Pages

Thursday, March 25, 2010

aku dalam pacuan kuda

jujur aja kalo broadcast message (pesan berantai) emang ga pernah aku baca. Biasanya aku buka terus tekan “Delete”, muncul pilihan “End chat?, and I just simply choose “Yes”. End of story

Suatu waktu beredar broadcast message yang isinya tentang pacuan kuda. Isinya kurang lebih gini:

If life is a racing track, and you are the racing horse, let God be your Rider.

If you are suffering in pain, remember that God is pushing you to be the winner.

Broadcast message ini sesuai sama apa yang akhir – akhir ini aku rasakan. Jadi sebelum tu pesen sampe di HP ku, aku udah ngejalanin yang namanya seperti jadi kuda pacuan. Kok bisa?

Jadi gini, dari sekian banyak peran yang aku mainkan di dalam hidupku, sekarang ada 2 peran besar yang aku jalanin dalam waktu yang bersamaan. Pertama, sebagai mahasiswa tingkat akhir yang berjuang untuk mendapatkan gelar Sarjana dengan cara nyelesain skripsi (fiuh, ngetiknya aja bikin merinding disko). Kedua, sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Okee.. skripsi & kerjaan.. It takes two to tango, right?

Capek? Iya. Stres? Iya.. Hal yang awalnya ada di kepalaku adalah:

“ Temen – temen enak ya, bisa Cuma ngerjain proposal skripsi aja, ga pake kerja. Masih bisa hang-out, masih bisa bangun siang, masih bisa santai – santai. Aku gini udah pagi kerja sampe sore, sore masih lanjut ngerjain skripsi sampe malem, blom lagi kalo ada revisi, bimbingan, pagi udah kerja lagi.. auooo.. saya ingin masa mudakuuu!! (note: kata – kata terakhir Cuma tambahan dan memang berlebihan hihihi..)”

Secara jujur aku cerita, aku adalah orang yang gampang panik. Pernah temen yang udah aku anggep kayak kakak sendiri sampe menganugerahkan gelar “Miss Panic 2008” buat aku. Sekarang dalam kondisi kerjaan n pembuatan proposal skripsi, rasanya udah seru.. ngeliat tanggal merah di kalender udah bikin jingkrak – jingkrak. Bisa refreshing rasanya berharga bangeeet..

Tiap hari yang dijalanin, kayak udah ada pattern yang jelas. Pagi kantor, sore pulang, kerjain proposal skripsi. Besoknya juga gitu lagi.. Pikiran kalo pagi full di kerjaan, malem masih terus ON buat proposal skripsi. Jarang – jarang ada waktu nganggur untuk chat sama temen, maen twitter or facebook. Aku ajdi nggak tau gimana kabar temen – temen yang mungkin lagi sama pusingnya ngerjain proposal skripsi. Hal yang aku tau Cuma 1, aku focus sama kerjaan dan proposal skripsiku aku kerjain sebaik-baiknya.

Hari – hari jadinya kerasa cepet, soalnya adaaa aja yang dikerjain. Tiba – tiba udah deadline pengumpulan proposal. Kalo udah ada deadline, nggak lama disusul dengan munculnya jadwal sidang proposal. For your information, di jurusanku, sidang proposal kesannya lebih serem daripada sidang skripsi. Karena di sini dilihat apakah penelitian mahasiswa udah bener nggak fondasinya. Ga heran hari – hari menjelang sidang, temen – temen semua heboh tegang. Semua berharap nggak dapet giliran pertama. Tapi jujur yang aku pikir justru kebalikan : “lebih cepet selesai, lebih baik”.

Aku mengenal diriku dengan sangat baik. Kalo aku ditaruh sidang di hari belakang – belakang, bsia – bisa aku ikutan panic soalnya denger kabar tentang sidang – sidangnya temen – temen. Mungkin bisa baik, bis akurang baik, tapi tetep aja ngebayangin pertanyaan yang muncul, denger cerita mereka, bisa – bisa itu bikin aku malah kepikiran.

Taraaaa..i got the first! Hari pertama, jam pertama!. Hari – hari menjelang sidang, aku masih sibuk di kantor. Sampe rumah juga Cuma sempat baca – baca proposalku sebentar. Perasaanku, aku sudah cukup mengerti arah penelitianku ke mana. Sampai akhirnya sampailah di hari sidang. Singkat cerita, aku keluar dari ruang sidang sambil berurai air mata. Air mata bahagia. Aku lulus sidang proposal, thx God. Sekarang terus maju untuk skripsi.

Hal yang aku tangkap pada hari – hari ini adalah, Tuhan mendidik aku dengan cara yang berbeda. Aku selalu minta untuk dididik dengan cara yang mudah. Aku berharap untuk hal – hal di sekitarku jadi lebih mudah buat aku, hingga akhirnya aku dihadapkan pada dua hal, yaitu kerja dan skripsi yang cukup bikin pontang – panting dan panik. Tapi dari situ aku tahu, aku sedang diamankan olehNya.

Andaiii..aku nggak sambil kerja, banyak waktu yang bisa aku pake untuk twitter, Fb, chat, dan otomatis..aku bisa melihat kekuatiran temen – temen di sekitarku. Dengan aku yang gampang panic, jujur aja hawa – hawa “kuatir” kayak gitu justru bikin aku lebih stress. Bukan berarti aku menyalahkan temen – temen yang kuatir, hal itu masih wajar. Cuma buat aku secara pribadi, itu nggak baik buat diriku hehehe..

Tuhan, sebagai pengendaraku, dan aku sebagai kuda pacuan. Aku lagi dipakaikan kacamata kuda. Kacamata itu biasa dipake supaya kuda ngeliat focus ke depan, dan nggak bingung karena ngeliat kiri kanan nya. Tuhan percayakan kerjaan, supaya aku lebih focus sama apa yang ada di depanku. Aku nggak menghabiskan waktuku untuk memikirkan ketakutanku dan ketakutan – ketakutan di sekelilingku. Yang ada di kepala Cuma kerja, skripis, kerja, skripsi. Istilahnya, aku lebih baik nggak tau apa – apa, daripada aku tau banyak dan itu melemahkanku.

What’s next? Kuatkan kaki, terus maju, dan..terus belajar untuk percaya penuh pada Pengendaraku.



continued to: Putaran Pertama Pacuan Kuda: Pemilihan Pembimbing

Sunday, February 28, 2010

my house. what about yours?



"wuah, rumah ini besar ma.. sayang nggak dirawat"
kalimat itu yang muncul pertama kali ke mamaku waktu kami berdua lewat depan sebuah rumah kuno, naek mobil.
sangking kuno nya dan bener - bener nggak dirawat, rumah itu udah kayak hutan
dari luar keliatan sulur - sulur tanaman rambat keluar dari jendela n pintunya.
rumput - rumput di sana udah nggak bisa dibilang rumput kalo menurutku.
lebih baik disebut ilalang aja..tingginya astaganaga.
padahal kalo diliat - liat rumahnya besar lho, pas di tikungan posisinya.

Sebuah rumah, bisa dibilang mahal ato nggak, memang sih pertama keliatan dari luarnya. misalnya, seberapa besar? rumahnya masih bagus nggak kondisinya? tapi aku juga bisa bilang kalo interior juga menentukan. jangan - jangan rumahnya kecil, tapi interior dalemnya diukir sama seniman terkenal, ato perabotannya yang oke punya. Bisa juga jangan - jangan rumahnya besar, keliatannya mewah, tp ternyata dalemnya kosong.

kali ini aku pengen mengibaratkan diriku sebagai sebuah rumah:
kalo ditanya ukuran rumahnya seberapa, aku mau bilang ukurannya termasuk rumah yang besar. tingkat ga? enggak ah. capek naek turun. jd melebar aja. (oke, kl ini ga ada hubungannya).
kok bisa besar? iya, soalnya ada baanyaaak ruangan di dalemnya
tiap ruangan, punya cerita masing - masing. ada ruang "kuliah", ada ruang "keluarga", ada ruang "love life", ada ruang "senang", "sedih", "bersenang - senang", and banyak ruangan laen.

kalo berdasarkan susunannya, mm.. paling depan pasti pintu masuk dulu. habis pintu masuk, ada ruang tamu. standard. baru habis gitu ada macem - macem ruangan.
semakin ke dalem, ruangan - ruangannya semakin menyangkut hal - hal yang pribadi dan semakin terlihat bagaimana keadaaan seutuhnya dari rumah itu.
nggak jauh dari pintu masuk, ada pintu keluar.

aku memegang kunci dari rumah ini. siapapun boleh sekedar lewat di depan rumah ini. mungkin ada juga orang yang pengen mampir.. nggak masalah, siapapun boleh mampir.
bukan hal yang sulit buat aku mempersilahkan siapapun untuk masuk pekarangan rumahku, bahkan sampai ke pintu masuk. siapapun boleh duduk di ruang tamuku. aku dengan senang hati menerima dan mempersilahkan duduk. dengan senang hati aku bakal nemenin ngobrol..setelah itu? pilihannya ada 2. aq akan mempersilahkan tamu itu untuk masuk lebih dalem, ato..silahkan ke pintu keluar.

siapapun punya akses untuk masuk kerumahku. siapapun boleh maen - maen ke rumahku. rumahku bukan rumah yang cuma boleh didatangi orang tertentu. tapi....
sekalipun orang itu pernah masuk ke rumahku, bukan berarti dia punya akses kemanapun yang dia mau.
ada yang mungkin cuma dapet akses ke 1 ruangan.
ada yang mungkin hanya dapet akses masuk ke beberapa ruang tapi hanya ruangan di bagian depan.
hanya beberapa orang yang bener - bener punya akses ke ruang manapun di dalamnya.
the worst is, sorry.. you might just got the "entrance" n "exit".

salah seorang teman yang bilang kalo rumah miliknya adalah rumah yang tidak mudah menerima orang. tapi saat dia bisa mempersilahkan orang itu masuk, si tamu itu pun bebas melakukan apapun dan bisa memasuki ruang manapun.

yup, rumahku memang punya banyak ruangan. kalo ditanya, rumahnya mahal ga? wuttzz... jelas mahal. aq bilang mahal bukan karena ukurannya yang besar, tapi mahal karena aq punya orang - orang yg aku sayangi untuk memasuki ruang - ruang hidupku.
aq nggak mau rumahku cuma sekedar mahal dari luar, tapi dalemnya kosong. ato rumah yang dalemnya mahal, tapi luarnya bahkan tak tersentuh dan terkesan dingin.
aq juga nggak mau jadi rumah besar, kosong, yang bahkan nggak ada satupun yang menghuni dan merawat.

so, how's your house?

Wednesday, February 24, 2010

Now..you are free to fly..

Free to fly.. in the infinite sky
Flying High.. 'cause nothing will hold you back
Soaring.. for you had learned much since you hadn't been able to fly..

Now you're with the almighty Wings..
Now you are in the best place. Where no more pain. No more sadness..
No more disabilities..

You had done your best parts when you were still here
taught us for not easily giving - up
You colored others world, with your own tone
You even taught me great things, though i didn't see you much

i didn't talk to you much
i just had some chit-chats with you for while
i just texted with you few times
BUT, you told me much. Much more than you knew.
thx for giving me a chance to know you. to bring you some joy though it was not much
thx for giving me a chance to bless you with my presence
to know about you, to know about your life..

Fly freely..no crane papers anymore for you to see. But now, you are a free n soaring..with the Eagle. You are on The Eagle's wings.

in loving memoriam: Agnes.
(read previous post: Crane Paper)

Friday, February 19, 2010

Girl Under The Umbrella


There’s a girl who stands under the umbrella
No matter how bright the sun shines
How the cloudy sky turns to dark
She just stands under the umbrella

The sun says Hi cheerfully to her,
And she’s simply smiling back to answer
When the sky pours its raindrops
She’s just dancing under the rain. Immersing herself.
One thing for sure, her umbrella is still in her palm of her hand
When the rain’s getting harder, she just holds her umbrella tightly
She doesn’t even know how far the rain spreads its drops
She just knows she has to embrace herself,
Facing the rain, under her umbrella

Now it comes for the wind to blow her umbrella away
Soft, gently, calming. Slowly she just starts to be taken off guard
For while, she list her umbrella
Until then she realizes,
She’s not the one who hold the umbrella for her

And I call the girl as “me”

Thursday, February 4, 2010

Crane Paper


Dulu waktu zaman aku kecil, temen - temen cewek sukanya main origami. itu, seni melipat kertas ala jepang. Dari kertas persegi, lipet sana, lipet sini, tiba - tiba "Voila...." jadi burung, kelinci, kodok, buah strawberyy, dan lain - lain..
aku..dari kecil..sampe sekarang, minta ampun buruknya dalam hal kesenian lipat melipat. kalopun jadi, bisa asimetris kiri kanan. mau diajarin, pake kertas petunjuk, tetep aja aku nggak ngerti..bisa jadi,tapi maksa.perlu ada yang benerin.. hahaha..

****

4 Februari 2010, berdua ma temenku, kita meluncur ke rumah seorang cewek. sebut aja namanya A. umurnya lebih muda dari aku, mungkin sekitar 20 tahun. Hal yang beda adalah: aku, di sana, berdiri di sebelah tempat tidurnya. sedangkan dia, terbaring di atas tempat tidur, sambil nonton TV.
Dengan badan yang kurus dan keliatan lemah, dia menyapa ramah kami berdua. Sejak kurang lebih 5 tahun yang lalu dia dinyatakan Leukimia. Dia terbaring lemah di kamar yang berukuran sedang, ada 1 tempat tidur, 1 kipas angin yang menyala tepat menghadap ke dia, 1 televisi kecil untuk menemani hari - harinya, 1 meja + kaca, dan lemari pakaian.

di langit - langit kamar, ada beberapa bintang yang "Glow in the dark". aah aku jadi inget kamarku beberapa tahun yang lalu juga punya banyak bintang "Glow in The Dark", yang terpaksa harus dilepas karena harus pindah rumah.
Selain "Glow in The Dark", ada gantungan origami berbentuk burung bangau, digantung dengan benang, lalu ditempel ke langit - langit kamar dengan isolasi.

Dengan berat badan yang menurun drastis akibat sakit yang dideritanya, hari - hari harus dilewati A dengan terbaring lemah di kamar. Banyak hal yang mau tidak mau harus dia lakukan dengan bantuan orang lain. Berbagai macam perawatan untuk Leukimia harus dijalani, yang pastinya dengan biaya yang nggak sedikit. Untuk bisa dateng, walaupun sekedar ngobrol sedikit, tapi paling nggak aq senang bisa melihat A tersenyum bahagia dengan perhatian dari temen - temennya.

------

aq mungkin nggak bisa bikin origami bentuk burung. sekalipun aku ada kertas petunjuk pun, tetep aja aku salah. aq nggak bisa membantu menghias langit - langit kamarnya dengan origami lain.. tapi aku bersyukur, aku punya Petunjuk yang bisa mengajarkanku kasih, dan aku mau belajar untuk aq mengerjakannya.

Thx to my JC who has given me amazing family, friends, and Direction to know waht love is.

1=10

hari senin, sekitar 1 atau 2 minggu yang lalu, aku dengan semangat '45 bertekad untuk santai - santai di rumah (okee..rasanya kl ini aku ga perlu tekad '45) hihi..
bukan semabarng santai..niat dirumah adalah "bertapa", menyiapkan alat tempur untuk perang (baca: skripsi).
duduklah aq dengan manis di depan laptop, browsing internet, cr inspirasi, baca buku. percayalah, kl cuma nyari topik lewat browsing, bisa lama nemunya. soalnya tiap kali browsing, jadinya malah mampir ke situs macem - macem haha..

aku bukan orang yang suka sesuatu yang spontan. biasanya, aku udah "menjadwal" kegiatan tiap hari apa aja. yes, i'm a well-planned person. Agendaku hr itu : serius and sekuat hati nyari topik, trs sore kluar rumah untuk acara gereja. kalo temen- temen gereja bilang: komunitas.

dengan kesungguhan hati, jam - jam berlalu.. nyari topik, tetep aja kepala buntu. Dari pagi, sampe siang, astagaaa...belom ada bayangan. pas lagi mikir depan laptop (ehem..maksudnya, ngelamun sambil mikir. ato mikir sambil ngelamun?) tiba - tiba:
"centring.." HP bunyi.
Berhubung HP udah serasa nempel di tangan, aq pun cepet baca. ternyata, isinya dari temen lama, yang udah domisili di kalimantan, tepatnya Samarinda. dia ngabarin kl dia lagi di sby. ngapain? kakaknya opname di rumah sakit yang deket (banget) sama rumahku.
Dia minta tolong aku untuk dtg, sama temen2 gereja, untuk doa'in kakaknya. dia bilang secepetnya dtg aja.

pilihan di kepala:
1. bilang enggak. alasan: lagi jaga rumah / lagi sibuk cr topik / bingung hrs ngajak siapa soalnya mepet, temen2 mungkin ga bisa. jadi besok aja, jgn hr ini.
2. bilang iya. alasan: i care about you.

singkat cerita.....
dengan bantuan temen-temen gereja, taraaaa....sampailah aq di rumah sakit. berempat sama temen-temen. Kita dateng, ngobrol bentar, trs berdoa bareng buat kakak temenku.
Pulang dari sana, kita masing - masing lanjut kegiatan masing - masing. tapi kali ini ada rasa lega, seneng bisa bantu temen.

Akhirnya tekad untuk cari inspirasi dilanjutin besoknya, hari selasa.
Ternyataaaa... Selasa temenku kontak lagi, minta tolong aq untuk cari donor darah buat kakaknya. kali ini nggak pake pilihan di kepala, langsung aku pilih untuk jawab: Iya. akhirnya berenam sama temen greja, kita pun ke RS.

Hal - hal kecil, untuk membantu orang, selalu ada di sekitar kita. Antena kita bisa mendeteksi apa dan siapa yang bisa ditolong. sekarang pilihannya hanya kita mau pasang antena kita ato enggak. saat kita jawab iya, mungkin nggak butuh alasan terlalu banyak. cukup 1 alasan: karena aku peduli. karena aku sayang.
Tinggal berikutnya gimana kita menjalankannya.
mungkin saat kita menjalankannya, banyak hal yang harus dilakukan, karena memang perhatian dan kasih sayang, bukan hanya untuk diucapkan, tapi dilakukan.

cukup 1 kata "ya",diikuti dengan (mungkin) 10 tindakan.

My special thanks to:
Angga Prasetya, David Novandi, David Abednego, Hendra Gunawan, Loretha, Fransiska

Tuesday, January 19, 2010

nanti ngapain ya?

waktu kecil kita mungkin sering mengucapkan kata - kata "kalo udah besar nanti, aku mau jadi pilot!", "aku mau jadi presiden", dan banyak cita - cita lain. saat akhirnya kita sudah besar terus gimana?

Minggu 17 Januari 2010

Aku and temen - temen gereja ngadain bakti sosial. ngapain aja? macem - macem, ada yang ke panti asuhan, ada yang ke rumah sakit, trus aku sama sebagian temen sepakat ngadain pemeriksaan gratis.
ada apa aja pengobatan gratisnya? ada periksa tekanan darah, and pengecekan kesehatan tergantung keluhan. habis diperiksa, ada obat - obat yang bisa ditebus sesuai "resep" dari dokter. free.

dimanakah posisiku dlm baksos (bakti sosial) itu?
aha.. aq memutuskan ambil posisi dibagian pendaftaran. Wuuts, bukan tanpa alasan. inilah latar belakang pengambilan keputusan:
1. tugas pendaftaran lumayan "bisa ditangani" daripada aku kebagian bagian pengambilan obat (yang menurutku, aku takut salah kasi obat. bisa panjang ceritanya)
2. kl di pendaftaran, nggak seberapa capek. duduk, nyatet, tanya keluhan apa, salurkan ke dokter.
3. ada bagian yang seharusnya 'beramah - tamah" sama pasien. nah menghindari "mati gaya" karena kehabisan topik, aku ga mau ambil posisi itu
alhasil: aku resmi di bagian pendaftaran. tugas: tanya nama, usia, keluhannya apa.

bagian pendaftaran awalnya ada 3 orang. Hal yang perlu diketahui, stand dokter cuma 1. jadi habis daftar, orang harus antri satu persatu untuk diperiksa. Satu persatu pasien mulai dateng. awalnya yang daftar masih sedikit - sedikit. jadi dari 3 orang pendaftaran, kadang yang sibuk cuma 1.

menit - menit berlalu....
pasien - pasien lain mulai dateng. penuhlah antrian di luar. meja pendaftaran di dalem pun penuh, alias mejaku sendiri.

jadi begini, orang masuk ke dalem, daftar di salah seorang bagian pendaftaran, trs salurkan ke dokter. berhubung stand dokter cuma 1, otomatis...yang udah selesai urusan administrasi sama aku pun harus nungguin di stand - stand pendaftaran, salah satunya stand ku.

habis nyatet nama, usia, keluhan..trus aku mikir , "ngobrol apa lagi ini? mana stand dokter masih lama periksanya.. masak ni diem - dieman?"
menit - menit pertama.... siiiiingggg....krik krik krik... kehabisan kata
"mau ngobrol apa ini..masak cuma liat - liatan sambil senyum - senyum sama pasien?"
akhirnya puter otak, cari topik sampe nemu.. mulai tanya keluhannya dari kapan, kok bisa tiba - tiba sakit di sana, dan laen - laen. Resep supaya bisa ngobrol terus adalah, cari topik apa yang mereka paling suka bahas. Berhubung yang dateng kemaren kebanyakan sudah berkeluarga, mereka suka cerita tentang anaknya, malah ada yang suka cerita tentang cucunya juga.

ada beberapa pasien yang masih berkesan di kepalaku.
1. seorang kakek, inisial J, 75 th. Berkacamata dengan postur tubuh yang kurus banget, dia dateng sambil bawa gelas air mineral kosong (yang aku sendiri nggak tau untuk apa). Waktu itu dia dateng pake celana pendek, baju dengan warna yang sudah memudar, topi warna merah dengan bolong dan sobekan yang kentara di pinggirannya. Singkat cerita, dia cerita kalau sekarang dia tinggal sama cucunya. Proses administrasi hingga "sesi curhat" ini nggak bisa dibilang gampang juga, karena daya pendengaran kakek J juga sudah berkurang. "Saya ini sekarang nggak ngapa - ngapain mbak, bisa apa saya. sudah nggak kuat. paling cuma bisa duduk di rumah. Ya sekarang cuma bergantung sama cucu," ujar kakek J.
hei, tau nggak temen - temen, kakek J ni dulu anggota tentara lho. Di balik tubuh tuanya, kalo ngomong dia masih tegas.

2. lagi - lagi seorang kakek, inisial S, usia sekitar 55th atau mungkin lebih. entahlah, aku lupa. berbadan tambun, murah senyum, masih bertugas sebagai security. Tinggal sama anaknya yang paling kecil. Selain tugas sebagai security, dia ternyata ada usaha permak baju 'n celana.
"Pak, kalo jahit, Bapak yang kerjain sendiri?" tanyaku.
"iya mbak, siapa lagi yang kerja hehe... ya saya nggak jahit yang sulit - sulit. paling cuma permak celana, ganti sleting (mungkin ini cara dia menyebutkan retsleting)," jawab kakek S. tidak lupa, senyum dan tawa rendah selalu memgakhiri setiap kalimatnya. Tidak susah untuk terlibat dalam pembicaraan yang panjang sama kakek S. dia suka cerita tentang kegiatannya.

Apa yang aku dapet dari dua kakek ini?
Aku masih membayangkan kakek J dulu adalah seorang tentara, dengan posturnya yang gagah. Penampilannya pasti keren. Tapi saat akhirnya usia tua dateng ke kita, apa yang bisa kita lakukan sama semua "keindahan luar" itu? kegagahan sudah habis, badan tegap sudah termakan usia, setiap pujian sudah berakhir. Hal yang bisa menjadi kebanggannya saat ini hanya cucunya, yang setia merawat dia.

kakek S, usianya kurang lebih adalah usia pensiun. apa yang dia lakukan? justru melakukan 2 pekerjaan sekaligus untuk bertahan hidup. security: membutuhkan stamina. penjahit: membutuhkan kejelian mata. syarat - syarat ini seharusnya bukan hal yang mudahbagi kakek S. untuk orang dengan seusia dia, mungkin sebaiknya dia banyak istirahat. dari hasil aku ngobrol sama kakek S, kalo dihitung - hitung, jam istirahatnya dia nggak banyak lho. dalam sekali dinas security dia perlu 8 jam. belum lagi kalo dia masih ada tanggungan jahit. "ya saya kalo istirahat paling ya cuma beberapa jam aja mbak," terang kakek S.

***

saat kecil kita berkata ingin menjadi berbagai macam profesi, tapi saat kita sudah besar, saat nya kita kembali menjadi "anak - anak" dan bertanya "nanti kalau sudah tua, aku mau ngapain ya? apa yang bisa aku lakukan sekarang untuk bekal aku tua nanti?"

Bagaimanapun waktu akan terus berjalan. tidak ada yang abadi di dunia, selain perubahan itu sendiri :)