wakil rektor dan rektorku berdiri untuk bersalaman memberi selamat, dan (Lagi-lagi) diiringi dengan tepuk tangan dari teman-teman wisudawan fikom. Setelah itu aku melangkahkan kakiku menuju ke panggung kecil tempat wisudawan cumlaude berdiri, tepat di belakang jajaran senat, untuk foto bersama.
Yak, saat inilah yang paling berat. kenapa?
karena inilah saat di mana aku akan berdiri, menghadap teman - teman wisudawan, menghadap ke orang tua dan omku, aku mengangkat tabung sebagai tanda cumlaude dan foto bersama wisudawan cumlaude lain di kloter kedua. Berat rasanya harus menahan air mata bahagia dan haru. Pa, Ma, ini yang bisa aku persembahkan buat kalian. Aku tau papa mama percaya bahwa aku memberikan yang terbaik, sekalipun misalnya aku tidak menerima predikat cumlaude. Tapi dengan penghargaan ini, ada rasa bahagia karena aku bisa memberikan "Bonus" untuk keluargaku, khususnya papa mama.
Prosesi wisuda pun dilanjutkan dengan pemanggilan wisudawan cumlaude kloter ketiga, sambutan dari wakil wisudawan, dan rektor. Singkat cerita, setelah prosesi wisuda berakhir, kami para wisudawan diberikan kesempatan foto bersama dosen di jurusan kami. Setelah itu acara foto-foto pun berlanjut di luar ruang wisuda bersama dengan teman-teman lain yang menunggu di luar ruang wisuda.
Pa, Ma, acha tau ini bukanlah suatu akhir. Ini adalah sebuah awal dari langkah hidup selanjutnya. Acha bersyukur acha diberi kesempatan oleh Tuhan untuk membanggakan dan membahagiakan papa mama. Setiap langkah dan keberhasilan, tidak lepas dari doa, semangat, dukungan baik secara materi, jasmani, dan rohani dari papa mama. Terima kasih untuk doa yang tidak pernah putus untuk acha.
Friday, July 23, 2010
The History of my Blog...
Blog.. a familiar word that I've heard since i was in high school. Means since 2003-2006. But i never..ever.. paid serious attention to this "invention". For me, I'd rather talking, speaking than writing.
Duluuu..sebelum ada blog, sebenernya "sedikit" suka nulis, dan aku menyalurkannya lewat "notes" salah satu jejaring sosial, Friendster. Seiring dengan aku menutup Friendster ku, maka lenyap juga segala tulisanku, and still.. i haven't considered myself as a writer or blog-lover.
Seiring berjalannya kuliah Perketekom, blog ini pun sedikit demi sedikit terisi. lagi-lagi, ini terisi karena "disuruh" oleh dosen.
Di semester yang sama, aku juga sedang menjalani matakuliah "Teknik Mencari dan Menulis Berita" (TMMB). Dari judul matakul ini aja, udah keliatan kalo isinya pasti tentang tulis - menulis, yaah..jurnalistik gitulah, and i gave up easily. Maksudnya, jadi tulisanku ga' ada "taste" nya dan aku memaklumi, karena hal yang ada di kepala adalah "hellooo, saya ga suka nulis".
Selepas pertekom, dengan sukses blog ini terlantar dengan sempurna. Sampe' akhirnya semester empat, entah karena apa, muncul niat untuk update blog. Dimulailah cerita tentang perjalanan matakulaih desain web, trus cerita magang ku yang pertama di sebuah perusahaan. Just for fun aja..mengisi waktu.. sampai akhirnya ternyata ada beberapa orang yang baca and kasi komen. ada yang komen diblog, ada yang komen langsung, ada yang komennya lewat wall FB.
Sejak itu, aku mulai membiasakan diri untuk menulis. Bukan untuk suatu keharusan, tapi karena ingin menceritakan sesuatu, tapi nggak mungkin cerita satu persatu ke semua orang. Kadaaang..kalo lagi happy, ato justru lagi bad mood, ato lagi dapet ilham/pemikiran baru, aku bisa merasakan sebuah kelegaan kalo udah nulis di blog. Bisa juga waktu lagi "sibuk" berkutat dengan pemikiran sendiri, menulis membantu aku untuk mengeluarkan satu persatu kalimat.
Hal ini mungkin sulit aku lakukan kalo sambil "ngomong", karena kalo kita udah "ngomong", misaaall ada yang salah kata, atau kurang pas..sulit untuk kita tarik lagi. masak kita mau hipnotis semua orang untuk melupakan kalimat kita? yeah..communication is irreversible. kalo menulis, aku bisa belajar untuk menyusun satu persatu ide yang ada di kepala, hingga jadi sebuah susunan kalimat yang menggambarkan keseluruhan isi kepala & hati.
Menulis adalah..obat sakit kepala..
Begitu mood udah naik turun, banyak pikiran, atau ada kejadian tak terduga, curhatnya ya melalui menulis.
Menulis itu kalo aku gambarkan, kayak orang lagi mual, pengen muntah..trus akhirnya sukses keluar. (sorry for being "groosss")
Menulis..mungkin bisa mengurangi resiko terkena penyakit stroke atau depresi. karena buat aku, dengan nulis, semua perasaan, kesel, sedih, senang..bisa tersalurkan.
Menulis adalah cara refleksi diri. Kadang waktu aku lagi nulis sesuatu yang jadi pemikiranku, tiba-tiba di tengah nulis, bisa muncul ide baru..atau jawaban baru..yang buat aku pribadi membuka "jendela" ke sebuah pencerahan.
Menulis itu seperti melukis. aku pengen menggambarkan hal - hal yang aku alami, dan emosi yang aku rasakan.
Menulis adalah sebuah kejujuran. Pada saat aku menulis, aku hanya berusaha untuk menyalurkan apa yang aku rasakan. Lebih baik aku tidak menulis apa yang tidak aku rasakan, daripada aku menulis apa yang tidak aku rasakan.
Hal yang terus aku pelajari sampai sekarang adalah bagaimana membuat "menulis adalah memberkati".
Seiring berjalannya waktu.. yaa blog ini jadi sedikit lebih "layak" karena isinya udah diupdate.. =) thx buat semua yang udah kasi komen, walaupun komennya nggak di sini. ada yang di Wall FB, ada yang di nOtes FB, ada yang ngomong langsung. Semoga apa yang aku tulis juga bisa berguna buat semua yang baca. ooh iya, note tambahan.. merupakan hal yang bijak untuk bisa mempertimbangkan apa yang pantas atau enggak untuk kita tulis kalau akan kita publikasikan =)
Kalau memang itu untuk koleksi pribadi aja , yaah semacam diary, itu merupakan hak kita sepenuhnya. tapi kalau sudah dipublikasikan, sudah lain lagi aturan mainnya. Sekalipun menulis lebih bisa "diedit" daripada sebuah kata-kata yang sudah terlontar, tapi ingat bahwa ujung pena pun bisa lebih tajam dari sebilah pisau..yah walaupun dalam hal ini, kita nggak pake pena..;)